Jumat, 15 Februari 2019

Catatan Budaya: Reverse Brain Drain 1

Oleh: Didik Akhmadi, MComm.

(Pengamat Budaya Politik dan KBPII Yogyakarta)

Harianmerdekapost.com Terima kasih buat mas Imam Wahyudi yang telah menulis deskripsi grup kita: "Wadah komunikasi diaspora  warga Bantul". Istilah diaspora ini sangat menarik karena beberapa tahun terakhir ini ada forum diaspora yang tak hanya terkait dengan warga kedaerahan, tapi diaspora yang menyangkut migrasi internasional. Banyak warga Indonesia yang sudah menjadi permanen residen di berbagai negara diwadahi dalam forum tersebut, agar keberadaan mereka di luar negeri bisa bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Forum diaspora warga Bantul mirip dengan forum tersebut meski lingkupnya lebih kecil.

Tema komunikasi diaspora itu memiliki tiga isu utama: brain drain, brain networking dan reverse brain drain. Perpindahan SDM dari daerah atau negara yang satu ke daerah atau negara yang lain pada awalnya cukup merugikan  bagi daerah atau negara asal. Pertanyaannya kemudian apakah kerugian tersebut akan menjadi kerugian yang bersifat selamanya? Pertanyaan tersebut bisa "ya" atau "tidak" tergantung kebijakan atau langkah langkah yang mengiringinya. "Brain drain" atau "perpindahan SDM ke luar daerah" akan menjadi kerugian seterusnya bila tidak ada kebijakan atas brain drain tersebut. Brain drain bisa menjadi brain gain (keuntungan dari perpindahan SDM) terhadap suatu daerah atau negara, bila brain drain tersebut bisa dirubah menjadi RBD "reverse brain drain" atau "pembalikan arus migrasi SDM".  Tentunya dari BD menjadi RBD ada langkah antaranya. Yaitu, brain networking atau jejaring SDM.

Pembentukan forum Warkaban ini berada pada tahap pengembangan jejaring SDM. Semoga saja, jejaring SDM ini bisa menjadi "reverse brain drain" bagi daerah Bantul.

Dua Jalur RBD

Kepedulian terhadap Bantul dan warganya dari warga Bantul yang ada di perantauan bisa berujud apa saja. Bisa doa, pemikiran dan bantuan dana kepada orang yang kurang mampu. Doanya bisa berupa pengharapan agar Bantul dan warganya bisa lebih maju. Pemikiran ujudnya menyumbangkan keahlian yang dimiliki untuk membangun Bantul. Dan, bantuan dana kepada pihak pihak yang lebih membutuhkan. Semuanya perlu dilandasi rasa bersyukur, Gusti Allah wis paring keluwihan marang awakke. Geneyo awakke dhewe iku iya jane kaya konco konco sing isih neng kampung. Ning iya merga kanugrahaning Gusti Allah isa nduwe keluwihan.

Kepedulian bisa melalui dua jalur. Bagi warga Bantul yang berada dalam posisi pengambil kebijakan, bagaimana sedulur sedulur mau bersedia melakukan advokasi kebijakan supaya Bantul bisa lebih maju. Jalur kedua adalah lewat hubungan sosial kemasyarakatan dari individu ke individu, dari paguyuban ke pihak yang lebih membutuhkan. Tentu semua akan lebih bagus bila berjalan lewat penataan yang baik.
    Musrenbang RKPD Kab Bantul 2019:
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Bantul: perlu mendapat perhatian mengingat rerata IPM dibawah rerata IPM DIY. Faktor IPM di Bantul yang harus ditingkatkan adalah Angka Harapan Hidup, Harapan Lama Sekolah, dan Rerata Lama Sekolah. Kemiskinan di Bantul: Jumlah penduduk miskin terbanyak di DIY dimiliki oleh Kab. Bantul sekitar 139.590 dengan persentase 14,07%. Indeks kedalaman kemiskinan di Bantul pada tahun 2017 meningkat dari 2,02 (2016) menjadi 2,21 pada tahun 2017. Indeks keparahan kemiskinan juga meningkat dari 0,41 (2016) menjadi 0,56 (2017).(Sudono Syueb/ed)

0 komentar:

Posting Komentar