Kamis, 07 Februari 2019

"Karna Cinta Aku Datang"


Oleh: Ahmad Darojul Ali

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan Pengajar di Univ. Ibnu Chaldun, Jakarta)


Harianmerdekapost.com Beberapa bulan yang lalu, adinda Hamid ( adik kelas ) di kampus meminta saya selaku Ketua Lembaga Pengkajian Universitas Ibnu Chaldun untuk mengisi ceramah di kampung halamannya.

Saya dengan cepat bialang, siap adinda. 
Kampung yang dimaksud adalah di pulau ambalau dekat pulau Buru tempat pembuangan mantan anggota PKI di ambon.


Setelah waktu tiba, berangkatlah kami bersama Ketua Yayasan Pembina Pendidikan Ibnu Chaldun H.Edy Haryanto, SH.MH. dan putranya.
Bersama kami pula pejabat Kemenpora 2 orang karna bersamaan mengadakan acara yang sama, ditempat dan waktu yang sama. Tentu dengan Adinda Hamid.


Hampir 4 jam dari bandara SUTA sampai bandara ambon.
Kami semua turun lalu menginap semalam di kota ambon.

Paginya kita kebandara lagi naik pesawat cukup berukuran kecil menuju pulau buru.
Setelah turun pesawat dijemput shohibul bait naik mobil beriringan bak pejabat besar dari jakarta.
Tak lama mobil pelan dan semua penumpang keluar.
Saya bersyukur alhamdulillah sudah sampai sepertinya.


Ternyata batin saya salah 200%.
Kita turun diminta naik perahu/spit dengan ukuran kecil.


Disitu saya muncul perasaan hati.
Oke, sampai disini biar yang lain naik spit. Tapi hati saya berkata lagi.
Masa penceramah gak jadi ceramah karna takut nyebrang laut ?


Terus terang saya memang gak senang dan gak nyaman lihat air laut dan ombaknya yang menggelegar.


Akhirnya saya takbir..
Allahuakbar..
Allahuakbar..
Allahuakbar..
Rombongan pada lihatin saya , dan pada nanya ada apa pak Ustadz ?
Saya jawab.
Gak ada apa..
Padahal saya lagi mompa semangat.

Naiklah semua dan saya juga di spit yang kecil itu.
Baru masuk agak ketengah laut mesin spit mati satu ditengah ombak laut Banda.
Lalu spit diputar balik dan diperbaiki dipantai.
Saya teriak.
Pak , memang gak ada kendaraan yang lain agak besar dan bagusan ?
Petugas pemda pulau buru ( Namrole ) bilang, ini kendaraan terbagus Ustadz yang menuju pulau ambalau.
Kontan saya bilang innalillahi wainna ilahi raojiun.

Setelah bagus mesin lalu berlayar lagi.
Subhanaallah hujan turun, ombak laut banda setinggi rumah.
Spit terimbang ambing ombak dasyat.
Sekali saya tanya ke pengantar, berapa menit lagi kita sampai pak ?.
Bilangnya sebentar lagi tapi gak nyampai - nyampai.


Dengan ombak tinggi itu akhirnya putra ketua Yayasan muntah2.
Saya ikutan juga.
Saya tarik ketua yayasan maksud saya biar menolong anaknya diam seribu basa.
Ternyata semua menahan muntah.
Pejabat dari kemenpora sama.

Disitulah saya pasrah.
Ya Allah bila akhir hidup saya memang disini saya ihlas.
Lalu saya pejamkan mata.


Beberapa menit atau setengah jam ada yang teriak.
Pulau kelihatan..
Pulau kelihatan.
Pulau kelihatan..

Dan lama2 ombak agak kecil.
Alhamdulillah.
Tapi saya dah niat bila sampai darat saya mau tidur minum obat.
Gak mau ceramah.
Pulang kejakarta lagi kapan aja.
Yang penting jangan nyebrang laut Banda.


Tiba2 spit agak mendekat bibir pantai pulau ambalau.
Dibibir pantai lautan manusia menyemut, ternyata mereka menjemput tamu yang akan ceramah.
Sesampai darat sambutan luarbiasa, anak2, dengan tarian islami, anak2 muda, orang tua terlihat bahagia.


Niat mau tidur minum obat dan gak  mau cetamah
Berobah total.
Darah cinta membara.
Darah cinta sesama muslim anak  negri yang luas dan mempesona.(Sudono Syueb/ed)

Salam.
ADA

0 komentar:

Posting Komentar