Sabtu, 02 Februari 2019

Reuni, Quo Vadis?


Oleh: Adam Bachtiar

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono)


Harianmerdekapost.com Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada bulan januari.  bersama dengan teman-teman seperjuangan, kami berkumpul bersama. Dalam rangka selamatan atas  kelahiran buah hati dari teman kami yang pertama kalinya. Adalah Acara aqiqah disertai dengan do'a bersama 

Dengan mengundang teman-teman seperjuangan dari latar belakang yang berbeda, tidak membuat kami yang hadir merasa jumawa ketika menyalami sekaligus menyapa satu per satu diantara teman kami yang lainya. Toh pada dasarnya pertemuan ini adalah merupakan pertemuan nostalgia sesama teman perjuangan.
Cuma saat ini dihadirkan dengan suasana yang berbeda.

Sebelum acara dimulai. Obrolan antara teman seperjuangan dimulai. Dimulailah perbincangan itu, sebab sudah lama tak bersua. Dan setiap perbincangan tidak mempunyai sesi ronde alias mengalir saja obrolanya. Krena Setiap pikiran yang pernah berlabuh didalam otak kini menjadi  seremoni untuk di ceritakan. 

Ada yang menceritakan kesuksesannya sebagai pejabat dan abdi negara, ada pula yang menceritakan tentang bagaimana dirinya beristrikan 4 wanita, ada juga yang bercerita tentang anak dan mantunya. Dan yang paling berkesan, ada juga yang pernah menceritakan semasa perjuangan  dengan kawan-kawanya ketika dulu menimba ilmu bersama.

Dimulailah cerita tentang mudahnya lolos ketika ikut tes CPNS kehakiman. Di ceritakan panjang lebar , bagaimana mekanisme dan alurnya, prosedur yang ditempuh dan prasarana yang harus dilalui.
Tentang dipilihnya seorang kawan sebagai calon legislatif. Yang memiliki link yang luar biasa. Yang perjuanganya ditentukan dengan proses kampanye. Dengan cara black camping.
Dan diakhiri dengan cerita perkawinan teman kami yang berhasil memersuting 4 wanita di usia muda ditambah nostalgia ketika bersama-sama mengenyam pendidikan untuk mencari bekal ilmu seadanya.


Dari perbincangan biasa menjadi perbincangan yang luar biasa. Dari perbincangan umum, alurnya menjadi perbincangan khusus. Dari perbincangan candaan menjadi perbincangan penuh kesombongan.

Menceritakan setiap yang pernah dilaluinya. Dan menceritakan seberapa pengaruhnya dirinya dihadapan teman-temanya. Sebagai titik awal bahwa perbincangan ini sudah tidak memiliki subtansi lagi.

Situasi yang kondusif, diawalkali perbincangan dimulai, kini menjadi runyam tak terbantahkan. Padahal awal kali perbincangan hanya bercerita tentang perjuangan dimasa lalunya. Dan hanya sebagai dasar saja. Kini topiknya sudah berganti dan saling claim siapa yang berpengaruh dan menjadi orang yang paling pengaruh diantara temanya.

Ada yang dengan sombongnya menceritakan tentang dirinya sebagai pejabat partai ternama. Yang memiliki pengaruh besar di masyarakat dan memiliki kendaraan mewah kelas dunia.
Ada juga yang dengan sengaja menceritakan kekayaanya seperti fir'aun yang gila akan harta dan jabatan.

Dari perbincangan diatas. Keluputan pun datang, karena terlena-lena dengan profesi dan kesusksesan masing-masing. Kami bingung karena perbincangan itu seolah-olah mengarahkan terhadap perbincangan personal bukan keumataan.

Kami tertegun, karena dari sekian perbincangan, kita lupa membicarakan bagaimana perjuangan ketika sama-sama berjuang dalam menuntut ilmu di wadah yang sama, Perbincangan itu mengalir tapi kosong makna, kami menyadarinya dengan perasaan yang hampa .

Kita diam sejenak.
Merenungakan kebenaran. Mencari teka -teki, 
Ketemulah teka teki itu, hadirlah jawaban itu. Bahwa setiap kegalauan ada alur dan sumbernya. Ada muara yang mengalirinya.
Muaranya saling menyombongkan dan merendahkan.

Akhirnya kita sepakat. Bahwa yang menjadikan kita seperti ini adalah hilangnya kesadaran tentang berkah ilmu dari almamater yang sama.
Tentang perjuangan dari ajaran kiyai dengan muridnya.

Kecintaan dunia menjadikan lupa akan Simbol ajaran keagamaan yang pernah ditempuh bersama-sama. Menyombongkan dirinya.  mengklaim dirinya yang paling benar adalah sebuah tipologi fir'aun. Yang ingkar kepada perintah nabi dan Tuhanya.

Padahal. Bila dicermati. Yang menjadikan mereka berpengaruh tidak lebih adalah berkah dari sang kiyainya. Yang mengajarkan ketawadlhu'an dan keihklasan.

Andai saja kemudian. Pedoman ini diyakini, tak ada satupun yang menyebut dirinya sebagai seorang yang paling berpengaruh. Karena sejatinya yang menjadikan seseorang berpengaruh tidak lebih adalah takdir Allah dan berkah dari Almamaternya.

Maka, keinginan manusia untuk menjadi lnsan Kamil haruslah dijadikan sebagai formulasi bagaimana ia harus berkompromi dengan keadaan, bukan malah sebaliknya. Menantang dan lupa siapa sebenarnya ia.

Tidak melupakan orang terdekatnya, tidak melupakan siapa yang membesarkan namanya, dan tidak melupakan almamater pendidiknya. Adalah bagaian dari tujuan pembentukan karakter dasar. Sebagai bentuk dari hubungan Hablum minnallah dan Hablum minnanas sebagai otentifikasi perbuatan manusia yang memiliki manfaat pada manusia dan makhluq Tuhan yang lainya.(Sudono Syueb/ed)

0 komentar:

Posting Komentar