Minggu, 03 Februari 2019

Obrolan Alumni YTP Past 3: Berpantun dan Berpuisi Tuk Kenang YTP


Disusun: Sudono Syueb

Harianmerdekapost.com Sebagai seorang pendidik dan juga muballigh, kita dituntut untuk bisa ngemong anak didik dan masyarakat agar mereka akrab dengan kita. Untuk itu diperlukan trik trik khusus ngemong mereka agar tidak bosan dengan bimbingan kita. Salah satu trik itu adalah dengan menyelipkan pantun dan atau puisi. 
Maka pagi ini Senin 4/2 skitar jam 04.37 ustadz Amrozi, seorang pendidik dan muballigh alumni YTP,  telah buat pantun untuk mengenang YTP begini:

Pagi-Pagi Minum Kopi 
Campur Ketan Terasa Lezatnya 
Pagi-Pagi Enaknya Mengaji 
Teringat Waktu di Pondok Adanya 

Buat Paspor Syaratnya Ada KTP 
Dari Sini Mungkin Sampai Kiamat 
Bahagia Rasanya Mondok di YTP 
Ilmunya Banyak Manfaat Buat Ummat.

Setelah membaca pantunnya tadz Amrozi, tak lama kemudian pada jam 04.47, syeh Bukhori, yang tinggal di Batu Licin, KalSel, dan piawai buat puisi dadakan, merespon pantunnya tadz Amrozi dengan puisi berjudul Dia, Kau dan Aku:

Dia, Kau dan Aku

Dia yang sendiri
Tiada sunyi, kàrenà Dia berkreasi

Dia sunyi
Tapi Dia tiada lelap dalam tidur
Dia selalu terjaga
Menjaga yang dicipta

Kau tak sendiri
Dia selalu di dekat-mu
Yang setià menemanmu
Sebutlàh !!!!!
Dia kan datang padamu
Kenanglàh
Dia kan ingat namamu
Datanglàh!!!!
Dia kan lari menemuimu
Làrilàh
Dia kan datang  secepàt kilat padamu

Kàu sendiri dalàm sunyi
Tàpi kau tàk sendiri
Masih ada aku, kau dàn Dia

Bangun di saat sunyi
Munàjat 
Berkeluh kesah
Mengadu padà Dia
Dia kan senyum pàdamu
Menemuimu
Memelukmu
Mendekapmu
Dàlàm cinta
Màhabbah

Di saat mentari mulai menémui
Ada aku
Siap tuk menemani
Tapi tak tahu
Gundàh apà yang di hàti

Fikirku
Itu gairah tuk màju
Memikirkan ummàt
Mengapa???

Aku, kàu jugà mereka
Sama
Berfikir tentàng KITA

Masih ada
Àku, kau dan Dia

Lalu pada ham 04.54 syeh Bukhori, yang asli Gresik ini memposting puisinya lagi tanpa judul: 

Mengaji, ikhlas hati
Bak mengukir di atas bàtu
Itulah sàntri
Yang tàk kan lupà 
walau dimakan waktu

Mengaji pada kyai
Untuk menimba ilmu
Santri YTP senang selalu

Doa kyai menghias waktu
Agar santri penuh ilmu
Bermanfaat di setiap waktu
   Lalu satu jam berikutnya, tepatnya jam 05.40, sudonosyueb merespon pantunnya tadz Amrozi sebsgai bentuk kenangan indah kala di YTP berikut ini: 

Ke pasar Babat beli tape
Tape ketan dibungkus daun pisang

Selalu teringat pondok YeTePe
Karena YeTePe beri bekal kita berjuang


Dan pada jam 06.38, sudonosyueb buat pantun lagi:

E~KTP tidak diperlukan di akhirat
Tapi di dunia itu penting sekali

Alumni YTP ditunggu umat
Untuk ikut beri solusi hidup ini

Pujangga YTP, tadz Muttaqin, mensmbahi dua puisinya berikut ini: 

SENI KEBUDAYAAN

Buah Karya : Zainul Muttaqin Sa'i Chalimah Pemuda Muhammadiyah Sedayulawas Dan Pujangga Ponpes YTP Kertosono. 

Duta besar Sastra Malaysia. 
Pasang anugrah Kyai D Zawawi Imron Ulama'-Sastra multitalenta. 
Dari Madura asal kotanya. 
Menyabet Nobel Sastra " CLURIT EMAS " harta budaya. 
" KERIS " Pusaka Jawa. 
Harta budaya Para Raja-raja. 
Sabang-Meraoke Senibudaya berbeda-beda. 
Indonesia kaya raya Budaya Nusantara. 
Aku Putra Muda Indonesia. 
Tajamnya Keris dan Clurit kujadikan inspirasi muda. 
Keris dan Clurit cinta Remaja. 
Dunia " LITERASI " yang menggema. 
Harta Senibudaya era Modern Pustaka..!.


MUTIARA KASIH SAYANG :

Sebaik-baik Anak pernah salah dengan Kedua Orang Tuanya, masa orang tua masih hidup. 
Dan seorang anak tak sanggup membalas jasa/ta'at sempurna dengan kedua orang tuanya tatkala masih hidup. Pasti seorang anak pernah menyakiti hati orang tuanya, walau sebiji atom kesalahan. 
Maka sempurnakan balas jasamu/ta'atmu dengan kedua orang tuamu yang sudah tiada ini, dengan mendo'akan yang menyatu kasih sayang seperti mereka berdua masih hidup. Orang tua cintaku sejati bagi seorang Anak yang sudah menikah, atau belum menikah. ANAK WAJIB MENDO'AKAN KEDUA ORANG TUA!. 

(Rumah Pustaka Zainul Muttaqin Sa'i Chalimah)

   Sementara itu, pada jam 07.18, syeh Bukhori nambahi pantun: 

Mangan tàpe garai kulino
Mangàn bulus ser-ser rasane

Pondok YTP iku nang Kertosono
Nek wes lulus, pinter mestine

E~KTP àkeh dikorupsi
jeruji besi iku penjarane

YTP àkeh santrine
Lulusane, dienteni masyarakat-e

sudonosyueb acungi jempol pada syeh Bu, "Syeh Bu pancen okeee 👌👌👌"

Lalu sudonosyueb mengajak alumni lain ikut nimbrung, "Ayo yg lain nyusul, sambil muroja'ah 🙏😀"

Berikutnya ham  07.26 syeh Bukhori beti tahu bahwa puisi Dia, Kau dan Aku
Itu merupakan respon puisi Malam ini, milik sudono, "Puisi Dia, Kau dan Aku itu respon puisi jenengan Yai", kata Bukhori yang telah menulis beberapa buku ini.
    sudonosyueb membalasnya, " Ou ya ya 👌👌👌"

Berikutnya sudonosyueb menyataka, Lha gara2 KTP ne tadz Amrozi mongko pantuku n pantune syeh Bu do methungul 😀😀😀.
   Sebagai apresiasi puisinya syeh Bukhori: Dia, Kau dan Aku yang merespon puisi Malam ini, sudonosyueb buat puisi lagi judulnya: Sendiri Tak Lagi Sepi

Sendiri tak lagi sepi
Karena Kau ada di sini

Menemani yg sedang galau hati

Sepi tak lagi sendiri
Karena Dia selalu membersamai yg lagi menepi

Galau tak lagi sepi
Karena Kau terus membisiki yg ingin inspirasi
Mengajari yg hendak mengilmui

Maka aku mulai 
Aqrau bismi Rabbii alladzi kholaqoni

Aku mulai mengerti
Bahwa tak ada satupun dabbah yg sendiri
Selalu ada yg menemani 
Di sini
Dan di sana nanti...

0 komentar:

Posting Komentar