Sabtu, 20 April 2019

Petugas KPPS Di TPS 30 Desa Batukerbuy, Pasean Aniaya Warga Yang Hendak Nyoblos



PAMEKASAN - harianmerdekapost.com. Oknom Guru di salah satu Lembaga Pendidikan Swasta yang juga merupakan petugas KPPS di TPS 30 Dusun Bancek Tengah, Desa Batukerbuy, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan, Umminartik melakukan penganiayaan terhadap Punari (45) warga setempat yang hendak menggunakan hak pilihnya di hari pencoblosan, Rabu 17 April 2019 sekitar pukul 09.30 WIB.


Dari hasil yang dihimpun harianmerdekapost.com, korban saat itu hendak melakukan pemungutan suara di TPS 30, yang berlokasi di area rumah pelaku, Dusun Bancek Tengah, Desa Batukerbuy. Pada saat korban menukar formulir C6 dengan surat suara, tiba-tiba pelaku yang saat itu bertugas sabagai KPPS melakukan penganiayaan terhadap korban.

Sontak, kejadian itu membuat warga sekitar yang ada di TPS 30 Batukerbuy kaget, karena sebelumnya tidak ada motif yang mencurigakan. Akibat kejadian tersebut korban mengalami luka dibagian kepala dan langsung dilarikan ke Puskesmas Pasean untuk mendapatkan pertolongan medis. Saat itu juga, suami korban Slamet al. Pak Yen langsung melaporkan Umminartik ke Polsek Pasean (17/4).

Satgas pemantau Pemilu dari LSM LIRA H. Efran Sani menyayangkan aksi penganiayaan yang dilakukan oknom petugas KPPS tersebut. Pihaknya akan melakukan pendampingan dari pihak korban dan mengawal proses hukum terhadap kasus penganiayaan yang saat ini sedang ditangani Kepolisian. Ia mendesak aparat penegak hukum segera menindak lanjuti laporan dari pihak korban.

"Kami sangat menyayangkan sampai terjadi pemukulan disaat pesta demokrasi. Kami dari LSM LIRA yang juga mendapat rekomendasi dari Bawaslu, akan mengawal proses hukum yang sedang di tempuh oleh pihak korban. Sejauh ini, setalah kami tanya kepada pihak korban tidak ada permasalahan sebelumnya," ujar H. Erfan, Sabtu (20/4/2019).

H. Erfan menambahkan, pihaknya mempertanyakan keseriusan Polsek Pasean dalam menagani kasus tersebut. Sebab, laporan dari pihak korban sudah dilakukan sejak hari kejadian (17/4). Tetapi, pihak pelapor baru mendapatkan bukti laporannya pada Sabtu, (20/4). Ia menyoroti kinerja Polsek Pasean yang baru merespon laporan dari pihak korban.

"Kami mempertanyakan keterlambatan waktu dari tanggal 17 sampai 20/4 baru ada respon dari Kepolisian," tambahnya.

Kemudian pihaknya berharap kepada aparat Kepolisian untuk berkerja secara professional dalam menangani kasus tersebut. Sebab, oknom KPPS yang melalukan penganiayaan itu juga melukai proses demokrasi.

"Kami bersama pihak korban berharap polisi bekerja secara professional, karena kejadian ini melukai proses demokrasi," tandasnya.

Terpisah, Slamet al. Pak Yen ketika ditemui harianmerdekapost.com mengatakan, pihaknya berharap kepada aparat penegak hukum untuk segara mengadili kasus penganiyaan terhadap istrinya.

"Saya minta untuk segera di adili," ucap slamat dengan nada singkat. (Han/Bahri).

0 komentar:

Posting Komentar