Sabtu, 09 Februari 2019

Kumpulan Puisi Alumni YTP: MARI BELAJAR SEJARAH, MAHALNYA AKAL & MELARAT TERUS



Buah Karya : Zainul Muttaqin Sa'i Chalimah Pemuda Muhammadiyah Sedayulawas Dan Pujangga Ponpes YTP Kertosono. 


Harianmerdekapost.com BELAJAR SEJARAH

Qobil dan Habil riwayat perpecahan cinta. 
Kota Saba' potret ambruknya sebuah Negara. 
Pemicunya ketidak harmonisan rumah tangga. 
Bahasa Islamnya tidak mensyukuri nikmat dari-Nya. 
Dan mana yang salah dan yang benar, jawaban ilmu hanya faktor tidak sehati berjalan koridor sempurna bersama. 
Akibatnya sejengkal melangkah patah cita. 
Meniadakan penjiwaan di sini saudara. 
Di sana saudara. 
Melupa kehidupan menjadi keabadian berjiwa saling melengkapi kekurangannya. 
Bahwa bernama manusia harus bersama-sama. 
Bila sejiwa dengan ilmu yang luas Rohmatan Lil'alamin tiba. 
Adil makmur sentosa.


MAHALNYA AKAL

buah Karya : Zainul Muttaqin Sa'i Chalimah Pemuda Muhammadiyah Sedayulawas Dan Pujangga Ponpes YTP Kertosono. 

Kekayaan kejayaan tertinggi. 
Tidak....?!. 
Jabatan kejayaan tertinggi. 
Tidak....?!. 
Jutawan dan Pejabat minim ilmu banyak. 
Keilmuwan kejayaan tertinggi. 
Iya....?!. 
Maha ilmuwan + kaya dan menjabat bagai Nabi Sulaiman as rakyat makmur nyenyak. 
Sekali lagi ilmu kunci inti. 
Merusak dunia dan manusianya berkeping-keping dengan ' ILMU ' itu ini. 
Membangun dunia dan manusianya seperti hidup di Syurga dengan ' ILMU ' itu ini. 
Nasib bahagia dan menderita tergantung Sopir dan Penumpangnya hidup ini. 

Kekayaan dan Jabatan tak khayal bin salabin bisa, banyak cerita di Negeri ini. 
Keilmuan khayalan bin salabin bisa karena ada undang-undang akal berproses, setelah Pakar jangan tanyak...!. 
Dunia akan makmur abadi khususnya Indonesia yang di hati.


KEADAAN MELARAT TERUS

buah Karya : Zainul Muttaqin Sa'i Chalimah Pemuda Muhammadiyah Sedayulawas Dan Pujangga Ponpes YTP Kertosono. 

Cerita haus dan lapar. 
Badan mengurung kepala tak pintar. 
Tangan sudah mungil gemetar. 
Semangat kejantanan nan kebetinaan samar memudar. 
Ingin karir susah benar. 
Hidup hanya sekali gulung tikar. 
Penonton saja dengan orang-orang pintar. 
Salahnya sendiri tak keluar. 
Hijrah belajar......

Cerita haus dan lapar tidak ikhtiar.....
Haus dan lapar masal agenda sistemik Penjajah demi cita-citanya tenar. 
Tenggorokan haus nan perut lapar salahnya sendiri tertipu politik musuh yang radikal.(Sudono Syueb/ed)

0 komentar:

Posting Komentar