Senin, 18 Februari 2019

Di antara Dua Air


Oleh: Bukhori At Tunisi

(Alumni Ponoes YTP, Kertosono & UIN SUKA Yogyakarta)

Harianmerdekapost.com Gresik, wilayahnya bertipografi pegunungan rendah. Tidak ada gunung hidup sebagai sumber air yang selalu setia mengalirkan airnya untuk  masyarakat di hilir. Persawahan hanya tadah hujan, begitu juga pertambakannya, nunggu guyuran hujan. Kalau tidak begitu, ngebor di kedalaman tanah untuk disedot airnya, buat ngairi sawah atau tambak.

Sawah hanya ditanam padi setahun sekali, jarang dami, kecuali ada pegunungan yang jadi sumber mata airnya. Itu pun sekarang sudah habis, karena gunung-gunungnya dibabat habis oleh para penambang untuk urug jalan, termasuk jalan tol yang dikampanyekan Pak De Jo.

He he he.
Gara-gara gunung habis rata dengan persawahan dan tegalan, di Gresik sering diterjang angin Lisus bin Tornado mini.

Ternyata, merusak ekologi, mendatangkan musibah.

Belum lagi kubangan danau akibat galian tambang urug. Sudah berapa banyak anak-anak dan orang dewasa tenggelam di danau buatan tersebut akibat tidak ditutup dan dibiarkan menganga yang siap melahab dan menenggelamkan siapa saja yang tidak bisa "nglangi" (berenang).

Miris juga, lihat di Gunung Giri. Doeloe waktu kecil, Ortu-ku hampir tiap tahun mengajak aku dan saudara-saudara-ku ziarah ke makam Sunan Giri dan Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Maklum, doeloe, ayahku orang Nahdliyyin. Jadi, gemar ziarah Qubur, apalagi ziarah ke makam wali, tentu untuk "ngalap" berkah dan rezeki. Tetapi sekitar tahun 70-an artuku ngaji "Qur'an Hadits" bigitu ortuku menyebut. Dan ngajinya gak sembarangan orang, tapi pada kyai yang jadi ketua PWM Jatim, Kyai Anwar Zein, juga Majid Ilyas, Pak Misbah. Cuma ortuku yang hanya lulusan ongko 3 sekolah Kolonial Londo, jadi cuma mustami'in saja.

Ortuku tak tahu, kalau ngaji "Qur'an Hadits" itu, hanya "coro"-ne wong pinter, untuk 'infiltrasi" ideologis faham pembaharuan. Jadi gak pakai istilah "kapir", "dolalah", "bid'ah", "sesat" dan istilah lainnya. 

Aku pun baru tahu, kalau orang-orang yang diceritakan Ortu-ku itu orang MD setelah aku baca-baca buku dan majalah bekas.

Aku pun baru sadar, wong biyen, para sesepuh MD, bijak juga, ngerti "muqtadlal hal", tidak gebyah uyah. Mancing ikan, tak harus keruh airnya. Gitu kira-kira.

Sayang juga, tempat-tempat historis keislaman Nusantara, dibuldoser oleh kapitalisme di negeri ini dan sikap hedonistik pejabat dan cukong-cukong klas ndeso. Seng penting kaya, beda dengan tetangga, sudàh bangga. Eeee, sekarang menjadi musibah. Ternyata, itu tabungan yang dipanen sekarang.

Sunan Giri itu nyata, bukan legenda. Bila rusak situs-nya, historisitasnya dipertanyakan orang nanti. Membangun tanpa ilmu, keadaban dan kearifan ternyata merusak.

Mobilnya doeloe mentereng, tapi sekarang tinggal rongsokan. Tapi sejarah Giri, haram jadi rongsokan.

Sawah kini banyak yang jadi cerita rakyat, karena sudah ditanami gudang-gudang pabrik, yang berjajar mulai Surabaya, Sepanjang, Wringinanom, Mojokerto, Jombang, bahkan hingga Tangerang.
Orang tak lagi macul, keringatan tapi sehat, karena berat. Kalau kalau orang olahraga di GYM atau fitnes.

Akibatnya, para petani, anak-anak mereka jadi tergantung kepada pabrik-pabrik yang berdiri di atas persawahan yang subur, tidak mndiri. Kerja pun, harus "nyogok" pada calo, karena dengan adanya "outsourcing", pabrik 'membeli' perusahaan Tenaga Kerja. Pekerja, karyawan, tergantung kepada perusahaan TK tersebut. Kalau gak nyogok, gak dapet kerjaan. Parah, pekerja swasta pun, nyogok. Jadi, bukan hanya PNS yang viral karena sogokan dan orang 'dalam', karyawan pabrik pun diperjualbelikan. Parah.

Anak-anak gak ada yang bisa 'matun' dan nandur pari, karena tidak pernah belajar. Tahunya, kerja di pabrik.

Itu pun sudah bangga, karena sudah bekerja. Tak pernah dengar di anak-anak kecil atau terpelajar, mau jadi "bos" yang bisa mempekerjakan orang banyak, tetapi cukup jadi karyawan. Itu pun bagi orang tua tertentu sudah jadi bahan cerita yang bersambung-sambung kisahnya hingga gak ada habisnya.

Kita, faqir masa depan, dan calon pemimpin pemberdayaan dan pembebasan. Yang ada, mimpi anak-anak jadi karyawan pabrik. Aduh sedih sekali.

Sawah tempat bermain, juga cari rumput, ngarit, untuk makan binatang piaraan. Sekarang gak ada lagi.

Anak-anak hanya mainan hasil produk pabrik, tidak ada rasa, kreatifitas, dan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak ada mainan egrak, kekean, jumpritan, sodoran bin petak umpet dst. Hingga yang ada 'gank-gank'-ngan, tawuran atau kelahi dengan satu kampung, lain kampung, karena dianggap saingan, musuh, lawan yang harus dihabisi.

Surau, langgar, masjid, majelis ta'lim, diisi anak-anak usia SD. Sedang usia SMP hingga SMA, 'ngaji"-nya di HP, tapi tak tahu apa yang diajikan di HP.

Sawah ternyata menyimpan kearifan yang sangat dalam dan tinggi. Kini terkikis dan mau hilang. 

Hadirkan kembali sawah, tegalan dan tanah rakyat lainnya. Di situ tempat ta'lim, ta'dib dan tafzkir.

Rindu desa dengan persawahan membentang nan asri dan hijau

Gresik dibagi jadi dua: Gresik Selatan dan Gresik Utara. Yang selatan dekat Sidoarjo dan Surabaya, di tengah-tengah ada pegunungan yang membelah geografis wilayah Gresik.

Budaya santri ada di utara, sedang selatan, budaya ludruk. Di selatan banyak kesenian ala ludruk dengan bahasa suroboyo-an yang sedikit norak bahasanya. Namun ekspresif, bloko sutjo,, humanis, apa adanya, tidak plintat-plintut.

Ada pergeseran budaya Agama, doeloe daerah selatan kental budaya abangan, saat industrialisasi merajalela, ortu pada kewalahan. Ortu sadar, akhirnya Pesantren jadi pelabuhan tujuan belajar anak. Gelombang hasil pendidikan ala pesantren, lagi ditunggu hasilnya.
Mungkin akan ada reformasi religiusitas?
Ditunggu kiprahnya.(Sufono Syueb/ed)

0 komentar:

Posting Komentar