Minggu, 03 Februari 2019

Puisi Bukhori At Tunisi: Fikir Sehat & Fikir Sakit

By: Bukhori At Tunisi


Harianmerdekapost.com Fikir Sehat & Fikir Sakit

By: Bukhori At Tunisi

Fikir sehat tak kan pernah terjepit, apalagi menjerit.

Fikir sakit, yang akan merintih sakit, karena tak bisa berkelit.

Apatalagi terbelit hutang
Selangit
Rakyat menjerit
Hanyak bisa gigit
jari: Sakit

Bulan tak mau mengintip
Terlilit mendung hitam
Yang menghimpit

Duhai malam
Panjangkan
Aku ingin pulang
Ke pangkuan-Nya
Tuk mengadu nasib
Mau menjerit
Menangis 
Hingga terdengar
Di langit

Rabb
Lepaskan lilitan gurita
Yang membelit
Senyum-Mu
Melenyapkan segala
Kesengsaraan yang melilit
~~~~~


Pencari Makan

By: Bukhori At Tunisi

Pencari makan kan senang
Karena sang Baqarah
Gemuk
Banyak susu
Dan samin

Tertawalah Haman
Karena merasa menang
Dia top, tanpa tanding.

Tapi tongkat Musa
Mengalahkan makar
Sang intelektual
Meski dihiasi indahnya
Nyanyian Samiri

Hanya budak yang terpedaya manisnya
Gincu Samiri
Diadu dengan wazir Sang Pembebas: Harun

Mau?
Mau
Tapi hukuman pasti datang: 40 tahun 
Dalam kungkungan
Hanya 2 pilihan
Manna wa Salwa

Walau bergizi
Tapi Sang Materialis
Bosan
Itu-itu saja.

Pesan Tuhan:
Kembali ke Kota
Kau akan jadi jongos lagi

Merdeka tak mau
Dibelenggu mau
Dasar: Kerbau
Asal kenyang
Lupa Tuhan
Lupa kawan
Lupa semua

Lipak, lali bapak
Libuk, lali ibuk
Linak, lali anak
Lijo, lali bojo
Liwo, lali wong tuwo
Lide, lali bude
~~~~~

Rabb Pun Dilawan

By: Bukhori At Tunisi

Sebaik-baik lawan
Adalah Iblis
Rabb pun dilawan

Ia cedas
Ia pintar
Seribu alasan 
jadi pembenar

Adam dan Hawa
Dibuat tak berdaya
Karena rayuan yang mempedaya

Datang
Pagi, siang, malam, hingga pagi lagi

Kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah
Tiap penjuru
Jadi jurus jitu
Jalan kesesatan

Banyak yang berteman
Dengan Iblis
Padahal berakhir muflis

Nalar, tak waras
Hati, mati suri
Lelaku hanya untuk duniawi

Ada sang pembela
Tapi tak percaya
Namun semua 
Untuk Sang Mulia
Muhammad

Ada yang meluap-luap
Melahab tiap hati yang kalap
Tapi terjerembab
Dalam Neraka Gelap 
Pekat
Api meluap-luap

Sang pejuang
Tak di depan
Ia di kerumunan insan
Jadi motor perubahan
Setan pun takut
Bak Umar Sang Penakluk

Memang tragis
Tapi pembuka manis
Untuk kejayaan
Humanis

Oligarki di babat habis
permisif jadi moralis
Jahil jadi alim
Nomad jadi beradab

Semua: bebas
Futuhiyih
Bahkan sang budak pun
Jadi panglima
Tak tak berserandal
Jadi khalifah
Begitu kata orang Persia

Tak dirundung duka
Ia gembira
Walau terluka

Ia matahari
Yang menyinari
Tak berhenti
Walau gelap menyelimuti

Ia enegi
Bagi anak negeri
Saat semua terlelap
Lalai
Terbuai

Ia sendiri
Tapi itu Amanat Ilahi
Bukan untuk satu sisi
Tapi 
untuk semua anak negeri
~~~~~

Dimana Akal dan Nuranimu?

By: Bukhori At Tunisi

Yang pernah bilang GOBLOK pun, 
sekarang nyontoh haman.
Kok, orang berilmu
DUNGU, kata RG

Di mana akal-mu
Di mana nuranimu
Di mana penglihatan-mu
Di mana telinga-mu

Kau lumpuh
Tak berdaya
Hanya untuk harta,
Tahta, dan wanita

Logika kau mainkan
Tapi nurani tak bisa dipermainkan

Orang bisa kau buai
Dengan kata-kata sakti
Tapi kebenaran tak kan pernah mati
Walau tak terucapkan

Dunia bukan hanya untuk sekarang
Ternyata tak berakhir 
Hanya dengan kematian

Nanti Tuhan menanti
Malaikat Zabaniyah kan menjemputmu

Di hadapan Tuhan
Silahkan kau bersilat lidah
Tapi semua seluruh tubuhmu berkata
Tak bisa dusta

Kau lihat tingkah-mu
Kata-kata mu
Kau malu
tertunduk
Tersipu

Ternyata
Mati bukan akhir
Segalanya(Sudono Syueb/ed)

0 komentar:

Posting Komentar