Jumat, 08 Februari 2019

Kumpulan Puisi Alumni YTP: Sang Lentera Zaman (Jawaban atas Puisi Pemulung Tua 1 oleh Sudono)

Oleh: Bukhori At Tunisi

~~~~~~

Sang Lentera Zanan

Harianmerdekapost.com Dari serakan itu, dikumpulkan
Guratan di atas pelepah daun kurma, kulit binatang, tulang-belulang, batu lempengan, phyrus, dan apa pun yang bisa digurat dengan qalam
Itulah qirthas

Umar yang 'abqari
Cerdas brilian
Ada usulan
Ide cemerlang
Kalam Allah ditadwinkan
Sang Khalifah pun gamang, takut bid'ah

Sang lentera zaman tetap tegak pada pendirian
Istiqamah, juga munajat pada Yang punya Qadrat
Yamamah merenggut pulahan huffazh

Khalifah pun sadar
Ide brilian itu sangat rasional
Untuk dzurriyat dan asbath
Biar tak khilaf dan ikhtilaf, apalagi muqatalat

Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka'ab dan banyak sahabat, semua terlibat
Untuk mashlahat 

Jadilah mushaf itu
Tak lama 
Terjadilah ikhtilaf
Masalah qiraat

Sang Dzun Nurrain
Mentadwin kembali biar tidak khilaf
Jadilah mushaf Utsmani
Berdadar Mushaf di tangan Ummul mu'minin Hafsah binti Umar 

Atas fikrah al-Imam Ali
Diberilah tanda
Imam Abul Aswad al Du'ali membuat
Al Khalil melengkap

Orang kerdil fikir berfikir
Apa itu?
Untuk apa itu?
Tiada guna tiada manfaat
Tapi,,,,,
Orang bijak berkata,
"Nyamuk pun berguna"
Kata Rabb Mereka

Doeloe diketawai
Sekarang ditangisi
Kenapa tak sedari dini
Bak jejaka dan perawan
Yang menyesal tiada kepayang
Mengapa tidak nilah dini
Bak Pujangga yang selalu menanti

Dari serakan itu
Menjadi emas mutiara
Jutaan mata menatap
Miliaran mata melihat
Triltunan lembar tak memuat
Kata Ilahi
"Itu pun satu tetes, andai air laut jadi tinta, pohon jadi pena. Semua habis, ilmu-Ku tak kan habis tertulis"

"Sampah-sampah" itu tiada guna," kata orang bodoh
Dipungut, jadi pengusaha kaya, bahkan Alya Rochali pun jadi istrinya

Orang mencibir, apa itu
Saat tiada, baru terasa
Air mata mengalir deras tak terasa
Sungguh berharga tiada tara
Kini tinggal nestapa
Tapi penyesalan tak berguna

Tataplah masa depan
Tulis sejarah-mu
Ukir namamu
Kan dikenanag sepanjang waktu
Agar tiada tangisan kedua
Biar aabath dan dzurriyat melihat
Ada turats yang digurat
Di atas pualam nang penuh hikmat

Hikmah itu barang hilang dari orang mu'min
Pungutlah
Kau kan selamat

Akhlak Itu Kebiasaan
(Jawaban atas puisi Akhlaqnya yai Ihsanuddin)

Oleh: Bukhori At Tunisi


Akhlah itu kebiasaan
Dari biasa menjadi terbiasa
Kata Tuhan melalui Rasul-Nya:
"Tiap orang dimudahkan karena kebiasaan yang dilakukan"

Biasakanlah bijak kan kau temukan hikmat
Biasakanlah berfikir
Kau kan jadi pemikir
Biasakanlah munàjat
Kau kan jadi ahli Ibadat

Kini
Akhlakmu goyah
Terkena terjangan ombak syahwatiyah
Ternyata Iblis tiada tidur
Ia bangun dan sadar
Biar surga kosong
ada teman di neraka Saqar

Bertika orang menjadi ethis
Dari ethis jadilah etos
Ethos itulah yang menjadikan manusia beradab dan berhadlarqh
Jahiliyah menjadi madaniyah

Ummat pun tak jadi runtuh
Karena beradap itu membangun
Tak berakhlak kan saling menghancurkan
Karena saling cari keuntungan dan kemegahan
Tapi saling menusuk 
Saling mematikan

Ethos itulah yang membuatmu punya epos sejarah
Epik historis nan melegenda dan mensejarah

Akhlak membuat-mu
Abadi hingga Kiamat

0 komentar:

Posting Komentar