Senin, 18 Februari 2019

Ekologi Tanah Tegal Lamongan Pantura


Oleh: Sudono Syueb

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono sekarang Pengajar di FIKOM, Unitomo, Surabaya)

Harianmerdekapost.com Pada umumnya, secara sosiologis, struktur sosial, budaya dan karakter masyarakat dipengaruhi oleh Ekohistorikal. Sedang ekologi wilayah didominasi oleh Ekologi Tegal, Sawah, Rojo Koyo, Laut/Tambak dan Pasar. 
   Tipe ekologi tegal inilah yang membuat pertanian di di lndonesia, khususnya di Lamongan Pantura menjadi unik dan mempunyai kekhasan tersendiri. Ekologi tegal ini juga memengaruhi struktur sosial masyarakat, dan nantinya akan berpengaruh terhadap jalannya sejarah masyarakat Lamongan Pantura

Tanah tegal sangat bergantung kepada curah hujan, hal inilah yang membuat tanah di Lamongan Pantura tidak cocok ditanami padi. Cocoknya tanaman Polowijo seperti kacang tanah, jagung, lombok, ketela pohon/kaspe dll. Untuk kacang tanah dari tanah tegal ini bentuknya lebih kecil, satu polong biasanya mayoritas isi 2,  kadang ada yang isi 3 dan 1. Warnanya agak coklat dan rasanya gurih. Makanya kacang tanah tanah tegal dari Lamongan Pantura sangat dicari oleh pengusaha kacang gareng dari Lamongan dan Tuban. Para pembuat bumbu pecel dan pengusaha warung pecel, biasanya cari kacang tanah dari tanag tegal Lamingan ini. Bumbu pecel itu semakin gurih kalau goreng kacangnya disangrai.
Wilayah Lamongan tertentu yang didominasi tanah tegal, biasanya juga menanam pohon kelapa, siwalan dan mangga.
Jenis tanaman tersebut cocok bagi tanah tegal tadah hujah yang juga tidak memiliki irigasi. 
Untuk pohon siwalan, biasanya banyak tumbuh di desa Kandang dan
Paciran. Pohon siwalab ini menghasilkan buah siwalan dan gula merah (gulo abang)
Karena di sepanjang jalan raya Dendeles Kandang~Paciran banyak penjual Dawet Siwalan Gulo Abang. Natural dan enaaaak....glek... gleeek.....
Kuliner dawet siwalan ini sangat diminati oleh wisatawan dalam negeri dan luar negeri, setelah memanjakan mata di WBL, Paciran. 
   Sementara itu tanah tegal dari kecamatan Brondong warnanya sebagian merah sebagian coklat kehitam hitaman. Di tegal ini, di samping ditanami polowijo juga ditanami buah mangga. Mangganya khas, bentuknya besar, kalo matang warnanya kuning menyala dan rasanya manis~kecut. Namanya mangga/pelem Seren.
Emakku dulu sering kulaan pelem ini untuk dijual di pasar Brondong dan Blimbing. Tahun 60an, pelem seren ini primadona sebelum ada pelem gadung, manalagi dll.
   Baik tanah tegal di kecamatan Paciran maupun Brondong memiliki budaya tanam yang sama, karena sama sama tanah tegal tadah hujan.
   Karena tanah tegal ini sebagian besar dekat dari kampung, maka pemiliknya tidak perlu tinggal dalam tanah tegal tersebut. Tapi ada beberapa tanah tegal yang jauh dari kampung, pemiliknya sering nginap di tegalnya untuk menjaga tanamannya. Lama lama banyak yang ngikuti nginap di tegalnya. Sehingga kumpulan para penginap di tegal itu membentuk kampung baru, namanya Sumur Umbe.
   Ketika para pemilik tegal menunggu panen tanamannya, mereka ikut melaut musiman pada para nelayan yang masih keluarga, tetangga dan dari daerah lain. Hal ini sangat memungkinkan karena letak tanah tegal dan laut itu dekat sekali.
   
   Tetapi karena luas tanah tegal tidak bertambah, bahkan cendrung berkurang, sedang jumlah penduduk bertambah, maka banyak keluarga pemilik tegal atau yang tidak punya tegal banyak yang migrasi ke luar Lamongan, bahkan keluar Indonesia. Misalnya ke negeri Jiran Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam. Atau ke timur tengah, seperti, Saudi Arabia, Kuwait dll.
   
   Modal migrasi ke luar Lamongan hanya dua: Ilmu dan Kuliner. 
Banyak tokoh tokoh Jawa Timur yang berasal dari Lamongan, misalnya; KH Muamal Hamidi (Allahu yarham)dr Sedayu,  KH. Sun'an Karwalib dr Paciran, KH Husnul Aqib dr Weru dll. 
Sedang tokoh nasional seperti; Prif. Dr. Syafiq A. Mughni dr Paciran, Dr. Abdul Fatah dr Blimbing, Prof. Dr. Tholhah  Hasan dr Sedayu dll. 
Adapun mereka yang berbekal kuliner telah menjelajah seluruh nusantara dan sukses dengan buka lapak SOTO AYAM LAMONGAN.

0 komentar:

Posting Komentar