Sabtu, 01 Desember 2018

Catatan budaya: Pertemuan Brotoseno-Arimbi


Oleh: Didik Akhmadi, M.Comm

(Pengamat Budaya Politik dan KBPII Yogyakarta)

Harianmerdekapost.com Lakon wayang babad alas Wonomerto sangat dikenal masyarakat, karena sering digelar oleh para dalang. Setting ceritanya, seselesai pembakaran Balai Sigologolo,  Brotoseno menghadap Drestarata di kerajaan Astina. Lalu, Brotoseno diberikan tanah perdikan alas Wonomerto. Tanah perdikan tersebut bisa dikembangkan sebagai tempat kehidupan para Pandawa. Para Pandawa tidak bisa lagi hidup di Astina karena telah terucap janji bahwa Astina akan diberikan kepada Durjudono.

Saat membabati alas Wonomerto, Brotoseno berhadapan dengan para jin penunggu alas tersebut. Jin penunggu alas tersebut berada dalam lingkungan kerajaan jin yang namanya Indraprasta.

Saat Brotoseno bertarung menghadapi Dandung Wacana, Brotoseno mengalami kesulitan dan bahkan hampir menghadapi kematian karena Broteseno terjerat jolosutra yang ditebar oleh Dandung Wacana. Meski dibantu Anoman jeratan itu tak terurai juga, sehingga Brotoseno bersumpah bila ada yang bisa menolong maka jika penolong nya itu laki laki akan dijadikan saudara; sedangkan bila perempuan akan dinikahi.

Datanglah saat itu seorang raseksi dari kerajaan Pringgodani bernama Arimbi yang berhasil membuka jeratan jalasutra di tubuh Brotoseno.

Setelah setting cerita ini, para dalang kemudian mengembangkan ragam sanggit. Ada sanggit yang menyebutkan bahwa Brotoseno menepati janji untuk mengawini Arimbi meski Arimbi bermuka jelek dibagian giginya karena dia sebenarnya adalah seorang raseksi. 

Sanggit lainnya, Brotoseno tak menepati janjinya karena ternyata yang menolongnya adalah seorang raseksi yang berwajah buruk.

Ragam sanggit ujungnya keduanya bersedia berkawin.  Untuk alur sanggit yang diceritakan Brotoseno tetep menepati janji karena mereka menyadari bahwa dari perkawinan keduanya, mereka bisa menyatukan alur dua trah kerajaan, yaitu trah kerajaan Astina dengan trah kerajaan Pringgodani yang kadang selama ini terjadi saling berbenturan kepentingan.

Untuk sanggit yang Brotoseno tidak menetapi janji, skenario cerita menjadi lebih panjang. Arimbi menghadap Kunthi dan para kerabat Pandawa dan kemudian menyampaikan berita bahwa Brotoseno mengingkari janji untuk mengawininya setelah tahu dia buruk rupa. Arimbi akhirnya berubah menjadi wanita cantik setelah diobati dengan Jamus Kalimosodo. Dan, kemudian Brotoseno pun diingatkan agar menepati segala janji yang terucap kepada siapapun.

Pelajaran yang bisa diambil adalah sebuah proses perkawinan itu bisa menggabungkan dua trah keluarga besar atau trah kerajaan, yang mungkin selama ini berseteru. Pelajaran lainnya, siapa yang menanam kebaikan kebaikan akan menenuai hasilnya. Kebaikan Arimbi berujung kebaikan bagi dirinya juga. Semula dia yang berwajak buruk sebagai sesosok raseksi bisa berubah menjadi sesosok dewi yang cantik.

Bahasa Al-Qur'an-nya: 

"in ahsantum ahsantum li anfusikum".

"Bila kamu berbuat kebaikan, maka kebaikan itu  kembali bermanfaat kepada dirimu sendiri"(Sudono Syueb/ed)

0 komentar:

Posting Komentar