Sabtu, 02 Februari 2019

KH. Mustain Kastam: Para Santri YTP Harus Selalu Memberi Manfaat

Penyusun: Sudono Syueb

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono. Sekarang Pengajar di Fikom Unitomo, Surabaya)


Harianmerdekapoost.com Sejak siang tadi mendung memsng sudah bergelayut di atas langit Sidoarjo. seolah menutupi seluruh langit. Tak lama kemudian, sebelum adzan Asar, hujan turun lumayan deras. Saya dan kelurga ke masjid naik motor sambil berpayung untuk jamaah sholat asar. Selesai sholat, hujan mulai mereda tapi masih merintik rintik sampai tulisan ini buat jam 17.00 masih terus merintik.
Selesai dari masjid, saya buka wa Ar Raudhotul Ilmiyah (AI), ada postingan masuk dari gus Amam, sekitar jam 15.22, dengan nada tanya secara retoris, Simbol / Alumni , siapa yang paling berpengaruh ???
   Tanpa menunggu jawaban dari anggota gwa AI, gus Amam menjawab sendiri sambil kelakar, 
 Ketua happri seumur hidup,πŸ˜€ Kyai Samik

   Selang satu menit kemudian, tepatnya jam 15.25 gus Adam Bachtiar merespon, Kyia samik. Jawaban paling otentik.

Lalu satu menit betikutnya, skitar jam 15.26, gus Amam memperkuat respon gus Adam, kata gus Amam, Raono bantahan blas...dari penjuru manapun.

Peneguhan gus Amam diperkuat lagi oleh gus Adam 11 menit berikutnya, tepatnya pd jam 15.37, dengan pernyataannya,  @⁨Kyai Samik Bismillah, dadi sak lawase
   Pada kisaran jam 15.40, gus Anam menimpali, Seumur hidup, masih perlu tafsir.   
   Lantas pada jam 15.41 gus Adam menambahi, Kata pak yai Arif  al lmroni, Tafsirnya, Setelah mati, masih ada kehidupan lagi.
   Seolah berfilsafat gus Amam, pada jam 15.43, menambahi, Ada orang yang hidup tapi sebenarnya _mati_ dan  ada orang yang telah mati, tetapi sebenarnya hidup.

Lalu pada ham 15.45 syeh Bukhori ikut nimbrung, Iku jero πŸ˜„

Merasa umpannya direspon syeh Bukhori, lantas pada 15.47 gus Amam sambil tetingat Kyai Tain, manambah, Hidup = Memberi kemanfaatan.
Kyi Musta'in Kastam...sering banget menyebut agar santri memberi manfaat.

Pada kisaran jam 15.49, gus Adam masuk lebih jauh, Seperti simbol, ada yang sebenarnya hidup dan ada yang sebenarnya  mati. 

Lantas. Kalau sayapnya hilang satu. Apa simbol itu masih hidup.

Kemungkinan. Iya. 
Kata prof amam, kalau sayap ilang satu berarti sengkhle.

Apan wes gak imbang. Berarti cicir. Pan wes cicir Yo akhire mati.

Begitukah

Sampai pada detik 15.49 itu, perbincangan tidak merujuk pada figur, walaupun pada awalnya menyebut ketua HAPPRI, tapi lebih pada konsep konsep hidup dan simbol saja.

Dua  menit betikutnya, tepatnya jam 15.51 gus Amam merespon pernyataan gus Adam, Iso malapetakaπŸ˜€atau sekedar kemanfaatan yg tidak maksimal ( pol ).

Pada jam 15.54 gus  Adam menambahi sambil bertanya,   Adanya simbol, apakah mempengaruhi kiprah dari alumni.

Seperti simbol banteng di PDIP, seperti Simbol pohon beringin di partai GOLKAR?

Pada ham 15.56 gus Amam  meyakinkan bahwa Politik identitas seringkali diperlukan.

Pada jan 15.59 gus  Adam menimpali, Seperti yang dilakukan kang Moeslim. Menyampaikan dengan bangga bahwa ia adalah Alumni. Meski ranah yang ditempuhnya berbeda dari kebanyakan alumni

Pada ham 16.02 Diem diem sudono syueb ternyata mengikuti dialog antara gus Amam dan gus Adam itu, pada jam 16.02, sudono nimbrung, tapi balik pada topik kematian, Godong garing. Belum selesai sudono menulis, gus Amam nyambung,  Sy kira begitu. Identitas, atribut seringkali penting. Klo nggak salah ada hadits..larangan berbaju warna kuning, mungkin itu adalah politik identitas yg diperlukan ketika itu.

Masih pada 16.02 sudonosyueb melanjutkan postingannya, 
Godong Garing 
Lepas dari ranggasnya
Jatuh gontai
Menuju pembaringan sementara
Tuk sejenak istirah
Sambil menunggu sangka kala berbunyi
Menuju sangkan paraning dumadi.

Karena respon kematian dengan simbolisasi godong garing yang diajukan sudono sudah lewat, maka ga ada yg respon. Lalu pada jam 16.06 sudonosyueb ikut nimbrung bicara simbol, Kita ini hidup dalam bingkai simbol simbol. Diperlukan kecerdasan memaknai simbol2 itu. Gagal memaknai simbol, gagallah komunikasi sosial kita. Termasuk gagal komunikasi politik kita. 
Setiap warga bangsa sll punya identitas nasional.
Punya jati diri
Tanpa identitas, mereka jadi loss nations, bangsa bangsa yang hilang. Tetapi para musafir dakwah selalu bilang,
Dimana bumi dipijak
Dan langit dijunjung
Itulah tanah air saya

Pada jam  16.34 gus Amam meneguhkan tentang adanya atribut kombinasi, Atribut tidak selalu berdiri sendiri, seringkali kombinasi dari budaya orang lain ( sebelumnya ).
Lonceng penjual es...itu dahulu  pakem atribut gereja.
Kuba masjid, itu dahulu warisan arsitektur pendahulu kafir yg menjajah palestina.

Lalu pada jam 16.35 gus Amam merespon potingan saya tetang langit sambil tertawa,  "Sebaiknya 7 langit dijunjung semuaπŸ˜€"

sudonosyueb sedikit kembali pada atribut yang diprodukdi gus Amam. 
Kata Dono, Para sosiolog menyebut peristiwa bertemunya berbagai atribut dunia menjadi simbol lokal itu sbg akulturasi

Pada 16.41 sudonosyueb kehilangan syeh Bukhori dan berujar, Kadingaren syeh Bu belum nongol...
Tapi yang dicari, syeh Bukhori belum nongol mungkin sibuk, maka, sudonosyueb malanjutkan, syeh Bukhori Lagi ngedit buku baru yak e? Yang dicari cuma ketawa πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

sudonosyueb menutup sementara diskusi ringan dengan menyitir QS Nuh:   "Alam taro kaifa kholaqollahu sab'a samaawaatin thibaaqo (QS Nuh: 15)
πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

0 komentar:

Posting Komentar