Senin, 11 Februari 2019

Kumpulan Puisi Penyair YTP: Jadilah Harimau. Goresan Jemarimu, Bencans & Terus Melangkah



Oleh: Bukhori At Tunisi

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan UIN SUKA, Yogyakarta)

Harianmerdekapost.com Jadilah Harimau

Jadilah harimau
Kau kan jadi raja rimba
Semua kan lari mendengar aunganmu
Takut berlari tuk sembunyi

Baunya saja, bikin yang lain terbirit-birit

Jangan jadi domba
Kau akan jadi aduan:
Adu domba
Apalagi jadi makanan
Lebih ngeri
Di-sate

Sehari jadi harimau
Lebih baik 
Daripada hidup 1000 tahun tapi dalam ketakutan
Jadi domba

Memang negeri ini
Bukan harimau yang mimpin
Karena harimau gak mungkin jadi pemimpin di kawanan domba-domba

Apalagi domba, mau jadi pemimpin kawanan harimau, tak semenit pun kan dimangsa.
Tamatlah riwayatnya

Negeri ini ada harimau dan ada domba juga binatang lain

Jika ada yang jadi pemimpin di kalangan semua itu, namun bukan harimau, maka pimpinan itu disolek menjadi kaya harimau tapi wujudnya domba,

Jika harimau-harimau sudah mau dipimpin domba, berarti sudah masuk "kebun piaran":
Bonbin dan sirkus

Atau
Harimaunya sudah pada ompong dan kuku tajamnya lepas
Hingga tiada yang takut

Ooohh
Apakah ini negeri domba?
***

Goresan Jemarimu

Oleh: Bukhori At Tunisi

Apapun bentuk goresan jarimu, itu karyamu

Saat Affandi menari-nari di atas kanvas
Orang biasa berkata,
"Gambar apa itu,"

seniman bilang,
"Masyaallah, ada manusia yang punya imaginasi setinggi ini"

Tiap kepala punya bacaan
Tapi tidak sama bacaannya
Bacalah dengan hikmat
Kan kau temukan sejuta ni'mat

Perajin bunga
Tiap hari cari bunga
Tapi bukan bunga biasa
Bunga yang tiada duanya
Bukan bunga desa
Tapi bunga langka

Orang biasa bilang,
'Untuk apa itu?
Alam kan sudah indah"

Yang lain bilang,
'Alangkah indahnya ciptaan Tuhan. Ternyata, banyak yang tidak ku ketahui, banyak bunga nan elok nan mempesona"

Goreskan tintamu
Tak usah hirau
Orang senang
Atau orang menentang
Semua ada pangsanya
Maqam ada di mana-mana
Kau yang di sana
Aku yang di sini

Berbeda itu indah
Bila dirangkai menjadi untaian keragaman
Ketaksamaan
Ternyata menghasilkan
Kekayaan

Goreskan lukisanmu
Di kanvas hamparan alam
Kan kau temukan dirimu
Di sana(Sudono Syueb/ed)
***

B E N C A N A

Bukhori At Tunisi

Sekularis bilang
Bencana hanya fenomena alam
Tak ada sangkut pautnya dengan kemaksiatan
Ia mandiri
Alam beredar sesuai hukumnya sendiri

Agamawan bilang 
Bencana itu hukuman
Karena maksiat pada Tuhan
Ia untuk menyadarkan
Biar beriman

Yang bijak bilang
Bencana tak mutlak hukuman
Terkadang karena bencana alam
Terkadang cobaan

Bukankah kerusakan membuat bencana?
Tak percaya Tuhan pun
Alam murka
Tanyalah pada rumput Ilalang, Ebiet bilang

Tuhan tidak murka
Cuma memberikan pelajaran
Maukah berfikir lalu beriman!!!

Cobaan hanya peringatan
Tapi itu kuasa Tuhan
Kalau kau percaya kausalitas
Tuhan itu Prima Kausa
Kalau Dia Kausa Pertama
Maka karena kausamu
Bencana datang dari Prima Kausa

Coba kau tabur benih
Kau kan menuai
Coba kau beramal bajik
Semua kan baik

Tuhan tidak diam
Tuhan tidak tiduran
Ia terjaga
Ia melihat
Ia menyaksikan

Qudrat-Nya kuasa untuk menyiksa sekarang juga akan datang

Beruntung diberi kesempatan
Ada taubat
Tapi yang baru terlibat
Langsung terkapar, sekarat, Qiyamat

Hukuman tak kenal waktu
Karena tiada waktu bagi Tuhan
Ciptaan-Nya yang punya waktu, karena ia bergerak dalam ruang dan waktu

Tuhan kapanpun bila berkehendak, jadi
Taqdirnya tak menyalahi keadilan-Nya dan kebajikan-Nya

Dia Ilhai
Maha Adil
Mah Bijaksana

Sungguh tak adil sang Ma'ashi, ke sana sini
Sedang yang taat, diperalat

Di dunia ada adzab
Di Akhirat pun ada adzab
Pilihlah ni'mat
Di dunia juga di akhirat
*** 

Terus Melangkah

By: Bukhori At Tunisi

Terus ....
Tak usah takut
Hidup harus direbut
Tapi jangan merenggut
Dengan jalan buruk

Tak usah takut
Nanti anak cucumu tekejut
Mana nenek buyut
Kok gak termaktub
Ngapaian saja waktu hudup
Manfaat harus direnggu

Kalau kau diam saja
Kemunkaran kan merajalela
Karena yang munkar 
Siaran di mana-mana

Kalau diam saja
Kemaksiatan kan merajalela
Karena kemaksiatan
Dilakukan di mana-mana

Kalau kau diam saja
Sekularisme kan merajalela
Karena yang religius
Tak suka bicara, menulis,
dan propaganda

Tulislah
Anak cucumu kan tertawa
Kakek buyutku menulis dan bicara
Tidak diam saja

Tuhan nanti kan bertanya
Ngapaian diam saja
Sementara, kemunkaran di mana-mana

Mana iman-mu?
Di dada
Itu munafiq

Mana iman mu?
Di mulut
Itu fasiq

Di mana imanmu?
Di hati
Itu kaum batini

Di mana imanmu?
Di hati, mulut dan jawarih

Tuhan berkata,
Itulah iman sejati
Masuklah kesana
Ke Jannati(Sudono Syueb/ed)

0 komentar:

Posting Komentar