Sabtu, 24 November 2018

PRASANGKA dan Kritik Logika al-Qur’an




oleh: Bukhori At-Tunisi
(Alumni PonpesYTP, Kertosono;
dan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

harianmerdekapost.com ada pameo  “Bila kehilangan ayam, jangan dibawa ke pengadilan, karena akan kehilangan kerbau.” Kenapa pameo itu muncul? Menurut “al-qissah” orang yang berperkara di pengadilan, “Akan lebih banyak kehilangan harta benda lagi, dibandingkan dengani harta yang telah hilang.” Ke mana hilangnya? Untuk “menyogok” “kanan-kiri”, mulai majelis hakim, Jaksa, Polisi, [bayar] lawyer, saksi dan lainnya. lalu muncul sindiran pedas, “Jika ingin menang di pengadilan, pakai KUHP (Kasih Uang Habis Perkara).” maksudnya: Perkaranya akan dimenangkan pengadilan, jika uang “dimainkan”. Kasus terakhir menunjukkan benarnya pameo tersebut, banyak hakim, jaksa, dan polisi, tak ketinggalan: lawyer juga ditangkap KPK. Kasus besar terakhir, menyeret pengacara kondang Otto Cornelis Caligis yang terlibat dalam penyuapan hakim.

Persepsi umum tersebut menjadikan orang yang berperkara, enggan membawa perkaranya ke pengadilan, karena “prasangka”-nya sudah terbangun oleh memori negatif dari para penegak hukum. “Kebiasaan umum” yang buruk, dijadikan patokan persepsi, sehingga timbul prasangka buruk pada yang lain. Padahal tidak semuanya berperilaku buruk. Masih banyak hakim, jaksa, polisi, dan pengacara jujur sebagai penegak keadilan. Sebut misalnya nama Artidjo Alkostar, Benyamin Mangkudilaga, Adan Buyung Nasution, Kapolri Hoegeng Imam Santoso dan lainnya.

Prasangka adalah persepsi negatif kepada yang lain. Prasangka timbul, karena adanya “rasa curiga” kepada yang lain. Ada juga, “dugaan” buruk kepada yang lain, karena “kebiasaan” berperilaku buruk, sehingga yang lain mempersepsi buruk. Orang dibikin trauma atas kebiasaan buruk yang mentradisi dalam kehidupan sehari-hari pada semua level, sehingga terbangun  ketidak percayaan, “distrust” kepada yang lain, akibat terlalu sering dibohongi. Orang menjadi sulit percaya kepada kebenaran, walau disampaikan secara jujur. Memori kolektif sulit dihapus karena terjadi berulang-ulang dan bertumpuk-tumpuk.

“Prasangka” sering diartikan sebagai “fikiran negatif” kepada yang lain. Fikiran yang dimaksud tentu bukan fikiran yang mendalam dan dikuatkan dengan bukti yang valid dan meyakinkan. Prasangka hanya fikiran sepintas lalu.

Pada tahap ini, Prasangka identik dengan “dugaan” atau “anggapan”, karena belum terbukti. Jika ada bukti dan terbukti, maka bukan prasangka, namun “fakta” atau “realita”. Ada prasangka baik, ada juga prasangka buruk. “Prasangka baik” biasanya menggunakan istilah anggapan baik, “prasangka buruk” diidentikkan dengan “prasangka” buruk.

Dalam dunia hukum, adanya perbuatan pidana pada sauatu tempat (locus) dan waktu (tempos) tertentu, baru dalam taraf permulaan, disebut ada “dugaaan” atau “sangkaan” terjadi perbuatan pidana. Bila sudah ditemukan bukti permulaan yang cukup, maka meningkat menjadi “disangka” melanggar pasal hukum pidana. Bila penyelidikan sudah menemukan 2 (dua) alat bukti yang kuat, maka meningkat menjadi “tersangka”. Tersangka yang sudah diajukan ke pengadilan disebut “terdakwa”. Bila terdakwa sudah ditetapkan sebagai pelanggar pidana, maka disebut sebagai “terpidana”.

Dalam leksikon Jawa, biasa disebut dengan istilah “nyongko” [apik atau elek]. Maknanya, “nyongko apik”, berarti ber-”prasangka” baik kepada yang lain. Sedang “nyongko elek”,berarti berprasanka buruk kepada yang lain.

Dalam istilah Arab, “prasangka” dipersamakan dengan istilah “zhann” (الظن). “Zhann” artinya: “menganggap lebih kuat satu perkara diantara dua perkara.” Bila seseorang memiliki 2 (dua) persepsi tentang seseorang, apakah dia “baik” atau “buruk”, jika belum menemukan bukti, fakta atau eviden, bahwa seseorang adalah orang baik atau sebagai orang buruk, maka kesimpulan yang diyakini sebelum adanya atau belum ditemukannya fakta bahwa dia baik atau buruk, maka itulah yang disebut dengan “prasangka” atau “dugaan” atau “zhann.”

Dalam al-Qamus al-‘Ashri ‘Arabi-Inglish karya Elias A. Elias dan Edwar E. Elias; kata “zhann” diartikan “the think” (pemikiran), “opine” (opini, pendapat), “to suppose” (mengira, menganggap, menduga, menyangka), “to suspect” (menyangka, mencurigai, menduga,), “idea” (ide, pemikiran), “eviil minded" (berfikiran buruk), “suspeccious” (perkiraan, persangkaan), “mistrustful” (ketidakpercayaan, ragu-ragu). Jadi, di dalam kata “zhann”, mengandung nilai berfikir secara rasional, dan bukan hanya emosional belaka. Ia bagian dari proses “idea” yang memiliki dimensi postif (berfikir sehat), dan dimensi negatif (berfikir buruk). Karena itu, dalam Kamus al-Mawrid, kata “hypothesis” diterjemahkan dengan “al-fardliyah” (keputusan),”al-zhanniyah” (dugaan) dan “al-ra’yu” (pendapat), “‘ilmiy-un lamma yatsbut-u ba’du” (pengetahuan yang belum ditetapkan sebagai [keputusan], [menunggu penelitian] selanjutnya).

Sebab lain timbulnya  prasangka adalah adanya rasa benci (hate), iri hati (envy), perbedaaan (difference), pertentangan (contradiction), permusuhan (conflic), kepentingan (vested interested), pengelompokan (grouping), gap sosial (social distance), ingin berkuasa (authority interest), ideologi, kultuisme, dan perbedaan lainya. Menjadi penyebab adanya penilaian awal yang kurang simpatik kepada yang lain, sehingga penilaiannya subyektif, dan tidak berpijak pada penilaian obyektif, dengan bukti-bukti akurat dan sahih. Penilaian sempit tersebut, hanya untuk menyenangkan nafsu sesaat dengan mengesampingkan kebenaran, pemikiran yang “wise”, bijak, luas, dan menjangkau ke masa depan. Prasangka hanya untuk mendapatkan kesenangan palsu. Ia hanya kamulflase yang menipu, seolah menyenangkan dan mendatangkan kebahagiaan. Justru prasangka membebani psikis, karena fikiran dipenuhi sakwasangka, negatif thinking, gelisah dan diliputi kecemasan yang mendalam. Mengapa? Karena fikirannya tidak alamiah dan wajar.  Ada fikiran yang harus ditonjolkan dan ada fikiran yang harus ditekan dan dipendam. Fikiran dipaksa untuk mencari argumen pembenar (dalih) bagi ungkapan negatif yang dihasilkan dari prasangka dan membuang argumen positif untuk membenarkan suatu keyakinan.

Islamophobia, yang sekarang mewabah di Barat. lahir dari syakwasangka yang keliru terhadap Islam. Ia [dapat] timbul karena (1). Pengalaman traumatik yang mendalam; (2). Indoktrinasi, (3). Superioritas, (4). Agresifisme dan lainnya. Lahirlah pandangan stereotype dari pengalaman empirik atas doktrin kebencian para pendahulunya. Islamophobia di Barat misalnya, lahir karena faktor historis, pergumulan peradaban Islam dengan peradaban Barat di Zaman Pertengahan (Midle Age), yang menempatkan peradaban Islam dalam posisi superior dan dominan, dalam aspek  budaya, ekonomi, militer, ilmu pengetahuan dan lainnya; hingga berakhirnya kekhalifahan Turki Utsmani runtuh, terhadap budaya Barat.

Phobia itu nampak dari diksi dan ungkapan verbal terhadap Islam. Misalnya pelebelan sebagai teroris, radikal, ekstremis, enemy, clash of civilazation, burqah, hijab, jenggot, jubah dan lainnya. Istilah-istilah pejoratif, yang memojokkan, menebarkan rasa benci dan permusuhan.

Kasus pembakaran bendera “La ilaha illa Allah” (لا اله الا الله) adalah prototype cara pandang sinis kepada “yang lain” karena dianggap musuh (enemy) yang terbawa oleh “grouping identity”. Prasangka yang berlebih kepada sesuatu karena rasa benci, menggelapkan mata, sikap dan perilaku sehingga bertindak secara biadab karena sudah ternanam di dalam fikirannya persepsi buruk tentang organisasi lain. Padahal, tidak semua tulisan “Kalimat Tauhid” sebagai dan identik dengan kelompok tertentu. Beda pilihan politik tidak harus menjadikan mata menjadi “buta”, hati mati rasa dan fikiran waras menjadi lumpuh.

Melihat fakta sejarah Indonesia kemerdekaan, Apa bedanya “Resolusi Jihad” yang dikobarkan kyai tertentu dalam menegakkan Republik Indonesia yang baru lahir, dengan kalimat Tauhid yang dijadikan tulisan dan dibawa ke mana-mana oleh pasukan Hizbullah pada masa Perang Kemerdekaan RI, dengan tulisan Kalimat Tauhid yang dibakar oleh ormas tertentu di Garut? Apakah “doeloe” lambang “la ilaha illa Allah” melambangkan semangat anti Indonesia, anti persatuan, anti kemerdekaan dan lainnya? Lalu apakah sekarang ada bedanya, saat membawa bendera Tauhid atau memekikkan takbir dengan masa pra-kemerdekaan?

Apa pula bedanya “Pekikan Takbir” yang diucapkan Bung Tomo pada peristiwa 10 Nopember 1945, dengan takbir lainnya? Apakah tidak ada nilai religiusitasnya? Cuma suara, an sich, yang “nir” sakralitas ke-Ilahiyahan? Kemudian dengan logika yang sama, karena pakai Takbir, maka tidak cinta NKRI, anti Indonesia dan anti kebhinekaan?

Bolehkah gambar kyai, tokoh organisasi tertentu dibakar? Dengan alasan yang sama, sebagai murni urusan profan, duniawi dan bukan Agama, an sich. Persetan dengan moral, etika agama, saling menghargai antar intra ummat beragama. Bukankah itu cuma gambar, bukan orangnya? Sama-sama sebagai lambang yang tak bermakna, karena hanya sebagai gambar, tulisan atau scriptura belaka?

Bolehkah kalimat tertentu yang menjadi lambang dan simbol organisasi tertentu dibakar? Yang kebetulan mirip, namun warna, ukuran, model tulisan sama. Tersinggung? Marah? Atau diam saja? Sebagaimana argumen yang dijadikan justifikasi tindakan biadabnya, karena bukan bendera Rasulullah?

“Negatif thinking” yang merasuk ke dalam fikrah kewarasan, membuat fikiran rasional buntu, terjadi “intellectul cul de sac,” kata orang Prancis. Bisikan-bisikan buruk dari syaithan, baik dari jenis jin dan manusia (QS. al-Nas [114]: 6), berhasil “menguasai” kesadaran nalariah yang sehat dan hati nurani yang jernih. Padahal al-Qur’an “mewanti-wanti” kepada orang-orang beriman untuk tetap berperilaku adil dan berfikiran sehat  walau kepada sang pembenci (QS. al-Maidah [5]: 8).

Dalam memperoleh informasi, Al-Qur’an melarang “mudah percaya” kepada yang lain (QS’ al-Hujurat [59]: 6). Dengan menekankan sikap “hati-hati” (ihtiyath), meneliti hingga sumber pokok informasi dan dikroscek kebenarannya. Sebuah berita dalam etika Islam, harus diinfestigasi, dicari “kejelasan”-nya,  di-“tabayyun” dahulu.

“Tabayyun”berasal dari kata dasar “bayan” yang memiliki arti “jelas”, “terang”, nyata, “clear”. Suatu “khabar”, berita, kisah dan sejenisnya, baru mendapatkan predikat “shahih” manakala sudah dikonfrontir kesahihannya dengan sumber berita. Tradisi “tabayyun” ini digunakan secara ketat dalam penulisan al-Qur’an dan hadits-hadis yang berkualitas shahih. Termasuk dalam pendekatan ini adalah pengkodifikasian hadits Shahih yang dilakukan oleh Imam al-Bukhari, memerlukan waktu sekitar 16 tahun untuk mengumpulkan hadits yang berkualitas shahih. Dengan metode tabayyun ini, mengharuskan adanya “rihlah” (perjalanan) yang panjang dan “melelahkan” demi otentisitas suatu hadits.

Dengan “tabayyun”, dapat menghilangkan syakwasangka, keraguan dan dugaan-dugaan yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenaran dan kesahihannya suatu berita, persepsi, anggapan dan pernyataan. Dengan “tabayyun” dapat diketahui sumber pokoknya, sumber primernya, asal-usul munculnya berita, siapa yang menerima, menyaksikan, bahkan yang me-record dan lainnya. Dengan metode “cross check” (tabayyun), dapat dipastikan kebenaran informasi dengan bukti-bukti verbal dan material.

Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa, “zhann” tidak cukup untuk dijadikan sebagai bukti kebenaran (QS. Yunus [10]: 36 ). Karena“zhann” sebatas sangkaan saja; belum meningkat menjadi kebenaran (al-haq). Allah menyatakan:

(Kebanyakan dari mereka itu hanyalah mengikuti prasangka belaka. Padahal sungguh “zhann” itu tidak cukup untuk [membuktikan] kebenaran sedikit pun).

“Zhann” dapat menjadi kebenaran, manakala suatu pernyataan dibuktikan dengan saksi-saksi yang adil dan bukti-bukti lain yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Dalam hal “menuduh” orang lain melakukan zina karena berdasarkan pada “persangkaan” saja. Al-Qur’an mewajibkan untuk menghadirkan 4 (empat) orang saksi untuk membuktikan kebenarannya. Bila tidak dapat menghadirkan 4 orang saksi, maka dikenai hukuman “hadd” 80 kali cambuk (QS. al-Nur [24]: 4).

Oleh sebab itu, al-Qur’an melarang orang-orang mu’min memiliki sikap “zhann” (buruk sangka) kepada yang lain, karena di dalam “zhann” itu sendiri ada nilai kesalahan dan dosa. Kata Allah dalam QS al-Hujurat [49]: 12:

(Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka. Sungguh sebagian dari prasangka itu merupakan perbuatan dosa).

Secara teologis, “zhann” itu sendiri sudah ada nilai “itsm”-nya, ada kesalahan yang menyebabkan dosa. Karena belum tentu benar sesuai dengan kenyataan, sudah di-“judge” salah, negatif dan buruk. Sehingga timbul fitnah dan permusuhan yang merupakan bagian dari perbuatan dosa. Dalam al-Qur’an, dosa menjadi penyebab keburukan dan kerusakan kosmis, baik manusia maupun alamnya. Karena “zhann”, hubungan kemanusiaan rusak. Yang seharusnya relasi antar manusia didasari pada rasa kasih sayang, simpatik dan pandangan positif. Karena “zhann” pandangan berubah menjadi pandangan mencurigakan, antipati dan negatif. Mengapa merusak?

Dalam penelitian ilmiah, hipotesa, sering diterjemahkan dengan dugaan sementara (zhann), adalah pernyatakan tentang sesuatu, yang masih bersifat tentative, yang kebenarannya diterima untuk sementara waktu, dalam kerangka menerangkan fakta-fakta tertentu, untuk diteliti lebih dalam lagi. Hipotesa dikemukakan, dikembangkan lebih lanjut dalam suatu penelitian untuk menjadi teori, ilmu pengetahuan.

Sebagai bahan pembuktian suatu kebenaran, hipotesa baru pernyataan “pendahuluan”, sehingga perlu pembuktian yang lebih meyakinkan berdasarkan eviden atau fakta-fakta yang ada, agar “naik” derajatnya menjadi teori ilmu pengetahuan.

Dalam al-Qur’an, zhann digunakan untuk dua hal yang berlawanan, 1. Zhann yang dikaitkan dengan perbuatan baik; 2. Zhann yang dikaitkan dengan perbuatan buruk.

Di antara kata zhann yang dikaitkan dengan perbuatan positif adalah perbuatan orang-orang yang beribasah khusyu’ kepada Allah. Orang khusyu’ dalam QS. al-BAqarah [2]: 46, menggunakan kata “zhann”, yaitu “yakin” bertemu Tuhannya. Konsep “khusyu’” tersebut dekat dengan konsep “ihsan” dalam hadits riwayat al-Bukhari, bahwa “Ihsan adalah orang menyembah kepada Allah seolah-olah dapat “menyaksikan” Tuhannya; jika pun tidak, maka Allah pasti melihat sang hamba.”

Kata “zhann” dalam ayat tersebut, oleh Departemen Agama RI, dalam al-Qur’an dan Tarjamahnya diartikan dengan kata “yakin”, bukan prasangka.

(Mintalah tolong [kepada Tuhanmu] dengan sabar dan shalat! Dan sungguh shalat itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang “yakin” bertemu dengan Tuhan mereka, dan sungguh mereka akan kembali kepada Tuhan mereka]).

Hamka menterjemah kata “yazhunnu” dengan arti “sungguh percaya.”  kebalikan 100% dari makna asal kata “zhann”: “ragu-ragu”, “tidak percaya”. Hamka berargumen bahwa “zhann” arti asalnya ialah “Berat fikiran pada satu jurusan dan belum yakin benar.” Dia memberi ilustrasi bahwa hasil isjtihad seorang mujtahid, keputusannya bersifat “zhanniyah” (masih terbuka untuk uji, diberi anotasi ataupun ditolak pendapatnya), bukan “qath’iyyah” (keputusannya bersifat pasti, tidak terbuka untuk dikritik atau dirubah keputusannya). Bila diartikan dengan “berat sangkanya” bertemu Tuhan, maka tidak “nyambung” dengan yang dikehendaki “iman” yang mensyaratkan adanya suatu keyakinan yang pasti, yang tidak ada unsur ragu sama sekali.

Pada ayat berikut, kata “zhann” juga dihubungkan dengan “keyakinan” adanya pertemuan dengan Allah, seperti yang diungkapkan oleh para tentara Thalut yang beriman kepada Allah dan taat kepada perintah Raja Thalut untuk tidak minum air sungai, kecuali ala kadarnya saja, minum secukupnya, tidak berlebihan. Seperti dalam ayat berikut:

(Maka tatkala Thalut keluar membawa bala tentaranya [dari Baitul Maqdis]. Dia berkata, “Sungguh Allah akan menguji kalian dengan sebuah sungai. Maka siapa yang minum air sungai itu, maka dia bukan pengikutku. Dan siapa yang tidak meminumnya kecuali hanya seciduk tangannya, maka dia termasuk pengikutku”. lalu balatentaranya minum seluruhnya kecuali sebagian sedikit saja dari mereka yang tidak meminumnya. Maka tatkala dia dan orang-orang yang beriman telah menyeberangi sungai. Berkatalah [orang-orang yang minum air sungai tersebut], “Hari ini kami tidak memiliki kekuatan untuk [berperang melawan] Jalut dan balatentaranya.” [lalu] Berkata juga orang-orang yang “meyakini” (yazhunnuna) akan bertemu dengan Allah, “Berapa banyak kelompok yang sedikit, dapat mengalahkan kelompok yang lebih banyak [jumlahnya] atas izin Allah.” Dan Allah bersama-sama dengan orang-orang yang tabah).

“Zhann” bila diartikan dengan “keyakinan” (believe), maka tidak perlu adanya pembuktian, karena berada pada ranah “meta-ilmiah”, yang kebenarannya diterima apa adanya, “bila kaifa”.

Sedang kata “zhann” yang dikaitkan dengan perbuatan buruk adalah seperti QS. 48: 12; Kata “zhann” langsung dihubungkan dengan kata al-sau’ (buruk). Sangkaannya adalah bahwa Nabi Muhammad dan para pengikutnya yang ikut perang, pasti kalah. Sehinggga Nabi dan para pengikutnya (shahabat) akan mati semua, tidak kembali untuk berkumpul dengan keluarga mereka. Tetapi sangkaan tersebut ternya salah. Karena faktanya, Nabi dan para sahabatnya, memenangkan peperangan. Seperti pada ayat berikut:

(Bahkan kamu semua menyangka (zhann) bahwa Rasulullah [Muhammad] dan orang-orang mu’min yang bersamanya, tidak akan kembali kepada keluarga mereka selamanya. Dan yang demikian itu telah dihiaskan ke dalam hati kamu semua. Dan kamu menyangka dengan prasangka yang buruk. Karena itu, kamu menjadi kaum yang binasa).

Kata “zhann” juga dihubungkan dengan kata “jahiliyah.” Sangkaan lama (zhann al-jahiliyyah) bahwa para nabi yang berperang membela kebenaran pasti menang, tidak pernah dikalahkan. Karena itu, dengan kekalahan Nabi dan para sahabatnya pada waktu Perang Uhud, karena indisipliner, tidak taat pada komando Nabi. Orang yang hatinya ragu, menyangka buruk dengan peristiwa kekalahan tersebut. Dengan meragukan pertolongan Allah kepada NabiNya:

(Kemudian Allah menurunkan rasa aman, setelah kamu ditimpa kesedihan, yaitu rasa kantuk yang menimpa sebagian dari kelompok kalian; sedang kelompok yang lain diterpa rasa cemas. Mereka menyangka Allah dengan prasangka yang tidak benar, seperti  “prasangka jahiliyah”. Mereka berkata, “Apakah ada sesuatu yang dapat diperbuat dalam urusan ini? Katakan [Muhammad], “Semua urusan adalah ada di [“tangan”] Allah. Mereka menyembunyikan sesuatu dalam hatinya, sesuatu yang tidak mereka nampakkan kepadamu. Mereka berkata, “Andaikata ada sesuatu yang dapat kita perbuat, tentu kita tidak terbunuh di sini.” Katakan [Muhgammad], “Andaikata kamu tinggal di rumah kalian, tentu orang yang telah ditetapkan oleh Allah terbuh, tentu dia akan keluar juga ke tempat kematiannya.” [Dengan peristiwa itu] Allah menguji apa yang ada di dada kalian dan hendak membersihkan sesuatu yang ada di dalam hati kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada).

Musa pun “dianggap” oleh Fir’aun sebagai orang yang terkena sihir. Pernyataan Fir’aun menggunakan “zhann”, karena hanya sebatas “dugaan”, “sangkaan” saja, bukan berdasar kepada “realitas” apakah yang dibawa Musa itu benar ataukah dusta. Berikut firman tersebut yang menggunakan redaksi “zhann”(QS. al-Isra’ [17] 101):

(Dan sungguh Musa telah Kami berikan kepadanya 9 (sembilan) mu’jizat, maka tanyakan kepada Bani Israil ketika Musa datang kepada mereka dengan membawa mu’jizat tersebut; Fir’aun berkata padanya, “Sungguh aku menganggap dirimu itu musa kena sihir”).

Kata “zhann” pada ayat tersebut diartikan dengan “menganggap” yang di dalamnya terkandung makna “jugde” (penetapan, penghukuman) bahwa Musa sebagai orang yang terkena sihir. Bukan seperti manusia kebanyakan yang normal, yang tidak memiliki kelebihan sama sekali. Ternyata Musa di hadapan Fir’aun menunjukkan suatu “atraksi” yang mencengangkan dengan mu’jizat yang luar biasa.

Sedang pada ayat berikut. Allah “disangka” tidak mengetahui perbuatan orang-orang musyrik yang berbicara dengan berbisik-bisik dengan temannya, sehingga tidak didengar oleh Allah (QS. Fushilat [41]: 21-22).

(Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi atas dosa yang kami perbuat?” mereka menjawab, “Allah yang membuat kami mampu berbicara, Dia Dzat Yang membuat segala sesuatu mampu berbicara. Dia Yang menciptakan kamu pertama kali, dan kepada-Nya semua akan kembali.
Dan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulit kamu. Dan kamu menyangka [zhann] bahwa Allah tidak banyak mengetahui apa-apa yang sering kamu lakukan).

Dalam QS. al-Najm [53]: 28. Orang-orang kafir “menganggap” Malaikat sebagai makhluk perempuan karena secara lughawi (bahasa), kata benda yang diakhiri dengan ta’ marbuthah, menunjuk pada jenis perempuan. Misalnya kata fathimah, khadijah dan lainnya. Sehihngga kata malaikat, juga menunjuk pada makhluk perempuan, karena menggunakan ta’ marbuthah di akhir katanya. Namun anggapan (zhann) itu dibantah oleh Allah, karena prasangka tersbut tidak berdasar bukti yang valid dan benar. Sehingga mereka dinilai oleh Allah sebagai pernyataan yang tidak ilmiah karena hanya menyandarkan kepada persangkaan saja. Kata Allah dalam QS. al-Najm [53]: 28:

([Persangkaan mereka bahwa malaikat adalah perempuan] bukan berdasarkan ilmu pengetahuan. Mereka hanya mengikuti prasangka saja. Dan prasangka itu tidak dapat memenuhi [syarat] kebenaran sedikitpun).

Pada kasus Isal al-Masih, terjadi kontroversi di kalangan pengikutnya. Apakah yang dibunuh itu Isa al-Masih ataukah yang lain. Menurut mereka yang memusuhi Isal al-Masih, yang dibunuh adalah Nabi Isa. Tetapi menurut al-Qur’an, pernyataan bahwa mereka telah membunuh Isa al-Masih itu hanya berdasar kepada “sangkaan” (zhann) belaka, tidak berdasarkan bukti yang meyakinkan dan kenyataan yang benar. Mereka sendiri masih ragu, apakah yang dibunuh itu Isa al-Masih ataukah orang mirip dengan Isa al-Masih? Kata Allah dalam QS. al-Nisa [4]: 147 :

 (Dan pernyataan mereka, “Bahwa kami telah membunuh al-Masih, Isa ibn Maryam, Rasul Allah.” [kata Allah], “Mereka tidaklah membunuh, juga tidak menyalibnya, tetapi yang dibunuh mereka adalah yang diserupakan dengan [Isa al-Masih].sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang pembunuhan Isa al-Masih, selalu dalam keragu-raguan (syakk) tentang yang dibunuh itu. Mereka benar-benar tidak tahu [siapa yang dibunuh itu], kecuali mengikuti persangkaan belaka. Jadi, mereka tidaklahyakin [telah membunuhnya].

Dalam ayat yang lain juga dinyatakan bahwa Isa al-Masih memang diwafatkan oleh Allah SwT., bukan dibunuh para penentangnya. Kata Allah:

(“Aku tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali apa yang Engkau Perintahkan kepadaku”. [Yang aku perintahkan] adalah “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian semua!” dan aku menjadi saksi selama aku bersama mereka. Maka tatkala Engkau wafatkan aku, Engkau adalah Dzat Yang Maha Mengawasi mereka dan Engkau adalah Dzat Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.).

Karena itu al-Qur’an memerintahkan untuk: (1) menghindari prasangka, karena prasangka itu banyak negatifnya daripada positifnya. Sehingga al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa sebagian dari zhann itu sendiri terdapat itsm (perbuatan dosa).

(Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Karena sebagian dari prasangka itu merupakan perbuatan dosa. Dan jangan pula kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan jangan pula diantara kamu menyebut-nyebut kesalahan sebagian yang lain! Apakah salah seorang di antara kamu senang memakan daging [bangkai] saudaranya [yang telah mati?]. tentu kamu tidak suka. Dan bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang).

Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa amaliah yang positif harus dilandaskan pada suatu kepastian yang memang benar, tidak meragukan, baik secara konseptual-filosofisnya, maupun praktis-operasionalnya. Karena itu, al-Qur’an menyebutnya dengan konsep amal shalih. “amal shalih” bukan hanya sekedar mengandung makna amal yang baik (al-khair), tetapi di dalamnya juga harus ada kesesuaian (al-muwafaqah) dengan apa yang digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sesuatu yang baik, bila bertentangan dengan apa yang gariskan (syariat) oleh Allah, maka tidak dinilai “shalih” tetapi “tertolak” (mardud). Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Pertama, al-Qur’an menyatakan bahwa Allah merupakan sumber kebenaran (al-haq).

(Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah kemu termasuk orang yang ragu).

Ada pernyataan Umar yang sangat terkenal, “Jika perkataanku benar, maka itu datang dari Allah; dan jika perkataanku salah, maka itu dari diriku sendiri.” Ini merupakan ungkapan tawadlu’ seorang pemimpin besar Islam yang telah dinaungi cahaya Ilahi dan tercerakah pemikirannya, bahwa kebenaran yang sejati adalah kebenaran yang sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah, sedang kesalahan adalah sesuatu yang bertentangan dengan keridlaan Allah.

Kedua, al-Qur’an sendiri, merupakan kitab yang sangat meyakinkan kebenarannya. (1). Dari aspek proses turunnya. Wahyu al-Qur’an turun dari Allah, bukan bikinan Muhammad, bukan bisikan syetan, bukan mantra dukun, juga bukan untaian kata-kata penyair. Kata Allah dalam beberapa ayat berikut:

(Dan tidaklah Allah “berbicara” kepada manusia, kecuali melalui perantaraan wahyu atau dari belakang hijab atau mengutus seorang utusan [Jibril], lalu dia menyampaikan wahyu itu [kepada Nabi] dengan seizin Allah berdasar apa yang Dia kehendaki. Sungguh Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana).

(Demi bintang ketika ia tenggelam; Sahabatmu [yaitu Muhammad] tidaklah sesat [dari kebenaran], juga tidak salah keyakinannya]; Dia tidaklah mengucapkan [al-Qur’an]itu bersumber dari hawa nafsunya; [al-Qur’an] tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan; Yang diajarkan [Jibril] yang sangat kuat; yang memilki keteguhan, lalu dia menampakkan [dalam bentuk aslinya]; dan dia berada pada ufuk yang sangat tinggi; kemudia dia mendekati [Muhammad] dan bertambah dekat lagi; hingga jaraknya sekitar 2 busur panah atau lebih dekat lagi; lalu [Jibril] menyampaikan wahyu kepada hamba-Nya seperti apa yang [Allah] wahyukan kepadanya).

(Turunnya al-Kitab (al-Qur’an) dari Tuhan semesta alam, di dalamnya tidak ada keraguan sama sekali).

(Dan [al-Qur’an] bukanlah perkataan Setan yang terkutuk).

(Sungguh al-Qur’an itu wahyu (qaul) yang diterima Rasul yang mulia. Dan ia bukan perkataan penyair; sedikit sekali kamu sekalian yang beriman.  Juga bukan perkataan seorang dukun; sedikit sekali kamu sekalian yang mengambil pelajaran. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam).

(al-Qur’an ini tidak dibuat oleh selain Allah. Tetapi merupakan kitab yang membenarkan kitab-kitab yang turun sebelumnya, juga memberikan pembeda [mana yang benar dan mana yang salah], yang di dalamnya tidak ada keraguan, yang turun dari Tuhan semesta alam).

Jadi, al-Qur’an itu, sumber asalnya jelas, perantaranya juga jelas, proses pewahyuannya juga jelas, dan isinya juga jelas.

Bahkan Allah menantang orang-orang yang tidak percaya kepada al-Qur’an, baik aspek “turun”-nya maupun aspek “isi”-nya, untuk dibuatkan 1 (satu) surat (chapter) saja yang sepadan atau menyerupai dengan satu surat yang ada di dalam al-Qur’an. Kata Allah:

(Dan jika kamu ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami [yaitu al-Qur’an], maka datangkanlah 1 (satu) surat yang serupa dengannya. Dan ajak pula para pemimpin kalian selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar).

(Ataukah mereka menuduh bahwa al-Qur’an itu dibuat [oleh Muahammad]?. Katakan, “Buatlah satu surat yang sepadan dengannya, dan ajaklah siapa saja di anata kamu yang mampu [membuatnya] selain Allah, jika kakmu memamng orang-orang yang benar).

 (2). Dari aspek “isi.” juga tidak meragukan. Bahkan sangat meyakinkan. Kata Allah:

(Itulah Kitab [al-Qur’an], yang tidak ada keraguan di dalamnya, juga menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa).

Ketiga, “jalan lurus” adalah jalan Allah, berupa wahyu al-Qur’an dan Sunnah NabiNya.

(Sungguh, inilah Jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan yang lurus itu! Dan jangan mengikuti jalan-jalan yang lain, maka kamu akan tercerai-berikan dari Jalan-Nya. Begitulah Dia mewasiatkan kepada kamu, agar kamu bertakwa).

2). Mendasarkan kepada ilmu-pengetahuan. Islam mendoktrinkan ummatnya untuk mendasarkan pemikiran dan amaliahnya kepada ilmu pengetahuan, bukan berdasarkan sangkaan, atau berdasarkan ketidak-tahuan (al-jahl). Karena dalam Islam, semua amaliah manusia akan dipertanggungjawabkan QS. al-Isra’ [17]: 36

(Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sunguh pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawaban).

Amaliah yang tidak mendasarkan kepada ilmu pengetahuan, tidak dinamakan sebagai “amal shalih”. Karena amal shalih mensyaratkan adanya pengetahuan apa yang dikerjakan, bukan mendasarkan sikap ikut-ikutan, “taqlid” kepada yang lain, apalagi tidak mengetahui apa yang dikerjakan (jahil). Perbuatan akan sesuai dengan apa yang dikendaki (taqdir) Allah, manakala mengetahui tata aturan yang ditetapkan Allah. itulah yang disebut dengan “sunnatullah”. Kesesuaian dengan “sunnatullah” menjadikan sebuah amal menjadi “shalih” menurut Allah.

Oleh sebab itu, suatu pernyataan, amaliah dan sikap, harus mendasarkan kepada sikap ilmiah, bukan kepada “sangkaan”, “dugaan”, “zhann”, karena akan menyesatkan dan menimbulkan fitnah serta akibat buruk.

3). Obyektif (‘adil). Adil dalam pengertian sederhana adalah “menempatkan sesuatu pada posisinya.” Memberikan sesuatu sesuai dengan posrsinya. Menghukum sesuai dengan fakta dan kebenaran. Berlaku obyektif, tidak subyektif.

Dalam menilai sesuatu, mengambil suatu keputusan, atau menghukumi suatu perkara,  al-Qur’an mengindoktrinasi ummat Islam untuk berlaku adil kepada siapa pun. Sebaliknya, al-Qur’an melarang ummatnya berbuat keji, munkar atau zhalim.

QS. al-Nahl [16]: 90:

(Sungguh Allah memerintah [kamu] untuk berbuat ‘adil dan kebaikan. Memberi [bantuan] kepada kerabat. Dan [Allah] melarang [kamu] berbuat keji, munkar dan melebihi batas kemanusiaan! Dia menasehati kamu agar mengambil pelajaran.)

Perilaku adil, malakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, menjadi ciri khas perilaku orang mu’min laki-laki dan mu’min perempuan. Dan itu sangat historikal sekali dalam sejarah kaum muslimin hingga saat ini.

QS. al-Nisa’ [4]: 58:

(Sungguh Allah memerintah kamu untuk menunaikan amanat kepada ahlinya. Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh Allah sebaik-baik pemberi pelajaran kepada kamu. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat).

QS. al-Taubah [9]: 71.

(Orang-orang mu’min laki-laki dan orang-orang mu’min perempuan, satu dengan sebagian yang lain saling menjadi penolong. Mereka senantiasa amar ma’ruf dan mencegah kemunkaran, mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka itu akan senantiasa amendapat rahmat Allah. sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha bijaksana).

(3). Al-Qur’an memberikan wejangan agar orang beriman melakukan hal-hal yang baik dan menjauhi hal-hal yang buruk, baik dalam perkataan dan perbuaan, karena apa yang dikatakan dan diperbuat sekecil apa pun, pasti diawasi (Raqib dan ‘Atid [QS. 50: 18]), dicatat (naktubu [QS. 36: 12]), dan dilihat Allah (yara [QS. 99: 7-8]). Oleh sebab itu, Al Qur’an menyuruh orang beriman untuk berkata benar, tidak bohong (QS. 4: 9; 33: 70), karena akan berdampak pada perbaikan perilaku dan pengampunan Allah. Itulah yang akan membawa kepada kebahagiaan (QS. 33: 71).

(Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalan kamumu dan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kebahagiaan yang besar).

4). Menerima adanya perbedaan, kemajemukan atau pluralitas. Islam menyatakan bahwa wujudnya kelompok, golongan, suku, bangsa, ras dan lainnya, merupakan keniscayaan dari sunnatullah yang telah ditetapkan Allah pada ciptaannya (QS. 49: 13). Pluralitas jismiyah jangan sampai menimbulkan sikap diskriminatif, stereotipe, benci, permusuhan, gesekan sosial dan lainnya. Justru keragaman fisikalitas merupakan kekayaan kesadaran bahwa manusia tidak mampu untuk menciptakan hal yang sama seperti ciptaan Allah. Kesadaran harus dikedepankan dalam menerima pluralitas. Adanya kemajemukan, pluralitas merupakan pemacu dalam ber-“fastabiqul khairat” (berkompetisi dalam kemaslahatan) dan “taqarrub” (mendekat) kepada Allah agar mencapai derajat taqwa (QS. 49: 13). Bukan sebaliknya, pluralitas dijadikan pemantik untuk merendahkan kelompok, perbedaan gender, ras dan lainnya ((QS. 49: 11). Kemajemukan jangan dijadikan pembenar untuk menyudutkan yang lain sehingga timbul permusuhan. Al-Qur;an mendoktrinkan untuk tidak menjadikan hal-hal yang tidak fundamental, sebagai pemicu untuk mencari kelemahan yang lain (QS. 49: 12), sesuatu yang hakikatnya tidak produktif dan berpotensi menjadi pemicu chaos dan perbuatan destruktif bahkan memicu peperangan dan genocida (QS. 49: 9).

Kemajemukan merupakan kekayaan yang harus dicapital untuk menjadi modal sosial yang bernilai tinggi, dengan menerima kemajemukan tersebut dengan penuh kesadaran. Setiap klan, atau kelompok memiliki ciri khas dan kelebihan masing-masing yang unik, menjadi modal sosial dan kekayaan sosial. Kita hargai kelebihan dan ciri khas masing-masing sebagai keragaman mozaik sosial yang indah dan berwarna-warni.

Dalam ranah ideologi, pemikiran dan keyakinan, Islam pun mengakui adanya keragaman, tidak tunggal. Al-Qur’an sendiri yang menyatakan bahwa setiap ummat memiliki tata cara beribadah kepada Allah dan metode untuk mendekatkan diri kepada-Nya (QS. 5: 48).

(Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan Kitab-Kitab yang diturunkan sebelumnya dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semuanya akan kembali, lalu Dia memberitahukan apa yang dulu kamu perselisihkan).

Namun tidak berhenti pada pengakuan adanya kemajemukan saja. Doktrin-doktrin keagamaan pun harus difikirkan, tidak diterima apa adanya, tanpa memahami epistemologinya, sehingga terjerumus ke dalam kesesatan dalam sisi aksiologisnya.

Islam mendorong berfikir kritis, maju dan menolak taqlid. Oleh sebab itu Islam mendorong adanya sikap “tasamuh” (toleran) terhadap adanya keragaman pendapat, pemikiran dan orientasi tiap-tiap kelompok, organisasi, atau persyarikatan. Karena setiap orang atau kelompok tentu memiliki pemikiran sendiri yang berbeda dengan lainnya. “Lain orang, lain kepala,” kata orang Melayu. Jadikan keragaman pemikiran sebagai kekayaan khazanah kebudayaan Islam yang tak ternilai harganya.

Dengan penerimaan dan pengakuan adanya kemajemukan, pluralitas, maka sikap simpati akan tumbuh subur sehingga mampu menghadirkan produktifitas budaya yang berkeadaban (civilize). Bukan mengedepankan pandangan “prejudice”, “zhann” dan syakwasangka, yang tidak produktif dan hanya melahirkan sinisme dan permusuhan. Energi terbuang sia-sia hanya untuk hal-hal yang pariferal, sedang yang fundamental terlupakan. Na’udzubillah.

0 komentar:

Posting Komentar