Rabu, 06 Maret 2019

Akbar Faisal: Andi Arif Terjebak Narkoba Tidak Ada Hubungannya Dengan Capres O2


Laporan: Sudono Syueb

Harianmerdekapost.com Selama ini Akbar Faisal selalu jadi taming tebal dan benteng besar bagi Jokowi dalam nenjalankan program program pemerintahannya dalam setiap debat di ILC di TV One yang selalu tayang setiap hari Selasa jam 19.00. Siapa pun yang mengkritik tajam pada Jokowi akan selalu "dilawan" oleh Faisal, termasuk melawan Roky Gerung, si Akal Sehat,  yang selama ini mengkritik keras pada kebijakan Jokowi.
Tapi pada gelaran debat di lLC Selasa 5/3 jam 19.00 malam ini, dengan tema Andi Arif Terjebak Narkoba, Pukulan Berat Bagi O2, Faisal Akbar malah mengkritik keras kebijakan Jokowi dalam penegakan hukum pengguna Narkoba dan menyatakan baghwa Andi Arif tertangkap operasi narkoba itu tidak akan berpengaruh apa apa pada paslon Capres no 02. 
"Narkoba adalah musuh kita bersama, kita harus waspada dan menyatakan perang  terhadap peredaran Narkoba. Tetapi pendekatan hukumnya harus diperbaiki", demikian pernyataan Faisal, kader Partai Nasdem, dengan sangat meyakinkan, dalam gelaran diskusi ILC TV One yang dipandu Karni Ilyas, malam ini, Selasa 5/3
   Kalau penegakan hukum narkoba harus diperbaiki berarti ada yang salah dalam penegakan hukum narkoba selama ini, itu berarti aparat hukum yang terdiri dari Polisi, Jaksa, Hakim dan Advokat telah malakukan kesalahan. Kalo salah, dimana letak kesalahannya?
Menurut Faisal, yang juga Anggota DPR RI ini, Kesalahannya adalah banyak terpidana narkoba itu sebagai pengguna narkoba dan itu berarti sebagai korban tapi mereka banyak yang dipenjara lebih dari 4 tahun karena pasal yang disangkakan adalah Pasal 124, yaitu pasal pengedar yang hukumannya paling lama 10 tahun, bukan pasal 127, sebagai pengguna, yang hukumannya maksimal 4 tahun". 
    Pasal 124 UU NARKOTIKA N0 35 Tahun 2009 tersebut berbunyi:

(1) Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum
menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima,
menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau
menyerahkan Narkotika Golongan III, dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual,
membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli,
menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan III
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beratnya melebihi 5
(lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).

   Sedangkan Pasal 127 berbunyi:

(1) Setiap Penyalah Guna:
a. Narkotika Golongan I bagi diri sendiri dipidana dengan
pidana penjara paling lama 4 tahun;
b. Narkotika Golongan II bagi diri sendiri dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun; dan
c. Narkotika Golongan III bagi diri sendiri dipidana
dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun.
(2) Dalam memutus perkara sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), hakim wajib memperhatikan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54, Pasal 55, dan Pasal 103.

(3)
Dalam hal Penyalah Guna sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat dibuktikan atau terbukti sebagai korban
penyalahgunaan Narkotika, Penyalah Guna tersebut wajib
menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
   Lebih lanjut, Akbar katakan, Hal ini diperparah oleh pembela hukum yang disediakan oleh pemerintah itu tidak melakukan pembelaan apa apa2 terhadap tersangka narkoba, tapi lebih banyak diam, sehingga ketika hakim nenjatuhkan hukuman lebih dari 4 tahun misalnya, pembela hukumnya diam saja.
"Padahal tahanan narkoba yang pernah saya kunjungi di Lapas SulSel, ada ratusan tahanan narkoba yang hanya sebagai pengguna dijatuhi hukuman lebih dari 4 tahun. Kenapa mereka tidak direhabilitasi?Sedangkan ada beberapa artis yang terkena kasus narkoba kok direhabilitasi?", tegas Akbar Faisal, seraya meminta kepada pemerintah untuk merehabilitasi para pengguna barkoba, bukan memenjarakannya.

0 komentar:

Posting Komentar