Rabu, 22 Agustus 2018

Bahasa, Wahyu dan Fithrah (bagian pertama)

oleh: Bukhori At-Tunisi
Alumni Ponpes YTP, Kertosono; dan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Harianmerdekapost.com Al-Jurjani mendefinisikan manusia sebagai makhluk berfikir (al-Insan hayawan nathiq). Definisi ini, hampir dibahas dalam semua kajian ilmu humaniora, logika dan filsafat. Manusia, itulah yang pertama obyek bahasan yang diposisikan sebagai “hewan”. Apakah kemudian manusia merupakan hewan? Drijarkara menyebutnya hanya “sebagian” dari “diri” manusia, merupakan “bagian” dari hewan. 
Muhammad Nur al-Ibrahimi, penyusun buku ’Ilm al-Manthiq, yang banyak dipakai di Pesantren “salafi”; saat membahas masalah qadliyah (proposisi), memberikan contoh kalimat, al-Insan hayawan nathiq (manusia adalah hewan yang dapat berbicara). Apakah hayawan pada definisi tersebut sebagai dzatiy (esensi) ataukah ‘aradl (form) saja? Bila dzatiy berarti manusia memang “betul-betul” hewan; namun jika ‘aradl, berarti manusia hanya memiliki kemiripan “bentuk” saja dengan hewan. 
Siapakah manusia itu? Berbagai aliran mmengemukakan argument masing-maasing sesuai dengan alirannya. Bagi kaum fisiologis, manusia tidak banyak berbeda dengan fisik hewan. Sedang bagi kaum rasionalis, manusia itu makhluk berfikir logis; bagi kaum idealis, manusia adalah makhluk ruhani; bagi kaum agamawan, manusia adalah makhluk bertuhan. Begitu seterusnya.
Al-Qur’an sendiri, tidak pernah menyebut manusia sebagai hewan. Al-Qur’an menyebut manusia sebagai ciptaan Allah yang terbuat dari tanah atau air. Penyebutan manusia dengan hewan, di dalam al-Qur’an hanya menyebut  pembanding sifat manusia saja, buka  sebagai esensi manusia. Al-Qur’an selalu menggunakan kata “seperti”, “laksana”, “bagaikan” yang dalam bahasa Arabnya adalah:  ك , مثل , كمثل  tidak lebih dari itu. Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan bahwa manusia adalah hewan beriman, hewan berfikir, atau hewan beramal dan lainnya.
Memposisikan “nathiq” sebagai fashl (الفصل), distingsi, atau pembeda antara “insan” (manusia) dengan “ghairu insan” (selain manusia). Berarti, manusia disebut insan manakala dia memiliki kemampuan nathiq. Jika kemampuan nathiqnya tidak ada, maka dia bukan sebagai insan. Karena yang membedakan antara manusia dengan selain manusia adalah kemampuan berfikir logis tersebut.
Manusia berfikir dengan akal-fikirannya, dengan logika sehat, dirumuskan pemikiran rasional, konsisten, dan koheren. Hasil rumusan pemikiran logis tersebut, antara lain, diekspresikan melalui media bahasa. Dengan menggunakan media bahasa, manusia dapat mengungkapkan uneg-uneg (isi hati), emosi, keinginan, perasaan dan fikirannya. Muhammad al-Naquib al-Attas menyatakan, Manusia dengan kemampuan berfikir logis (al-nuthq), mampu menyampaikan kata-kata, simbol-simbol linguistik yang bermakna. 
Bagi Naquib al-Attas, bahasa merupakan “wadah” ungkapan makna, ekspresi mental, perasaan, hasrat, emosi dan fikiran. Ekspresinya disimbolkan dalam bentuk kata, isyarat, mimik muka, gerakan tubuh dan sebagainya. Sehingga secara maknawi, bahasa merupakan ekspresi mental, fikiran dan pesan dari “diri” seseorang; sedang dari sisi simboliknya, bahasa  merupakan tanda atau simbol.
Syed Husein Nasr menyatakan, sebagai makhluk theomorfis, manusia memiliki 3 (tiga) kemampuan pokok yaitu: 1). Berfikir logis (hurriyah al-fikr); 2). Kehendak bebas (hurriyah al-iradah); 3). Kemampuan berbicara (quwwah al-nathiq). Ketiga kapasitas tersebut menurut Nasr, dapat membuat suatu rangkaian aktifitas-kerja yang integral menuju Tuhan. Dengan potensi akalnya, manusia dapat mengenal Tuhannya; dengan kehendak bebasnya manusia dapat berikhtiyar agar dekat dengan Tuhannya; dan melalui ungkapan linguistiknya, manusia mampu berkomunikasi lewat doa-doanya dengan Sang Khalik. Kapasitas ruhaniah tersebut merupakan potensi yang bersifat inheren dalam diri manusia, sehingga secara alamiah manusia mampu mengenal Tuhannya.
Menurut Nasr, kemampuan berbicara  merupakan potensi primordial yang instrinsik di dalam diri manusia, sehingga manusia mampu mengekspresikan dimensi batiniah dan lahiriahnya melalui bicara. Nasr menyatakan demikian:
“Kemampuan berbicara adalah manifestasi yang paling langsung dari diri manusia. Manusia tidak dapat menyatakan dirinya lebih jelas dari cara lain, kecuali dengan berbicara. Karenanya berbicara adalah bentuk lahir dan batin manusia.”
Jadi, dengan berbicara, manusia mampu menampakkan totalitas batiniah dan lahiriahnya, baik dengan manusia maupun dengan Tuhannya. Oleh karena itu, dengan perantara bahasa, manusia  dapat mengetahui dan memahami maksud sebuah ungkapan yang dinyatakan oleh orang lain, karena bahasa merupakan representasi dari totalitas diri manusia. Dengan bahasa pula, manusia mampu berkomunikasi dengan Tuhannya secara personal, melalui ungkapan doa kepada Sang Khaliq; maupun komunikasi syar’iyyah melalui wahyu yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya.
Tepat sekali definisi yang diberikan oleh para ahli bahasa, bahwa bahasa adalah ungkapan komunikatif untuk menyampaikan tujuan:
"اللغة : الفاظ تتفاهم بها الجماعات الانسانية ويعبرون بها عن اغراضهم"
“Bahasa adalah ujaran-ujaran yang digunakan oleh sekelompok manusia untuk mengungkapkan suatu tujuan.”
Secara formal, definisi ini memberi pengertian bahwa bahasa merupakan ujaran atau simbol suatu ungkapan. Sedang secara material, bahasa merupakan representasi suatu maksud tertentu. Oleh karena itu, secara linguistik, simbol dan makna dari sebuah bahasa tidak dapat dipisahkan. Ia menyatu dalam sebuah kesatuan yang organik, meskipun bisa dibedakan. 
Sebagai representasi batiniah, ungkapan makna dan tujuan, manusia menggunakan bahasa sebagai simbol, sehingga dapat berkomunikasi dengan sesamanya dan saling memahami sebuah maksud dan tujuan yang ingin diungkapkan.
Seperti yang dikatakan oleh Nasr, manusia memiliki kemampuan primordial yang instirinsik di dalam dirinya, untuk mengungkapkan maksud hati, keinginan nafsu dan apa yang difikirkaan lewat bahasa. 
Dari mana manusia memperoleh bahasa? Dalam psikolinguistik, ada 2 (dua) madzhab Teori Perolehan Bahasa, yaitu: 1). Aliran Nativisme; 2). Aliran Konstrukstivisme. 
Aliran Nativisme, tokoh terkenal yang menganut aliran ini antara lain Chomsky. Aliran ini berpendapat, bahwa bahasa berasal dan berkembang dari struktur nurani manusia itu sendiri (inner structure).
Sedang Aliran Konstrukstivisme, antara lain dianut oleh Pieget. Aliran ini berpendapat, bahwa bahasa berasal dari hasil interaksi antara potensi genetik dan faktor lingkungan.
Dalam khazanah filologi Islam, teori perolehan  bahasa ini disebut dengan istilah nasy’ah al-lughah. Para filolog muslim terbagi dalam 3 (tiga) madzhab pemikiran, yaitu: 
1). Madzhab Tauqifi, madzhab ini berpendapat bahwa kemampuan berbahasa manusia berasal dari wahyu atau ilham (al-tauqifi) dari Allah; 
2). Madzhab al-Isthilah wa al-Wadli’ah, madzhab ini berpendapat bahwa bahasa berasal dari bentukan (al-wadli’ah) hayalan manusia sebagai respon atau persepsi atas sebuah kejadian tertentu, baik fisik maupun psikis, di mana respon tersebut kemudian diformulasikan dalam sebuah simbol bahasa atau dalam formulasi nama tertentu. Istilah, nama atau simbol tersebut kemudian tersebar di kalangan yang lain sehingga terjadi kesepakatan untuk menggunakannya sebagai simbol atas sesuatu tersebut.
3). Madzhab al-Muhakah wa al-Taqlid, madzhab ini berpendapat bahwa bahasa tercipta dan berasal dari peniruan (al-muhakah) terhadap alam sekitar, seperti bunyi air, suara hewan, desir angin, deburan ombak dan lain sebagainya.
Menurut Madzhab Tauqifi, kemampuan berbahasa manusia berasal dari wahyu atau ilham (al-tauqifi) yang diberikan langsung oleh Allah. Bahasa menurut aliran ini, merupakan kemampuan alamiah manusia, tanpa membedakan manusia manapun, karena secara primordial setiap manusia memiliki kemampuan itu. Di mana bahasa tercipta secara intuitif di dalam jiwanya. Aliran ini mendasarkan pada firman Allah:
“Dan Allah mengajarkan seluruh ‘nama-nama’ kepada Adam; setelah itu dia pertunjukkan kepada para Malaikat. Adam kemudia berkata, “Sebutkan semua ‘nama-nama’ itu jika kamu memang termasuk orang-orang yang membenarkan!”

Para mufassir klasik seperti al-Qurthubi berpendapat, bahwa kata  ‘allama dalam ayat tersebut memiliki arti ‘arrafa, yaitu memberi pengetahuan. Maksudnya, Allah lah yang menganugerahkan pengetahuan kepada manusia dengan jalan ilham.  Sedang Ibn Khuwaiz Mandad berpendapat, QS. Al-Baqarah [2]: 31 merupakan dasar argumen bahwa bahasa manusia diperoleh secara tauqifi, yaitu berasal dari ilham atau wahyu Allah. Hal yang sama juga dikemukakan oleh al-Juba’i, al-‘Asy’ari dan al-Ka’bi, bahwa bahasa yang diperoleh oleh manusia adalah secara tauqifi. Mufassir modern seperti Sayyid Quthb juga menyatakan hal yang sama, QS. Al-Baqarah [2]: 31, memberikan pengertian bahwa manusia mempunyai al-qudrah ‘ala al-ramz, kemampuan untuk merumuskan dan memformulasikan al-asma’ dengan kata-kata.
Ada beberapa hal menarik dari tafsiran peristiwa pengajaran Adam untuk mengetahui al-asma’ di atas: 1). Bahwa kemampuan manusia untuk berbahasa, merupakan potensi alamiah manusia. Ia adalah kemampuan fithriah yang berasal dari ilham atau wahyu Tuhan yang diberikan kepada manusia; 2). Bahasa merupakan ekspresi simbolik dari sebuah al-asma’, bahasa merupakan simbol dari makna; 3). Adanya dunia luar di luar bahasa itu sendiri. Karena itu, ada 2 (dua) unsur fundamental dalam masalah bahasa yaitu: 1). Bahasa sebagai simbol (al-ramz); 2). Realitas (makna), sebagai sesuatu yang diwakili oleh bahasa. 
Maka logis bila bahasa didefinisikan sebagai ujaran untuk mengungkapkan suatu maksud. Sehingga dengan bahasa, manusia dapat berkomunikasi dengan lainnya, dan dapat saling memahami maksud yang dikehendaki.
Hubungannya dengan bahasa al-Qur’an yang menggunakan bahasa Arab, maka al-Qur’an harus dipandang sebagai: 1). “Pesan” Allah yang disampaikan kepada manusia; 2). “Simbol” atau “wadah” pesan Allah yang menggunakan media bahasa Arab.
Mengapa al-Qur’an menggunakan bahasa al-Qur’an? Jawabaannya: Karena al-Qur’an diturunkan di tanah Arab yang yang masyarakatnya menggunakan bahasa pengantarnya bahasa Arab.  Pesan-pesan, ajaran moral, etika, nilai, hukum dan lainnya yang ada di dalam al-Qur’an, harus berbahasa Arab, agar komunikatif, dapat difahami oleh orang Arab yang berbahasa Arab. Ini sebagaimana firman Allah:
“Tidaklah kami mengutus seorang rasul, kecuali menggunakan bahasa kaumnya, agar dapat memberi penjelasan kepada mereka. Allah menyesatkan orang yang menghendakinya, dan memberi petunjuk kepada orang yang menghendakinya. Dia Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.”
“Sungguh Kami menurunkan al-Qur’an dengan menggunakan bahasa Arab, adalah agar kalian berfikir” 
“Sungguh Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab, agar kalian berfikir.”

Firman Allah di atas, memperjelas fungsi bahasa sebagai media penyampai pesan. Bahasa bukan hanya sekedar ujaran vokal dan konsonan. Bahasa mengandung muatan-muatan nilai yang ingin disampaikan oleh sang pemberi pesan. Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab sebagai bahasanya, tentu, bertujuan agar orang Arab yang berbicara menggunakan bahasa Arab, dapat menangkap pesan yang disampaikan Allah melalui Nabi Muhammad, agar komunikatif dan terhindar dari miskonsepsi dari pesan wahyu yang disampaikan Allah.
Secara maknawi, penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa kitab suci al-Qur’an, berarti bahasa Arab al-Qur’an, merupakan “wadah” pesan spiritual Allah, karena al-Qur’an merupakan media penyampai pesan Tuhan kepada hamba-Nya. Sebagai bahasa wahyu, al-Qur’an merupakan kalam Tuhan. Al-Qur’an merupakan “ekspresi” dari kehendak yang ingin disampaikan Allah. Al-Qur’an digunakan sebagai penyampai pesan dan tujuan (al-aghradl) yang dinginkan Allah. 
Menurut Toshiko Izutsu, islamolog berkebangsaan Jepang, ada 2 (dua) media “ekspresi” pesan yang digunakan Allah untuk berkomunikasi dengan manusia: 1). “Ayat kauniyah”; 2). Wahyu. Kedua-duanya di dalam al-Qur’an, disebut sebagai “ayat”. 
Pertama, ayat Allah yang berbentuk kauniyah (ciptaan, alam) tidak berbentuk verbal dan non linguistik. Allah sering mengirim “tanda” (ayat) kepada manusia dalam bentuk kejadian biasa atau pun yang luar biasa. Kejadia biasa adalah peristiwa alamiah yang terjadi sehari-hari, namun di balik semua itu, ada i’tibar yang bisa diambil manfaat oleh manusia. Sedang peristiwa alam yang luar biasa adalah terjadinya musibah atau bencana alam, kekeringan, banjir, gunung meletus dan lainnya. Semua itu merupakan “tanda” yang disampaikan Allah dalam bentuk non linguistik, namun manusia dapat memahaminya. Karena menusia “membaca” dan “memahami” peristiwa tersebut sebagai “peringatan” Allah kepada manusia. Di sisi yang lain, Allah juga memberikan “ayat” kepada manusia dalam bentuk ujian “nikmat”, manusia pun memahaminya sebagai anugerah dan pemberian dariNya.
Penciptaan langit, bumi dan seisinya, pergantian siang dan malam; angin yang berhembus, dan fenomena alam lainnya, merupakan “tanda” kebesaran Allah bagi orang yang berfikir (ulul albab). Alam, tidak dibaca hanya sebatas bongkahan materi, fenomena sederhana, aksidentil. Namun semuanya mengandung pelajaran, hikmah dan nilai yang mengarahkan manusia bahwa “Ada” yang mengatur di balik itu semua. Alam adalah “tanda”, “lambang” yang di baliknya “ada sesuatu”. Alam adalah “sandi”, tulisan rahasia yang sangat besar, “buku” besar yang seluruhnya ditulis dengan huruf sandi. Huruf-huruf sandi itu hanya bisa dibaca oleh orang yang memiliki ilmu pengetahuan.
Kedua, ayat Allah yang berbentuk wahyu. Wahyu adalah ayat Allah yang berbentuk verbal-linguistik. Wahyu merupakan bentuk komunikasi Allah dengan manusia yang berbentuk bahasa. Ayat Allah dalam bentuk wahyu menurt Izutsu, “lebih jelas”, karena wahyu berbentuk konseptual, yang batasan dan cakupannya pasti, terang dan jelas. Inilah yang membedakan wahyu dengan ayat non-verbal, karena wahyu “disajikan” secara analitis terperinci. Sedang “ayat kauniyah” berbentuk  global, tidak analitis.
Indah sekali pernyataan Izutsu bahwa, “Semua orang dapat mengakses simbol Ilahiah, bila memiliki kemampuan mental dan spiritual untuk menafsirkan berbagai simbol tersebut.
Ibn Taimiyah, Mujtahid kenamaan asal Syria, mengklasifikasikan ayat! Allah menjadi dua bentuk: 1) Ayat Makhluqah (الاية المخلوقة); 2). Ayat Matluwwah (الاية المتلوة). Menurut Ibn Taimiyah, alam semesta dan seisinya merupakan ayat Allah yang tercipta (makhluqah). Ia merupakan “petanda” yang digunakan Allah untuk memberi kesadaran dalam bentuk riel, nyata, terlihat, terindera, terasa dan seterusnya. Sedang wahyu Allah yang “dibacakan” (al-matluwwah) Malaikat jibril kepada Nabi Muhammad, berupa al-Qur’an masuk kategori bentuk kedua, yaitu Ayat Matluwwah.
Bagaimana Dzat yang Muthlaq berbicara dengan dzat yang nisbi? Padahal ada “kesenjangan” ontologis antara Sang Pencipta (al-Khaliq) dengan yang diciptakan (al-makhluq). Yang Satu wujud-Nya Supranatural, sedang yang satu wujudnya natural. Ada ketidak seimbangan ontologis, antara Pembicara (Tuhan) dengan pendengar (manusia).
Dalam teori linguistik, bahasa dapat difahami, manakala ada “kesetaraan” ontologis antara pembicara (khathib, mutakallim) dengan yang diajak bicara (mukhathab). Manusia berbicara dapat difahami oleh manusia lainnya yang diajak bicara, karena sama-sama manusia, kedudukanya setara. Manusia tidak dapat berbicara dengan binatang, kuda misalnya, karena tidak setara, “alam”-nya berbeda. “Dunia”-nya kuda tidak sama dengan “dunia” manusia. Kata Izutsu, paling banter, antara manusia dengan binatang hanya dapat melakukan komunikasi non-verbal melalui isyarat non-linguistik.
Kenapa bila tidak setara, bahasa tidak bisa difahami dan dapat menimbulkan miskomunikasi? menurut Izutsu, Karena: 1). Tidak adanya sistem isyarat yang sama di antara keduanya; 2). Perbedaan hakiki sifat ontologisnya. Konsep ini berlaku juga dalam komunikasi verbal antara Tuhan dengan manusia. Artinya, tidak mungkin perbedaan ontologis, antara Tuhan dengan manusia untuk melakukan komunikasi setara sehingga dapat saling memahami. Namun Kenyataanya, kata Izutsu, komunikasi itu terjadi. Allah berbicara (kalam) dengan manusia (dalam konteks ini, Nabi Muhammad) dengan bahasa Arab melalui perantara Jibril. Bahasa komunikasi itulah yang menurut Izutsu disebut dengan wahyu.
Wahyu memiliki tipikal khusus, lebih dari sekedar komunikasi biasa. Sebagai pembanding, dalam komunikasi biasa, antar suku dalam satu negara saja, bisa tidak dimengerti oleh suku yang lain, karena mereka berbeda bahasa, walaupun dalam tingkat hubungan yang “setara”. Apalagi komunikasi ini terjadi dalam dalam ranah yang berbeda ontologisnya. Menurut Izutsu, keistimewaan wahyu, sebagai isyarat Ilahi tersebut, agar komunikatif adalah:
Wahyu, merupakan komunikasi dua “person”, bukan komunikasi tunggal. Misalnya ungkapan: “Saya makan ...”, Kata Izutsu, itu komunikasi tunggal, tidak melibatkan yang lain. Berbeda dengan pernyataan dalam kalimat, “Saya menyalahkan...” ada pihak lain yang dilibatkan. Wahyu, termasuk jenis komunikasi yang melibatkan pihak lain, yaitu Nabi atau Rasul.

Tidak harus bersifat verbal. Isyarat yang diberikan Allah sebagai “alat komunikasi”, tidak harus berbentuk verbal-linguistik, meskipun dapat berbentuk komunikasi verbal. Ini mirip dengan apa yang difirmankan Allah:
“Tidaklah  Allah ‘berbicara’ kepada manusia kecuali dengan melalui perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirim utusan, lalu Dia mengirim wahyu yang Dia kehendaki. Sungguh Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”

Ada hal-hal yang bersifat misterius, rahasia dan pribadi. Komunikasi wahyu, bersifat esoterik (hanya diketahui oleh kalangan terbatas), sangat pribadi, karena tidak semua orang mengalami dan memahaminya.
Konsep ini, mirip seperti yang pernah dinyatakan Abduh dalam bukunya, Risalah al-Tauhid. Abduh menyatakan bahwa wahyu merupakan isyarat yang sangat misterius, rahasia sekali (khafiy) yang diyakini oleh para Nabi atau Rasul sebagai pemberitahuan dari Allah sebagai petunjuk kebenaran, yang harus disampaikan untuk dirinya sendiri dan masyarakat. Kata Syaikh Muhammad Abduh sebagai berikut:
“Yang dikatakan wahyu adalah pengetahuan yang didapat seseorang pada dirinya sendiri dengan keyakinan penuh, bahwa pengetahuan tersebut datang dari Allah, baik melalui perantara maupun tidak melalui perantara. Salah satunya adalah melalui perantara suara yang dapat didengar oleh telinga atau tanpa suara sama sekali ...”

0 komentar:

Posting Komentar