Selasa, 16 Oktober 2018

Adab Menghormati Para Guru


Oleh: Sudono Syueb

(Alumni Ponpes YTP. Kertosono dan Staf Pengajar Fikom, Univ. Dr. Soetomo, Surabaya)

Harianmerdekapos.com Kalau selama ini ada pihak pihak tertentu menyatakan bahwa generasi milenial sekarang ini kurang beradab terhadap para orang tua dan atau para guru dan atau dosennya, itu kurang tepat. Memang ada beberapa kasus, seorang murid aniaya gurunya hingga babak belur, bahkan ada yang meninggal. Tapi itu bersifat kasuistik dan tidak mewakili seluruh adab murid terhadap guru/dosennya. 
Saya sendiri selama mengajar di Fikom Univ. Dr. Soetomo, Surabaya, merasa sangat dihormati dan dimulyakan seluruh mahasiswa/mahasiswi saya. Ketika mereka masuk kelas saya, dan saya sudah di dalam, pasti mereka menyalami n mencium tangan saya. Demikian juga kalau pulang, satu persatu nyalami saya sambil mengucapkan, TERIMAKASIH ya Pak Dono. 
Ini menunjukkan bahwa karakter mereka sangat beradab dan mulya. Saya merasa bangga punya mahasiswa yang memiliki karakter positif sepeti itu. Ini bukanlah semata karena tanganku yang faqir ini diciumi mereka, tapi lebih karena saya bersyukur kepada Allah, karena murid muridku mamiliki akhlak/adab yang mulya dalam berinteraksi sosial seperti itu. Semoga ilmu mereka manfaat dan barokah serta sukses dunia akhirat.

Mereka itu, para generasi milenial, seolah olah telah mewarisi akhlaknya para Salafush sholihin, yang telah beri suri tauladan kebajikan untuk manusia setelahnya. Mereka  telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap guru gurunya. 
Misalnya Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu pernah berkata,

كنا جلوساً في المسجد إذ خرج رسول الله فجلس إلينا فكأن على رؤوسنا الطير لا يتكلم أحد منا

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Demikian pula Ibnu Abbas seorang sahabat yang ‘alim, mufasir Al Quran umat ini, seorang dari Ahli Bait Nabi Shollallahu alaih, pernah menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit al-Anshari radhiallahu anhu, dan berkata,

هكذا أمرنا أن نفعل بعلمائنا

“Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami”.

Sementara itu. Abdurahman bin Harmalah Al Aslami berkata, 

ما كان إنسان يجترئ على سعيد بن المسيب يسأله عن شيء حتى يستأذنه كما يستأذن الأمير

“Tidaklah sesorang berani bertanya kepada Said bin Musayyib, sampai dia meminta izin, layaknya meminta izin kepada seorang raja”.

Sedang Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata,

مَا وَاللَّهِ اجْتَرَأْتُ أَنْ أَشْرَبَ الْمَاءَ وَالشَّافِعِيُّ يَنْظُرُ إِلَيَّ هَيْبَةً لَهُ

“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya”.

Imam Syafi'i dihormati dan dimulyakan murid muridnya, disamping karena ilmunya yang luas dan faqih, karena selama nyantri, Imam Syafi'i sangat menghormati dan memulyakan guru gurunya.

Perhatikan perkataan Al Imam As Syafi’i, muridnya Imam Malik, berikut ini

كنت أصفح الورقة بين يدي مالك صفحًا رفيقًا هيبة له لئلا يسمع وقعها

“Dulu aku membolak balikkan kertas  di depan  Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya”.

Maka tak heran kalau ilmunya Imam Syafi'i manfaat dan barokah karena tawadhu' dan penghormatannya pada gurunya, Imam Malik.

Diriwayatkan oleh Al Imam Al Baihaqy, Umar bin Khoththob pernah berkata, 

تواضعوا لمن تعلمون منه

"Tawadhu'lah kalian terhadap orang yang mengajari kalian"

Abu ‘Ubaid Al Qosim bin Salam berkata, “Aku tidak pernah sekalipun mengetuk pintu rumah seorang dari guruku, karena Allah berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّى تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Kalau sekiranya mereka sabar, sampai kamu keluar menemui mereka, itu lebih baik untuknya” (QS. Al Hujurat: 5).

Sungguh mulia akhlak mereka para suri tauladan kaum muslimin, tidaklah heran mengapa mereka menjadi ulama besar di umat ini, sungguh keberkahan ilmu mereka buah dari akhlak mulia terhadap para gurunya.

0 komentar:

Posting Komentar