Senin, 04 Februari 2019

JAMUS KALIMASADA


Catatan : Ihsanuddin 

(Alumni Ponoes YTP, Kertosono, Nganjuk)


      Harianmerdekapost.com Perjuangan para waliyullah di tanah Jawa memang seakan tidak mengenal lelah , langkah yang ditempuh adalah  da'wah Bil khikmah dan mauidhoh khasanah , jadi menitikberatkan pada Amar Ma'ruf.

     Semenjak berdirinya Kasultanan Demak Bintara, dan pangeran Lembu Kenongo atau Pangeran Jimbun , atau Raden Fatah dinobatkan sebagai Sultan Demak oleh Walisongo, Islam semakin banyak diterima baik dikalangan rakyat kecil maupun pejabat-pejabat kerajaan.

     Lembu Kenongo atau Raden Fatah adalah salah satu putra raja Majapahit, Prabu Brawijaya V dari garwo selir (Putri Campa) pemeluk Islam.
Sejak kecil Lembu Kenongo diasuh oleh Aria Danar  saudaranya lain ibu.
Aria Damar sudah lebih dulu memeluk Islam, oleh sebab itu Lembu Kenongo sudah mengenal Islam sejak remaja. 

     Karena Prabu Brawijaya memperistri Putri Campa yang beragama Islam, banyak punggawa kerajaan yang kurang senang, salah satunya adalah ; *Pujangga Anom Ketut Suryongalam (Ki Ageng Kutu) dari Wengker (Ponorogo).
Ki Ageng Kutu mendirikan perguruan Waroan, mengumpulkan kaum muda yang bertubuh kekar untuk dilatih olah Kanuragan .
Dan untuk mengkritik Prabu Brawijaya, Ki Ageng Kutu menciptakan kesenian Barongan yang sekarang terkenal dengan seni Reog, yang terdiri  ; Topeng kepala harimau dan diatasnya ada burung Merak yang mengembangkan bulu ekornya yang indah.
Topeng kepala harimau gambaran prabu Brawijaya, burung merak gambaran putri Campa.
Jadi prabu Brawijaya  di tunggamgi oleh Putri Campa, atau prabu Brawijaya tunduk sama perempuan.
Sedangkan laki-laki  bertopeng merah dan banyak tingkah adalah gambaran dirinya sendiri yang seakan ingin melawan prabu Brawijaya.
Dibelakang Reog , muda-mudi menaiki kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang), dengan model kebanci-bancian, sebagai gambaran prajurit Majapahit yang sudah dianggap luntur keberaniannya.

     Dengan kritik yang terus-menerus di tampilkan oleh Ki Ageng Kutu itu, prabu Brawijaya tak pernah menanggapinya.
Kasultanan Demak tidak ingin Majapahit direndahkan hanya oleh seorang punggawa, maka berangkatlah Sunan Kalijaga bersama Ki Ageng Mirah , mencoba melakukan investigasi terhadap keadaan Wengker (Ponorogo).  Dan hasilnya diketahui kalau Pujangga Anom Ketut Suryongalam (Ki Ageng Kutu)  adalah Demang yang paling berpengaruh di Wengker dan sekitarnya, sepertinya sedang mempersiapkan kekuatan.

     Penguasa Kasultanan Demak mengirim adik kandungnya Lembu Kanigoro didampingi murid Sunan Kalijaga yang bernama Selo Aji bersama 40 santri senior berangkat menuju Wengker untuk mengabarkan tentang Islam, dan sekaligus menyadarkan Ki Ageng Kutu, untuk tidak mbalelo pada Majapahit, purbowaseso diserahkan sepenuhnya kepada Lembu Kanigoro.

     Mengingat wilayah Wengker dan sekitarnya penduduknya pemeluk  Hindu, Buddha. animisme , dinamisme dan kepercayaan lain, maka Lembu Kanigoro mengganti namanya menjadi Batara Katong. Sebab dikhawatirkan kedatangannya mendapat hambatan atau menimbulkan gejolak pada masyarakat umum.
Berkat sebutan Batara inilah Lembu Kanigoro dengan mudah masuk ke kawasan Wengker, karena orang-orang disana menganggap Batara Katong atau Lembu Kanigoro adalah seorang dewa.

      Pertemuan antara Batara Katong dengan Ki Ageng Kutu (Demang Wengker ) tidak menghasilkan kesepakatan, dan satu-satunya kesepakatan yang dicapai hanyalah mereka berdua harus perang tanding.  

     Perang tanding antara Ki Ageng Kutu melawan Batara Kantong sampai berhari-hari , namun belum ada yang kalah maupun yang menang.

Dalam perang ada cinta

      Dalam suasana yang seperti itu, rupanya ada juga yang diam-diam jatuh hati pada Batara Katong, dia tak lain adalah putri Ki Ageng Kutu sendiri bernama Niken Gandini.
Menurut perhitungan Batara Katong, perang tanding yang tak kunjung selesai ini ,dapat dipastikan kalau Ki Ageng Kutu memiliki pusaka yang sangat di andalkan, maka Batara Kantong mengambil kesempatan ini untuk memanfaatkan Niken Gandini. Animisme, Dinamisme maupun Hindu, menggantungkan diri yang berhubungan dengan kesaktian, maupun kewibawaan kepada benda bukanlah hal yang aneh. Oleh sebab itu Batara Kantong mengatakan kepada Niken Gandini " Akan mengimbangi cintanya, asal  Niken Gandini bisa menyerahkan pusaka ayahnya yang bernama Koro Welang kepadanya".(Batara Katong).

      Cinta, asmara, hal alami yang unik, yang dapat hinggap melekat pada hati siapa saja, tidak mengenal  status pangkat, derajat maupun sosial manusia.
Niken Gandini rela menyerahkan pusaka andalan ayahnya, kepada Batara Katong demi terbalaskan cintanya.
Perang tanding antara Ki Ageng Kutu melawan Batara Katong pun dilanjutkan, tapi tiba-tiba Ki Ageng Kutu menghilang setelah merasa jika senjata andalannya (Koro Welang) tak lagi ada dalam genggamannya.
Untuk menghindari kemarahan orang-orang yang setia pada Ki Ageng Kutu, maka Batara Katong segera mengumumkan kepada masyarakat Wengker kalau Ki Ageng Kutu telah muksa, dan karena masyarakat mempercayai kalau Batara Katong adalah manusia setengah dewa, maka merekapun percaya dengan apa yang disampaikannya.

     Sepeninggal Ki Ageng Kutu, Batara Katong  bersama  pengikutnya dan dibantu oleh para warok membabat hutan untuk dijadikan pemukiman , yang sekarang Dusun Plampitan, kelurahan Sentono kecamatan jenangan.
Selanjutnya atas kesepakatan Ki Ageng Mirah , Selo Aji , dan sesepuh yang lain, disaat penobatan  Batara Katong sebagai Adipati, dan sekaligus memberi nama Kota yang baru didirikan dengan nama : 
     Pramana Raga  atau Prana Raga yang akhirnya sekarang menjadi Ponorogo, dan " Batara Katong sebagai pendiri dan sekaligus sebagai Adipati yang pertama , maka diboyong pula ke Ponorogo  permaisuri Batara Katong  Niken Sulastri , kakak Warok Suromenggolo.

     Sementara itu , kesenian reog ciptaan Ki Ageng Kutu, tidak dilarang, cuma simbul-simbul perlawanan dihilangkan, dan seni reog di abadikan sebagai kesenian asli Ponorogo , dan sejarah Reoq didasarkan cerita rakyat :Kelono Sewandono dan Dewi Songgolangit.
Begitu juga masalah Warok.
Warok masa Ki Ageng Kutu banyak diajarkan ilmu Kanuragan yang bersifat menyerang, dan dimasa Batara Katong , ilmu Warok disesuaikan dengan ajaran Islam, yaitu selalu menjaga dan berhati-hati dalam menjalankan hukum Islam, serta menjadikan Warok Suromenggolo sebagai penunggul para Warok.


     Dengan  prinsip sabar dan Istiqomah, Lembu Kanigoro yang bergelar Batara Katong, berhasil memadamkan titik api di Kademangan Wengker.

فإن مع العسريسرا.  وأن مع العسريسرا.
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan" "Dan sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan".
(QS. Al Insyiroh 5-6).(Sudono Syueb/ed)

0 komentar:

Posting Komentar