Minggu, 03 Februari 2019

Bocah asal Sedarum Tewas Tenggelam di Tambang Sirtu Milik TNI AL




NGULING harianmerdeka post.com
 Agenda Juma’aten, 15 remaja asal Dusun Pacinan, Desa Sedarum, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan bermain di galian tambang pasir dan batu milik TNI AL berujung tragedi. Remaja yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) itu tewas tenggelam di galian tambang saat bermain di kawasan setempat.
Minggu, 3 Februari 2019 

Peristiwa memilukan itu terjadi Sabtu (2/2) sekitar pukul 15.00. Saat itu, korban Juma’aten datang bersama sembilan temannya. Mereka main ke tambang pasir milik TNI AL di Dusun Gunung Bukor, Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling.

Mereka pun tiba di galian tambang pasir yang memiliki kedalaman 5 meter dan berdiameter 10 meter. Galian itu berisi air. Sepuluh bocah itu pun berniat untuk berenang. Bergantian, sepuluh anak itu melompat ke galian yang berisi air. Termasuk korban.

Namun nahas, kaki korban malah terperosok ke dalam lumpur di dasar galian tersebut. Korban pun berusaha menarik kakinya. Bahkan, teman-temannya langsung menolong korban. Sayangnya, mereka tidak kuat menarik tubuh korban.

Salah satu teman korban, Dani, 14, lantas mencari pertolongan. Saat itulah melintas Napi, warga Desa Sudimulyo, Kecamatan Nguling. Tahu korban terperosok, Napi lantas masuk ke dalam kubangan tanah galian itu. Tak lama kemudian, tubuh Juma’aten berhasil diangkat. Namun sudah terlambat. Korban  sudah tidak bernyawa.

Tewasnya korban langsung menyebar cepat. Warga setempat pun berdatangan ke lokasi kejadian. Termasuk, keluarga korban. mereka lantas membawa tubuh korban ke Puskesmas Nguling.

Kades Sedarum Fatkhul Munir memastikan, Juma’aten memang tidak bisa berenang. Fatkhul pun bercerita. Sore itu sedang turun hujan deras di Desa Sumberanyar. Hujan turun sekitar satu jam, mulai pukul 13.30. Karena itu, galian tambang pasir pun terisi air hujan. Rupanya, kondisi ini dimanfaatkan oleh bocah-bocah itu untuk berenang.

“Juma’aten ini diajak oleh kesembilan temannya usai pulang sekolah. Ia diajak berenang. Tapi, dia ini tidak bisa berenang. Padahal, kubangan bekas galian itu cukup dalam dan terisi air hujan,” jelas Fatkhul.

Kanitreskrim Polsek Nguling Aiptu Adjie Anggoro menjelaskan, peristiwa ini murni kecelakaan. Diduga, tenggelamnya korban karena korban tidak bisa berenang. Selain itu, kakinya terperosok cukup dalam ke lumpur di dasar kubangan.

“Peristiwa ini murni karena korban tidak bisa berenang. Sesuai permintaan keluarganya, mereka keberatan korban diotopsi dan telah membuat surat pernyataan. Mereka sudah mengikhlaskan kematian korban sebagai musibah,” pungkasnya. Junalis
(Anam/subhan)

0 komentar:

Posting Komentar