Kamis, 08 November 2018

Di Tanya JPU(jaksa penuntut umum) baru Mengakui kalau bandar sabu-sabu.

Kamis .08-11-2018.18"30wib


Surabaya Harian Merdeka post.com
Risky Dwi Prasetyo, terdakwa kasus Narkotika jenis sabu mengakui kesalahanya melakukan dua kali transaksi etelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dedy Arisandi melontarkan pertanyaan kepada terdakwa kepada siapa saja barang haram itu dijual..

Pernyataan itu diakui Risky saat gelar sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (8/11).

"Dijual ke Candra (DPO)" singkat Risky menjawab pertanyaan JPU Dedy.

Sebelumnya, terdakwa sempat berkelit bahwa sabu sebanyak 4 poket dengan berat 2,76 gram itu ia konsumsi sendiri bersama kedua rekannya Andik Aprian dan Axl (Eksel) Firtiyan.

Risky juga mengaku bahwa ia telah kecanduan dengan barang haram tersebut.

"Saya konsumsi sendiri, kalau tidak [nyabu] badan saya lemas" Akunya.

Terdakwa bahkan sempat membuat kesal Ketua Majelis Hakim R. Anton Widyo Priyono, saat ditanya terkait barang bukti timbangan elektrik yang ditemukan oleh petugas saat melakukan penggeledahan dirumahnya, di Jalan Wonorejo II No. 29 C RT.002 RW.004 Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Tegalsari, Surabaya.

Risky menjawab pertanyaan Hakim dengan mengatakan, timbangan tersebut ia gunakan untuk mengetahui kadar berat dari sabu yang telah ia beli dari Lucky alias Bagong (DPO).

"Kamu tak tanyain bohong ditanya sama [JPU] ngaku, disini gak usah bohong, matamu itu tadi bergerak kesana kemari  kelihatan bohongnya" kata R. Anton.

Selain menjual pada Candra, terdakwa juga mengakui pernah menjual sabu pada Andik Aprian (berkas penuntutan terpisah). pada hari Minggu tanggal 19 Agustus 2018 sekira pukul 15.00 Wib di rumah terdakwa dengan harga Rp. 100.000.

Timbangan elektrik itu akhirnya diakui terdakwa digunakan untuk memecah poket sabu yang telah ia beli pada Lucky sehingga menjadi beberapa paket klip kecil untuk di ecer (dijual) dengan harga antara Rp. 200 hingga Rp. 300 Ribu Rupiah.

Atas perbuatannya itu, JPU mendakwa Risky dengan dakwaan pasal 114 ayat (1) UU RI Nomer 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Adapun ancaman hukuman maksimal pada pasal tersebut ialah 20 tahun dan pidana denda Rp 10 miliar rupiah.(spt)

0 komentar:

Posting Komentar