Minggu, 10 Februari 2019

Negri yang tandus


Oleh. Ust. Ahmad Darojul Ali

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan Pengajar di Univ. Ibnu Chaldun, Jakarta)


Harianmerdekapost.com Sekitar awal tahun 2000 an, saya di australia selama 6 bulan. Sebuah perjalanan dari sidnay ke Wayong ( sebuah kecamatan  ) jauhnya antara jakarta bandung.


Saya naik kereta 
Sejauh mata memandang kanan kiri tak saya temui rumah reyot dan kumuh. Pemandangan terbalik bila kita naik kerete lihat kanan kiri dari stasion senin sampai pasar turi surabaya. Kemiskinan di negri kangguru ini memang 0%. Tapi pengimis juga tak sedikit di kereta api, meskipun para pengemis berpakaian jas rapi, bagaimanapun mereka tetap pengemis.


Negri ini dalam tatanan ekonomi sungguh maju, jumlah mahasiswa indonesia yang belajar di negri kangguru fantastis.
Disatu sisi kemajuan ekonomi sangat pesat, tapi disisi lain moral agama negri ini sangat mengkhawatirkan.


Tak ubahnya seperti Amerika yang maju bersamaan meninggalkan agama negri kangguru sebuah negara di asia cabang Amerika.


Kegiatan keagamaan sangat semarak, tapi itu urusan masing2. sampai saya nulis ini, umat islam hari raya idul fitri&idul adha tidak libur.


Kemaksiatan sangat terstruktur dan pergaulan bebas menjamur disana sini.
( wajah negara liberal ).

Dalam pengelolaan negara, secara subtansial nilai agama islam justru mengilhami, tepat waktu, kejujuran, etos kerja bisa dibanggakan.
Maka tidak aneh kemiskinan 0%.


Pertanyaannya bagaimana dengan bangsa kita.
Seorang intelektual muslim pernah mengatakan, " al islamu Mahjubun bil mu'minin".
Kemulayaan islam tertutupi kebodohan sebagian umat islam sendiri".

Maka, bila Negara lain maju dalam satu sisi ( bidang ekonomi ) tapi
rakyatnya mengalami kerusakan moral, sehingga tak sedikit para intelektual, generasi muda pada mengalami kejenuhan, ketandusan hati.
Ini karna kemajuan yang diraih dalam format materi belaka.

Maka, bangsa kita sudah spatutnya menguatkan semboyan.
Agama yes..
Negara yes..
Tidak boleh dipisah - pisahkan antara pengelolaan Negara dan Agama.

" Nasionalis relijius, 
Relijius Nasionalis ".(Sudono Syueb/ef)


Salam.
ADA.

0 komentar:

Posting Komentar