Sabtu, 02 Februari 2019

Mencari Kebenaran

Oleh : Dr.
Amam Fakhrur, SH, MH
          
( Alumni Pesantren YTP, Kertosono dan Waka PA Jakbar)

Harianmerdekapost.com Saat  seminar hasil penyusunan buku “70Tahun Pondok Pesantren Ar-Raoudlotul Ilmiyah Kertosono”, salah seorang peserta yang juga alumni pondok pesantren tersebut mempertanyakan  soal logo pondok pesantren yang tertera dalam draft buku sejarah itu. “Saya usul mari kita cari siapa penggambar logo itu, jangan - jangan dahulu gambar logo pondok pesantren ini jumlah bulu di sayap burung, bukan sebagaimana yang tertera dalam draft buku”, demikian usulnya. Ia menyatakan bahwa salah seorang pengurus pondok pesantren yang telah almarhum, ketika masih hidup pernah menganjurkannya untuk bertemu dan melakukan klarifikasi kepada penggambar logo. Menurutnya,  dalam logo burung itu, jumlah bulu dalam sayap kiri dan kanan, bukanlah masing-masing berjumlah  lima, tetapi jumlahnya adalah lima di sayap kiri, dan berjumlah enam di sayap kanan. Wajar terjadi perdebatan dan perbedaan soal fakta sejarah masa lalu, tetapi sesungguhnya  pendapat dan argumen yang berkembang adalah dalam kerangka mencari sebuah kebenaran.

Tentang kebenaran dikenal  ada beberapa teori. Dalam filsafat ilmu terdapat tiga teori kebenaran (theory of truth). Pembaca mengenal teori kebenaran korespondensi, yang menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan adalah benar jika berkorespondensi (berhubungan) terhadap fakta yang ada. Kebenaran atau suatu keadaan dikatakan benar, jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan fakta. Contoh menurut teori ini, jika seorang mengatakan “matahari terbit dari timur”, maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan tersebut bersifat faktual, atau sesuai dengan fakta yang ada bahwa matahari terbit dari timur dan tenggelam di sebelah barat. Telah cocok antara teori dan fakta.

Kemudian teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren atau konsistensi. Suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Contoh sederhana, bila kita menganggap bahwa “maksiat adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT” adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “mencuri adalah perbuatan maksiat, sehingga mencuri dilarang oleh Allah SWT”, sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan sebelumnya.


Berikutnya adalah teori pragmatik .Menurut teori ini benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata bergantung pada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat dan akan dikatakan salah jika tidak mendatangkan manfaat bagi kehidupan manusia. Benar tidaknya suatu dalil atau teori tergantung kepada peran fungsi dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk kehidupannya dalam lingkup ruang dan waktu tertentu. Apa yang diartikan dengan benar adalah yang berguna (useful) dan yang diartikan salah adalah yang tidak berguna (useless). Sebagai contoh dari teori ini, seseorang mencetuskan ide untuk menciptakan suatu alat filter air sehingga menjadi jernih dan hiegenis, kemudian ide tersebut direalisasikan hingga tercipta alat filter air hingga tercipta alat filter air yang dapat digunakan manusia untuk mempermudah dalam memproduksi air bersih dan hiegenis. Maka alat filter air tersebut adalah fungsional dan mempunyai kegunaan. Ide menciptakan alat filter air adalah benar.

Namun di sisi yang lain, berulang kali al-Quran menyebut  kebenaran dengan kata haq, diantaranya yang  tertera dalam surat al-Baqarah,ayat 147, artinya : “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-sekali kamu termasuk orang – orang yang ragu”. Makna  kebenaran di sini dapat diartikan  adalah semua yang “ada”, apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan segala atributnya.  Semua apa yang “ada”  itulah yang datang dari Allah SWT, karena semuanya itu adalah ciptaan-Nya. Di samping itu, kebenaran di sini, adalah termasuk juga wahyu atau Firman Allah SWT yang berupa kitab suci. Dengan kata lain kebenaran itu adalah semua isi alam ini atau alam semesta dengan segala zat yang ada, segala bentuk dan segala sifat  yang melekat padanya. Keberadaannya atau eksisitensinya tidak dapat dibantah atau dinafikan oleh siapapun.  Makanya kita wajib mengakuinya sampai pada tingkat tidak ada keraguan padanya. Bagi saya, keberadaan  pondok pesantren Ar-Roudlotul Ilmiyah dengan segala atribut dan dinamikanya adalah  benar adanya dan ada karena tidak terlepas dari  kehendak-Nya. 

Lantas bagaimana dengan kebenaran jumlah bulu di sayap burung dalam logo pondok pesantren Ar-Roudlotul Ilmiyah yang sempat mengemuka dalam seminar ? Apakah bulu dalam kedua sayap berjumlah lima, ataukah di sebelah kiri berjumlah lima dan di sebelah kanan berjumlah enam ? Mencari kebenaran fakta masa lalu memang tidaklah mudah, dan tim penyusun yang untuk sementara tetap menyimpulkan bahwa bulu dalam kedua sayap burung berjumlah lima, adalah bagian dari dari upaya ( ijtihad ) yang dilakukan untuk mencari salah satu kebenaran yang diturunkan Allah SWT, dengan cara melakukan koresponsi dan kemudian menduga ada kesesuaian antara pendapat yang kini tengah berkembang  dengan fakta sejarah yang masih tersisa. Indrawi yang penuh keterbatasan telah didayagunakan  dengan membaca data yang ada dan dengan melakukan sejumlah wawancara, dengan tetap menyadari kebenaran yang telah diperoleh itu adalah kebenaran sementara, relative, nisbi dan tidak menutup kemungkinan  terdapat kebenaran baru yang akan ditemukan di kemudian hari.

Oh ya, tim penyusun selain menggunakan indrawi untuk  mencari kebenaran itu, juga mendayagunakan rasio dan logikanya.Tim penyusun mempertanyakan, apakah mungkin seorang Kyai Salim Achyar, pendiri pondok pesantren tersebut, yang seorang ilmuwan  telah membiarkan gambar burung yang jumlah bulu di sayap kiri dan sayap kanannya tidak sama, sebagai logo pondok pesantrennya ? Sayap yang tidak berimbang, membuat sengkleh , tidak balance dan akan membuat sang burung tidak kuasa terbang. Logo adalah simbol dan deskripsi penting, ia menggambarkan  isi, visi dan  misi sebuah institusi. Selamat milad ke 70 Pondok Pesantren Ar-Roudlotul Ilmiyah Kertosono, semoga engkau tetap dapat terbang tinggi. _Wallahu a’lam.(Sudono Syueb/ed)

0 komentar:

Posting Komentar