Senin, 18 Februari 2019

Catatan Budaya: Desakralisasi Ondel Ondel & Ingkung

Oleh: Didik Akhmadi, MComm

(Pengamat Budaya dan KBPII Yogyajarta)

Hariianmerdekapost.com Ondel ondel yang ada di seputaran Betawi dan Ingkung di seputaran Guwosari, Pajangan, Bantul, DIY, itu memiliki kesamaan dalam konteks proses kebudayaan. Keduanya pernah mengalami proses desakralisasi. Dulunya, Ondel ondel selalu ditampilkan pada masyarakat elit Betawi, ditampilkan pada acara khusus, dan selalu diisi dengan mantra mantra. Dulunya, ingkung pun demikian. Ingkung itu makanan kaum elit, disajikan pada waktu waktu tertentu (nyadranan, ruwahan dll) dan kadang diisi dengan nuansa mistis. Ingkung kadang menjadi sarana pesugihan yang diisi dengan mantra mantra dan secara mitosnya  berkait dengan istilah "tetukon". Sekarang, ondel ondel tidak ada isi isi mantra lagi, terutama sejak Benyamin Sueb melakukan perubahan budaya atasnya. Akhirnya, sekarang ondel ondel terasa ringan dan bisa dimainkan oleh siapa saja. Ondel ondel menjadi kesenian rakyat. Ingkung pun demikian. Di Pajangan, ingkung disosialisasikan sebagai makanan sehari hari melalui penyelenggaraan kampung ingkung. Ingkung setelah dihilangkan mantra mantra bisa dijadikan sumber penghasilan masyarakat secara lebih luas.

Dengan mengambil pelajaran atas kasus proses desakralisasi yang semacam itu, kita bisa melakukan proses yang serupa pada produk budaya yang lainnya. Produk budaya tetap lestari, meski ada perubahan perspektif kebudayaan. Dulu produk budaya sangat sakral dan mistis menjadi produk budaya yang 'biasa'.


   Asyiiiknya, di kampung ingkung masing masing pengusaha ingkung saling bekerjasama. Jika ada satu pengusaha ingkung mendapatkan order ingkung yang jumlahnya banyak, orderan itu bisa dikerjakan bersama. Jika stock ayam habis, mereka bisa saling menggunakan stock ayam yang dimiliki pengusaha ingkung lainnya.


   "Kampung Ingkung" merupakan satu destinasi wisata. Destinasi wisata tersebut  akan dijadikan satu paket kunjungan wisata dengan destinasi wisata yang lainnya. Sederet destinasi yang bisa di-interlink-an di Bantul adalah "Kasongan", "Waduk Kamijoro", dan "Kampung Ingkung". Setelah wisatawan berkunjung ke berbagai tempat, mereka bisa home stay di kampung ingkung. Bermalam dan makan malam di situ. Masyarakat kampung ingkung akan menyediakan sepeda sepeda atau odong odong yang menghubungkan antara terminal bus ke lokasi home stay-nya.
    Pengembangan jasa di lingkungan masyarakat Pajangan bisa terus ditambahkan. Pengembangan tanaman ubi-ubian, wisata rumah sehat dan lain sebagainya. Lokasi daerah bisa dijadikan tempat pengembangan desa desa binaan yang hasil produknya bisa dijadikan souvernir bagi para wisatawan.(Sudono Syueb/ed)

0 komentar:

Posting Komentar