Minggu, 25 November 2018

BLUNDER


Catatan : Dr. Amam Fakhrur

Harianmerdekapost.com Sudah agak lama saya tidak nonton Persebaya bertanding. Tetapi kemaren, Sabtu , 10 Nopember 2018,  saat santai di Sidoarjo, saya menonton Persebaya saat berntading di Liga I melawan PSM, sang pemuncak klasemen, meski hanya melalui layar kaca televisi. Semula pertandingan antara dua ex perserikatan itu berlangsung ketat dan seru. Sampai separoh babak pertama belum ada gol tercipta. Namun di menit ke 40, pemain belakang PSM, Steven Paull  bermaksud mengamankan  pertahanan dari derasnya serangan pemain Persebaya dengan menyundul bola ke kiper Rifki Mokodompit, namun sundulannya tanggung, sehingga diserobot oleh penyerang Persebaya , Ferdinan Pahabol,  ia menahan bola sebentar lalu menyonteknya dengan kaki kiri  dan berbuah gol. Apa yang dilakukan oleh Steven Paull dinilai sebagai  blunder ang berakibat gol untuk lawan dan merugikan timnya.

Blunder adalah istilah yang memang acapkali digunakan dalam dunia sepak bola, yang menunjuk kepada tindakan keliru, ceroboh, sembrono dari pemain  yang berakibat fatal bagi timnya. Dalam event internasionalpun blunder oleh pemain sering terjadi. Dalam Piala Dunia 2018, kiper Spanyol David De Get, yang nota bene kiper terbaik Liga Inggris, gagal menahan tendangan lurus Cristiano Ronaldo, bola masuk dan gol untuk Portugal. Juga Willy Cabalerro, kiper Argentina gagal melakukan  passing, bola disongsong lawan, Ante Rebic yang segera ia melakukan tendangan first time  , berbuah gol dan Kroasia unggul atas Spanyol.

Dalam perkembangannya istilah blunder juga akrab di dunia politik. Keputusan  pemerintah pada tanggal 5 Mei 1998, menaikkan harga BBM, di tengah krisis ekonomi dari semula harga bensin Rp.700,- perliter  menjadi Rp.12.000,- perliter, dinilai sebagai blunder  yang berunut dengan aksi turunnya mahasiswa ke jalan  dengan berbagai tuntutan. Langkah yang ditempuh dengan menurunkan kembali harga BBM menjadi Rp. 600,- perliter, ternyata tidak efektif,  krisis sosial berupa kerusuhan massa dan krisis politik terjadi yang kemudian berujung kepada  lengsernya sang Presiden, Jenderal Besar ( Purn )  Soeharto. 

Kitapun menyaksikan jelang pilpres 2019, betapa seringnya timses di masing - masing kubu dinilai melakukan blunder politik yang tercermin dalam komunikasi politik  yang kontrapriduktif, sehingga potensial dapat menggerus dukungan massa. Era media elektronik digital sangat mempengaruhi efektifitas komunikasi politik massa,  tindakan konyol, sangatlah mudah dan cepat menggerus dukungan massa.

Blunder dalam lapangan apapun termasuk dalam sepak bola dan politik, meski bisa berdampak sangat merugikan dan sangat mengecewakan, sesungguhnya hal itu hanyalah rugi dan kecewa dalam bunga- bunga dan senda gurau dunia . Dalam kehidupan ini,  rugi dan  kecewa sering datang dan pergi. Adanya pergantian menjadi kesenangan dan keuntunganpun sangat bersifat nisbi. Kecewa akibat blunder yang berbuah gol dan blunder politik yang menggerus dukungan massa, masih dapat dicari,  diganti dengan kemenangan dan banjirnya dukungan massa dan mendapatkan kekuasaan di waktu lain,meski kemenangan dan dukungan itu tidak abadi, ia akan  berhenti dan berakhir karena keterbatasan manusia sebagai makhluk. Oleh karena itu menurut saya,  boleh suatu ketika manusia melakukan blunder  dalam keduniaan, akan tetapi tidak untuk bertindak blunder dalam memilih jalan menuju kehidupan yang kekal abadi.

Menuju kehidupan kekal abadi adalah  dengan memilih jalan Tuhan. Jalan berupa  keputusan untuk tunduk dalam pimpinan Tuhan dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya  ( mengikuti perintah dan meninggalkan larangan-Nya ), tidak mengandalkan kemampuan diri, karena pada diri manusia terdapat kelemahan, kekurangan dan keterbatasan. Sosok manusia di jalan-Nya,adalah sosok yang  keberadaan hidupnya seteguh batu karang, tidak mudah diombang - ambingkan oleh badai apapun. Siapapun yang mencapai tujuan haruslah tahu jalan dan jalan yang ditempuh haruslah jalan yang benar yaitu jalan Tuhan, bukan jalan menurut pengertian manusia itu sendiri.
Allah SWT,  yang kita yakini haq ,  setelah berfikir mendalam, merenung  tadabbur ) alam dan adanya informasi  berupa wahyu, telah  menuntun  agar manusia memilih jalan-Nya, dan tidak melakukan blunder memilih jalan selain-Nya. 

 Allah SWT berfirman dalam QS. Al-An'am, ayat 153 :" Dan bahwa ( yang kami perintahkan ) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan ( yang lain ), karena jalan - jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya ". Wahyu yang turun dan teladan  Nabi yang diutus adalah pedoman untuk meniti di jalan-Nya. Memang tidak mudah meniti di jalan Tuhan yang sebenarnya membahagiakan dan mensejahterakan, kebanyakan manusia meniti jalan menurut pengertian dan nafsunya.

Jalan hidup yang ditempuh seseorang, apakah jalan Tuhan atau jalan selain-Nya, sangatlah   dipengaruhi oleh pilihan sistem kepercayaan dan keyakinannya. Benar kata ahli bijak,  "You are what you believe" ( Apa yang kamu percayai menentukan sikap dan prilakumu ). Wallahu a'lam . ( KA Sembrani eks 2, Ahad, 11/11/18 ).(Sudono Syueb/ed)

0 komentar:

Posting Komentar