Rabu, 22 Agustus 2018

"Menggali Makna Sejati, Keteladanan & Pengorbanan Agung Nabi Ibrahim as - Bunda Siti Hajar dan Ismail as "


Oleh : Ir. H. Achmad Nurhono MSc.

( Konsultan Migas; Motivator Leadership Nasional KBPII Pusat/ Yogyakarta; Pendiri Program Sekolah Kepemimpinan Umat & Bangsa-SKUB Depok)

Harianmerdekapost.com Salah satu kaedah prinsip kebenaran Sunatullah Kauniyyah dalam kehidupan di dunia adalah bahwa sejatinya setiap keberhasilan senantiasa menuntut semangat berkorban. Tanpa semangat itu, keberhasilan atau kesuksesan adalah mustahil. Begitu agung dan mulianya semangat pengorbanan itu, sehingga nilai kebalikannya pun berbanding lurus : betapa hinanya hidup tanpa semangat pengorbanan dan solidaritas sosial. Yaitu hidup egoistis, serakah, kikir, dan mementingkan diri sendiri. Bahkan dengan pengorbanan yg agung dan mulia yg ikhlas karena Allah semata, Insya Allah peradaban yg berakhlaq bertumpu pada dasar aqidah Islamiyah yg kokoh pun dapat lahir berkembang menjadi bibit unggul dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, serta bangsa dan negara.   


Dalam Al-quran  ada dua peristiwa penting yang dapat dijadikan sebagai titik tolak awal sejarah peribadatan kurban. Peristiwa pertama terjadi dimasa Nabi Adam a.s, ketika kedua putranya Habil dan Qabil mendapat7 perintah untuk mengorbankan hasil usahanya.

Habil, mengorbankan hasil peternakannya, sementara Qabil mengorbankan hasil pertaniannya. Sayangnya, Qabil tidak ikhlas mengorbankan hasil pertanian yang telah Allah karuniakan. Sementara, Habil dengan tulus ikhlas mengorbankan hasil ternaknya, dengan memilih yang terbaik untuk dikorbankan kepada Allah : 
"qaala la aqtu-lan-nak, qaala in-namaa yataqab-balul-laahu minal mut-taqiin";
 artinya : sesungguhnya kurban yang akan diterima Allah ialah kurban dari orang yang bertaqwa"). 


Akhirnya Allah menerima pengurbanan Habil dan menolak pengurbanan Qabil.
          
Peristiwa kedua, adalah semangat berkorban yang setinggi-tingginya dan setulus-tulusnya telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s. Yaitu ketika beliau diperintahkan untuk mengorbankan puteranya yang tercinta, Ismail. Padahal I'smail itu dianugerahkan Tuhan kepada Ibrahim ketika ia telah mencapai usia lanjut, dan telah lama sekali mendambakan keturunan. Nama I'smail, berasal dari kata "isma" artinya mendengar, dan "El" itu Allah (Tuhan). Jadi Ismail (Isma-El), itu artinya Allah maha mendengar, sehingga mengabulkan do'a  Nabi Ibrahim untuk memberikan keturunan.
         
Ibrahim berdo'a : 
"Rab-bi hablii minash shaalihiin, faabasy-syarnaahu bighulaamin haliim",artinya :

"Ya Tuhan, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang akan termasuk orang-orang yang saleh". 

Maka Kami (Tuhan) sampaikan kepadanya kabar gembira, dengan seorang anak yang santun").

Nabi Ibrahim a.s, yang juga sekaligus seorang ayah, pemimpin keluarga, masyarakat dan bangsanya, manusia shaleh yang dicintai Allah SWT, bahkan sampai usia tua, tidak pernah jemu-jemu “berdoa” untuk dianugerahi anak yang shaleh, sumber daya manusia shaleh, generasi pewaris dan penerus perjuangan untuk menegakkan keyakinan Tauhid dalam kehidupan. 


Doa’nya dikabulkan Allah dan lahirlah dari rahim bunda Siti Hajar Nabi Ismail a.s. Sehingga prinsip pertama dan utama dalam membangun generasi yang shaleh harus diawali dari keshalehan pemimpinnya yang beriman dan bertaqwa kepada Allah dan Insya Allah akan dimakbul do’anya cerminan dari keprihatinan lahirnya suksesi yang amanah. 

Namun, setelah setelah Ismail berusia remaja, melalui mimpi sampai 3 kali, ujian ketaatan untuk menyembelih anaknya hadir, dan ini diabadikan dalam dialog demokratis partisipatip yang sangat indah dan menyentuh jiwa terdalam kasih sayang seorang ayah dengan anaknya, perhatikan dialog ini :

"Falam - maa balagha ma'ahus sa'ya, qaala yaa bunay-ya, in-nii araa fil manaaami, an-nii adzbahuka fanzhur maadzaa taraa,artinya : 
"Dan ketika dia, Isma'il, telah mencapai usia untuk bekerja bersamanya, Ibrahim berkata kepadanya, "wahai anakku, sesungguhnya aku telah melihat dalam tidurku bahwa aku mengorbankan engkau. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu ?").

Demi meraih perkenan dan ridho Allah, dan demi kebahagian yang abadi, kedua ayah dan anak itu tunduk dan patuh :

"Qaala yaa abatif'al maa tu'maru. Sattajidunii in syaa- Allaahu minashaabiriin , artinya : Dia Isma'il menjawab, "wahai bapakku, laksanakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu itu, dan engkau akan mendapati diriku insya-'l-Lah termasuk mereka yang tabah.").

"Falam-maa aslama wa tal-lahuu liljabiin" , artinya : "Maka ketika mereka berdua, Ibrahim dan Isma'il, itu telah pasrah, dan tatkala Ibrahim merebahkan Isma'il pada wajahnya (untuk dikorbankan), kami Tuhan berseru :").

"Wa naadainaahu ay yaa Ibraahiim",artinya : "Wahai Ibrahim, engkau sungguh telah membenarkan mimpimu !".

"Qad shad daqtar ru'yaa; in-naa kadzaalika najzil muhsiniin. In-na haadzaa lahuwal balaa-tul mubiin. Wa fadainaahu bidzibhin azhiim. Wa taraknaa 'alaihi fil aakhariin",Artinya :
"Begitulah Kami (Tuhan) membalas orang-orang yang baik. Sungguh kejadian itu adalah ujian yang nyata (bagi Ibrahim). Dan dia, Isma'il, pun Kami tebus dengan seekor domba yang besar, dan Kami tinggalkanlah pada  Isma'il itu (percontohan) untuk orang-orang yang datang kemudian".

"Salaamun alaa Ibraahiim. Kadzaalika najzil muhsiniin. In-nahuu min ibaadinal mu'miniin", artinya : 
"Selamat sejahtera atas Ibrahim. Dan begitulah Kami (Tuhan) membalas kebaikan orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ibrahim itu termasuk kalangan hamba-hamba-Ku yang beriman sepenuh hati"). (QS.Al-Shaffat, 37 : 102-111).

Begitulah indahnya rekaman kisah agung dan suci dalam kitab Allah tentang dua insan, ayah dan anak, yang sangat mengharukan; tentang dua hamba-Nya yang saleh, dua orang Rasul beserta Bunda Siti Hajar, yang kelak menjadi tauladan "keluarga nabi suci" bagi ummat manusia tentang bagaimana seharus dalam mentaati perintah Tuhan, diletakkan dalam posisi yg adil dan benar.

Membaca kisah yang menyentuh hati itu, tentu timbul pertanyaan dalam diri kita :

Mengapa Nabi Ibrahim as begitu tega atau sampai hati bertindak mengorbankan seorang anak,puteranya sendiri, yang telah lama didambakan dalam harapan do’anya, dan hanya diperoleh setelah berusia cukup lanjut ?

Mengapa pula Isma'il, anak, sang putera, dengan penuh pasrah, taat total kepada Allah menyerahkan dirinya kepada ayahnya untuk siap-ikhlas dikorbankan ?

Jawabnya, Tidak lain adalah karena Nabi Ibrahim as dan Isma'il telah manyadari bahwa hidup ini tidak akan mempunyai arti apa-apa kecuali jika mempunyai kerangka kokoh berisi makna dan tujuan hidup sejati. Karena mereka percaya bahwa didalam semangat berkorban itulah makna dan tujuan hidup ini mereka temukan. Serta menginsafi bahwa makna dan tujuan hidup yang benar adalah dalam meraih ridha Allah SWT.

Ridho Allah swt itulah yang menjadi tujuan hidup kita. Sebab dalam ridho Allah swt atau perkenan Tuhan itulah kita akan merasakan kebahagian (sa' dah) sejati, kebahagian yang kekal abadi. Kebahagiaan sejati sebagaimana didefinisikan maknanya  secara komprehensip menurut Prof.Dr.SMN. Al-Attas sebagai berikut : 

”kebahagiaan” (sa’adah) itu bukan dianya merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan akal-fikri insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam fikiran dan nazar-akali belaka. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan Hakikat Terakhir yang Mutlak yang dicari-cari itu – yakni: keadaan diri yang yakin akan Hak Ta’ala – dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri itu berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.”

Dan keyakinan adalah suatu keadaan diri yang kekal berada dalam diri insan dan yang merujuk pula kepada sesuatu yang kekal tentang insan - dan sesuatu yang kekal tentang diri insan itu dikenalinya dengan nazar serta rasa batinnya sebagai suatu alat hidup rohani yang digelar qolbu.

Maka kebahagiaan itu adalah keyakinan yang kekal mesra menetap dalam qolbu insan; dia itu keamanan dan kedamaian serta ketentraman qolbu; dia itu ilmu, dan ilmu itu keimanan dan keadaan beriman; dia itu juga ilmu yang memberitahu tentang tempat yang wajar dan keadaan yang tepat, keadaan yang benar dan betul bagi diri insan dalam "Rencana" pelbagai martabat alam mahluk jelata; dan tempat yang wajar serta keadaan yang tepat dan benar, serta betul bagi diri itu, dan adalah tempat dan keadaan yang benisbah kepada Khaliqnya; dia itu juga sesuatu keadaan yang dikenal sebagai 'adl' yakni keadilan".

(SMN Al-Attas, Ma’na Kebahagiaan dan Pengalamannya dalam Islam, Kuala Lumpur: ISTAC:2002, pengantar Prof. Dr. Zainy Uthman, hal. xxxv).

Maka seperti dikatakan kaum sufi, 'Ya Tuhan, Engkaulah tujuanku, dan ridla-Mulah yang kucari.".

“Ya ayyatuhan nafsu’l muthmainnah, irji’ii ilaa Rabbiki rodhiyatam mardhiiyah, Fadh- khulii fii ibaadii, wadh khulii jannatii”; Artinya :  “Wahai jiwa yang tenang; Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya; Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hambaKu; Dan masuklah ke dalam surga-Ku”(QS.Al-Fajr,  89 : 27-30).
        
Ibrahim dan Isma'il menuju Allah dan mereka menemukan Allah dalam perintahnya untuk berkorban. Mereka mencari ridla dan perkenan itu dalam semangat berkorban. Sebab sekalipun tidak terjadi Ibrahim mengorbankan Isma'il - karena telah diganti dengan binatang sembelihan yang besar, namun baik Ibrahim yang melaksanakan korban dan Isma'il yang menjadi korban, telah memperlihatkan dengan sebaik-baiknya bahwa mereka memiliki semangat berkorban yang sangat tinggi.

Mereka adalah role model contoh keteladanan  manusia-manusia saleh/baik yang sempurna (al-insan al-kamil), sekaligus manusia yang beradab (man of adab, insan adabi) yaitu orang yang secara ikhlas menyadari bahwa ia memiliki tanggung jawab terhadap Allah, yang memahami dan memenuhi kewajiban untuk dirinya dan orang lain di dalam masyarakat melalui keadilan, serta berusaha memperbaiki setiap aspek dari dirinya agar mencapai kesempurnaan sebagai seseorang yang beradab (Insan adabi, Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, para.15, hal.54).

Mereka adalah contoh teladan manusia-manusia suci yang telah mencapai kondisi puncak kebahagiaan (saa’dah), yang diketahui dari pengalaman dan kesadaran diri cermin kepasrahan total kepada Allah SWT, ketaatan pada petunjuk-Nya dimana puncak amal soleh hidupnya berada dalam kecintaan yang tulus ikhlas kepada Allah SWT mengikuti cara dan bentuk mengikuti tuntunan wajib Rasulullah SAW.

Dan disinilah sejatinya letak rahasia-rahasia diberikannya anugerah oleh Allah (al-hikmah)dibalik keberhasilan ujian dan cobaan terhadap Nabi Ibrahim dan Isma'il, yaitu bahwa ternyata pengorbanan tersebut tidaklah sia-sia, bahkan diganti oleh Allah swt. dengan karunia-karunia yang luar biasa nilainya, antara lain :

1. Digantikannya pengorbanan Isma'il, dengan seekor domba yang besar, yang diturunkan dari gunung Khaidir; : artinya : pengorbanan itu digantikan dengan pengorbana yang besar").

2. Allah SWT kekalkan pujian yang baik untuk nabi Ibrahim a.s dilingkungan manusia didunia. Sehingga menjadi manusia yang dicintai dikalangan agama atau aliran apapun juga. Orang-orang Yahudi, Nasrani dan bahkan Islam mengagungkannya. Inilah buah dari makbulnya do'a Nabi Ibrahim :

Artinya : Jadikanlah aku (Ibrahim) buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan(QS.As-Syu'araa,84-85).

3. Dikaruniakan anak Ishaq yang kelak menjadi Nabi, dan para malaikat, manusia serta jinpun, selalu memberi salam sejahtera : "salamun a'laa Ibrahiima"(Salam dan sejahtera untukmu Ibrahim)..

4. Dicurahkan keberkatan kepada Nabi Ibrahim as, anak-anaknya serta cucu-cucunya didunia dan akherat, serta diabadikan dalam perintah sholat untuk sellalu mendo'akan Nabi Ibrahim a.s serta keleurganya :  Ya Allah, curahkanlah rahmat kepada Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad saw, dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkati Nabi Ibrahim as dan keluarga Ibrahim as dikalangan seluruh alam".

5. Dijadikan ritual wajib manasik ibadah haji dan umroh, yang disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW, merujuk pada sejarah seluruh perjalanan suci, rihlah suci Nabi Ibrahim Ismail dan bunda Siti Hajar :

Ibadah Haji,pada hakekatnya adalah penegasan kembali 
dari setiap jamah Haji, tentang keterikatannya  terhadap
Prinsi-Prinsip  keyakinan Nabi  
Ibrahim as,  a.l  :

1.  Pengakuan akan keesaanTuhan (Tauhid), serta penolakannya terhadap 
segala  macam dan  bentuk-bentuk  kemusyrikan, a.l : 
patung, bintang, bulan, matahari, bahkan segala sesuatu 
selain daripada  Allah SWT, termasuk meng-Ilahkan hawa nafsu diri sendiri yang merusak (nafsul amarah dan lawammah) (QS.Al-Jaatsiyah, 45 : 23).

2.  Keyakinan  tentang  
adanya   neraca    keadilan  
Allah  SWT dalam kehidupan
ini  dan yang puncaknya akan 
di peroleh setiap mahluk pada hari kebangkitan  kelak.

3.  Keyakinan  tentang wujud dan kondisi kemanusiaan  
yang  bersifat  Unversal, 
tiada perbedaan yang  
fundamental-mendasar dalam ke-manusiaan  seseorang 
dengan lainnya (faham egalitarism), betapa
pun terdapat perbedaan fisik (physical appearance) antara mereka dalam hal -hal lainnya (Budaya, keturunan, kulit, suku, bahasa dan  bangsa).(sudono syueb/ed)

0 komentar:

Posting Komentar