Jumat, 24 Agustus 2018

Bahasa, Wahyu dan Fithrah (bagian kedua)

oleh: Bukhori At-Tunisi
Alumni Ma’ahad al-Raudlatul Ilmiyah, Kertosono;
dan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta


Harianmerdekapost.com Bagaimana proses komunikasi yang berbeda ontologis ini bisa komunikatif dan difahami dengan benar? Mengutip ulama’ kenamaan, al-Kirmani, Izutsu menyatakan, Proses itu terjadi dengan cara: (1). Penerima wahyu (pendengar), bertransformasi secara personal di bawah pengaruh Tuhan (Pemberi wahyu); (2). Pemberi Wahyu, “turun” dengan menggunakan “attribut” penerima wahyu (nabi atau rasul).
Proses yang pertama, menurut Izutsu, terjadi ‘denaturalisasi” diri Nabi Muhammad saw., yang berada di luar kekuasaannya. Dengan mengutip Hadits yang menceritakan tentang proses turunnya wahyu dalam bentuk suara lonceng. Menurut Aisyah binti Abu Bakar, isteri Nabi, wahyu dalam bentuk ini, sangat memberatkan Nabi, sehingga Nabi merasa “sakit” dan “tersiksa”. Aisyah, Ummul Mu’minin bercerita, bahwa Nabi Muhammad saat menerima wahyu dalam cuaca yang sangat dingin, keluar butiran-butiran keringat dari wajahnya; bahkan Nabi terkadang terdengar suara rintihan yang keras bahkan hingga pingsan. Ini mengindikasikan betapa beratnya Nabi Muhammad saat menerima wahyu dari Allah.
Begitu agung  dan berat  wahyu yang diterima Nabi, sehingga Allah sendiri menyatakan bahwa Nabi Muhammad akan menerima “firman yang sangat berat” (qaulan tsaqilan) dari Allah SwT:

“Sungguh, Kami akan menurunkan kepadamu wahyu (qaulan) yang sangat berat.”
Karena kemampuannya dapat berkomunikasi dengan dunia “Supranatural", ditambah dengan adanya ciri-ciri instrinsik kualifikasi seorang penyair Arab, dengan keluarnya kalimat-kalimat indah yang keluar dari lisan Muhammad. Orang yang belum mau move on (berubah, berhijrah) menganggapnya sebagai penyair. Mengapa? (1). Dalam tradisi Jahiliyah, penyair adalah orang yang memiliki kemampuan mengetahui hal-hal yang supranatural, yang gaib, yang tidak biasa diindera. Ini diambil makna kata dasar syair itu sendiri yang bermakna: memiliki pengetahuan tentang ... maksudnya, para penyair, disebut penyair, karena mereka memiliki kemampuan bisa berkomunikasi dengan “dunia” supranatural.
(2). Penyair dalam tradisi Jahiliyah, memperoleh (istafad) pengetahuan supranatural tersebut karena berhubungan dengan wujud supranatural yang mereka sebut Jinn. Kemampuan mengeluarkan syair-syair, mantra dan lainnya, bukan dengan pengamatan, rasionalisasi dan iktisab biasa, tidak. Namun diperoleh dari bisikan Jin. Jin ini berfungsi sebagai “teman akrab” (khalil)  dan sekaligus  khadam-nya bila diperlukan.
Jin inilah nanti yang berfungsi sebagi pengirim dan yang menurunkan ilham kepada penyair, sehingga dia mampu untuk mengeluarkan kalimat-kalimat indah atau mantra-mantra tertentu yang digunakan untuk kepentingan tertentu. Dalam kejadian tertentu, si penyair tidak mampu mengeluarkan syair atau mantranya, karena khadamnya belum membisikkan ilham kepada si penyair. Dia berkilah, bahwa bukan karena dia tidak bisa berkata-kata indah, namun karena tidak dapat informasi dari sang Jin. Itulah konsep syair dan jin, dengan peran dan fungsi  masing-masing. 
Menghinakah orang Jahiliyah pada Muhammad dengan menyebutnya sebagai penyair? Tidak. Justru menempatkan pada posisi istimewa, karena kedudukan sosial penyair di dalam sistem sosial Arab Jahiliyah ada pada strata atas. Penyair adalah “aset” suku atau kabilah. Ia juga sebagai pemimpin (qaid) suku dan pemberi petunjuk (irsyad) dalam perjalanan dan peperangan. Oleh sebaba itu, dalam tradisi Jahiliyah, pesyair punya kedudukan terhormat, karena (1). kemampuan spiritualnya yang mampu berkomunikasi dengaan “dunia lain”, alam spiritual, supranatural. (2). Karena penyair termasuk kelompok aristokrat, terpelajar. Zaman Jahiliyah, orang yang bisa membaca dan menulis, bisa dihitung jari, sehingga orang yang melek huruf, terpelajar, sangat terhormat posisinya.
Yang mereka tolak adalah isi dari al-Qur’an yang mereka anggap sebagai syair itu. Kalau dari aspek keindahan, kefashahan, kedalaman, ketertataan interfal nadanya, semua orang Arab Jahiliyah mengakuinya: al-Qur’an sangat luar biasa, menakjubkan, tiada tandingannya. Bahkan orang sekelas Abu Jahal, dan Rabiah, penentang kelas wahid dakwah Nabi Muhammad, diam-diam ingin mengetahui dan mendengarkan bacaan al-Qur’an yang dilantungkan al-Qur’an.
Begitu juga, karena al-Qur’an sering berbicara “Masa  depan” (al-Akhirah), orang Jahiliyah pun menyebut Muhammad sebagai kahin (dukung, tukang ramal, tukang bede’). 
Jadi, begitulah tranfer informasi (ilham) pada zaman Jahiliyah, banyak diperankan oleh para penyair, kahin (dukung, tukang ramal), ‘arraf (orang “pinter”) melalui “bantuan” jin yang berfungsi sebagai khadamnya. Namun semua itu adalah persepsi, keyakinan dan budaya orang Arab. Realitasnya apakah seperti itu, tentu sebagai muslim, ukuran kebenarannya harus merujuk kepada al-Qur’an dan al-Sunnah al-maqbulah, bukan dengan persepsi dan keyakinan dan tradisi Arab Jahiliyah.
Wahyu adalah komunikasi spiritual, karena ia turun dari Sang Pencipta, Yang Maha Ghaib. Prosesnya yang non alamiah, tidak biasa, bahasa al Qur’an, lebih dari sekedar hanya sebagai alat komunikasi yang menggunakan bahasa Arab, namun al-Qur’an yang menggunakan bahasa Arab, erat kaitannya dengan nilai-nilai religius dan spiritual.
Berbeda dengan konsepsi orang Jahiliyah tentang wahyu, bagi Abduh, para nabi dan rasul, adalah manusia pilihan, karena kesucian ruhani mereka sudah mencapai derajat tertinggi, peristiwa wahyu adalah alamiah saja dan wajar. Para nabi dan rasul bila mereka menerima nur Ilahi berupa wahyu, ma’qul al-ma’na saja, karena mereka makhluk istimewa yang dapat menyimpan rahasia dengan kuat, ruhani mereka sangat kuat sekali, yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Di mana amanah itu bila diberikan kepada orang yang bukan pilihan, maka akan menjadi kacau-balau karena  akal-rasional mereka akan hilang karena keagungan dan ketinggian wahyu Ilahi yang sangat rahasia tersebut tidak kuat untuk dipikul oleh mereka.
Dalam teori Abduh ini, Tuhan tidak men-denaturalisasi “Diri-Nya” turun derajat ke alam manusia, tetapi nabi dan rasul sebagai manusia pilihan, naik “maqam”-nya ke alam “malakut” sehingga mengetahui hal-hal ghaib atas izin Allah.
Ajaran al-Qur’an yang bertalian erat dengan ajaran spiritual, moral, nilai, falsafah, hukum, kisah, sejarah, dan terutama ajaran yang mengajak kepada kesadaran transendental, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Mempelajarinya merupakan bagian dari ibadah spiritual, sehingga mempelajari al-Qur’an merupakan bentuk pengabdian, penghambaan kepada Sang Khaliq; 
Sedang dari sisi kemanusian (insaniah), mempelajari al-Qur’an, mempelajari bahasa wahyu, merupakan pemenuhan kecenderungan alamiah manusia, di mana dengan fithrah manusia (QS. Al-Rum [30]:30) yang selalu condong dan rindu kepada kebenaran dan kebaikan. Dan al-Qur’an merupakan jalan yang memberikan arah petunjuk kepada kebenaran dan kebaikan. Karena itu, sangat memungkinkan adanya “mutualisme simbiosis” antara kalam Tuhan yang selalu mengajak kepada nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan ketuhanan, dengan natur (fithrah) manusia yang selalu rindu kepada nilai-nilai transendental, sehingga natur  manusia dan kalam Tuhan selau terjaga dengan adanya mutualisme tersebut.
Dengan tabiat alamiahnya yang cenderung kepada nilai-nilai spiritual dan transendental, manusia senantiasa memerlukan cahaya bimbingan untuk menunjukkan jalan yang terang dan benar. Di sinilah manusia membutuhkan Tuhan untuk memberikan cahaya ke dalam hatinya. Cahaya ini, salah satunya adalah al-Qur’an.
Dalam al-Qur’an, Allah sendiri disebut sebagai Nur yang memberikan cahaya kepada ciptaan-Nya. Yang lain tidak akan bisa bercahaya bila tidak diberi cahaya oleh Sang Maha Cahaya. Yang lain hanya mendapat “pancaran” (faidl) dari Cahaya Allah. Sebagaimana firman Allah:
 “Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti misykat yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu ada di dalam kaca. Kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon Zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak di barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah memberikan petunjuk dengan cahaya-Nya kepada orang yang menghendaki. Allah memberikan tamsil-tamsil kepada manusia. Dan Allah Maha menghetahui segala sesuatu.”
Ada 3 (tiga) hal menarik dari ayat di atas, yaitu: 1). Allah, disebut sebagai Nur; 2). Nur berfungsi memberikan cahaya; 3). Allah memberikan nur (cahaya) kepada orang yang menghendakinya. Allah sebagai Nur Mutlak, merupakan sumber dari segala sumber cahaya, karena itu, cahaya-Nya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, ia menembus segala ruang dan gerak waktu, termasuk memberi cahaya kepada hati manusia. Namun di dalam ayat tersebut Allah memberikan catatan bahwa Allah memberikan cahaya kepada orang yang Dia kehendaki, yaitu orang yang menginginkan cahaya-Nya. Untuk memahami-Nya dan mengerti kalam-Nya, manusia perlu kepada cahaya Tuhan agar segala hijab yang menutupi akal dan hati nuraninya terkuak (mukasysyafah), sehingga tidak ada dinding yang menghalanginya.
Al-Ghazali dalam Misykat al-Anwar, memberikan gambaran tentang ayat cahaya ini demikian:
“Cahaya Mutlak adalah sember terakhir. Ia adalah Cahaya  di dalam dan oleh Diri-Nya, bukan cahaya yang dinyalakan dari cahaya yang lain. Kata ‘cahaya’ seperti  yang dipakai untuk yang lain selain Cahaya yang utama ini, sepenuhnya hanyalah metafora semata, majas. Tetapi cahaya-cahaya metaforis ini mengandung berbagai macam gradasi atau perubahan secara berangsur-angsur. ... Tuhan Yang Maha Luhur ialah satu-satunya hakikat, ... Dia satu-satunya Cahaya.”
Cahaya yang hakiki adalah cahaya yang bersumber dari cahaya Tuhan. Apabila manusia talah mendapat cahaya ini, kata al-Ghazali, semua wujud akan terungkap, termasuk obyek-obyek indra dan imajinasi. Kemampuan ini hanya dimiliki oleh para nabi dan sebagian orang shalih.  Namun terkuaknya sesuatu yang masih terhijabi, hanya sebatas ketentuan-ketentuan syariah. Apabila telah melampaui batas dari ketentuan syariah, maka itu bagian dari syetan, kata Ibn Taimiyah.
Dalam ayat yang lain, Allah menyebut Rasul yang diutusnya, dan kitab suci yang dibawanya, dengan sebutan nur. Sebagaimana ayatdi bawah ini:
 “Wahai Ahli Kitab, sungguh telah datang Utusan kami kepadamu, yang akan menjelaskan banyak hal dari Kitab [Allah] yang dulunya kamu sembunyikan dan yang banyak kamu biarkan. Sungguh telah datang kepadamu ‘cahaya’ dan Kitab yang jelas dari Allah.” 
Pada ayat di atas, rasul disebut dengan nur, cahaya, yang berfunsi memberikan cahaya petunjuk kepada manusia. Begitu juga, Kitab al-Qur’an juga disebut sebagai nur, yang berfungsi memberikan penerangan kepada hati manusia agar berada dalam jalan kebenaran.
Dalam ayat berikut, kitab al-Qur’an disebut dengan nur. Seperti dalam firman Allah berikut:
 “Wahai manusia, sunguh telah datang kepadamu bukti dari Tuhanmu. Dan Kami juga telah menurunkan kepadamu ‘cahaya’ (nur) yang nyata”
Dalam 2 (dua) ayat berikut, kata nur juga dinisbahkan kepada al-Qur’an.
 “... Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakan, dan menolongnya, serta mengikuti ‘cahaya’ (al-nur) yang diturunkan bersamanya. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
 “Maka berimanlah kamu kepada Allah, dan kepada rasul-Nya, serta ‘cahaya’ (cahaya) yang telah Kami turunkan...”
Ayat di atas menjelaskan bahwa al-Qur’an adalah nur yang diturunkan (unzila). Konsep ini mirip dengan apa yang dinyatakan oleh Ibn Taimiyah bahwa “wahyu Allah” merupakan fithrah yang diturunkan (fithrah al-munazzalah) kepada rasul Allah. 
Apabila al-Qur’an disebut sebagai nur, maka fungsinya adalah memberikan cahaya, penerangan kepada manusia menuju jalan yang benar, jalan yang lurus dan mengeluarkan dari jalan yang “gelap” yang menyesatkan (QS. Ibrahim [14]: 1; QS. Al-Hadid [57]: 9).
Di atas, telah dijelaskan bahwa Tuhan adalah Cahaya Mutlak. Dia adalah sumber dari segala cahaya, di mana tidak akan ada cahaya kecuali jika ada Cahaya Yang Mutlak. Begitu juga al-Qur’an, ia juga adalah cahaya (nur) yang memberikan cahaya kepada manusia agar senantiasa berada dalam kebenaran dan jalan ketuhanan (sabilillah). Dengan demikian, keduanya ada dalam posisi hierarkhis. Tuhan adalah sumber dari segala cahaya, sedang al-Qur’an adalah “pancaran” cahaya_meminjam istilah Plato_dari Tuhan, yang secara ekwivalen, sama-sama berfungsi memberikan cahaya penerangan kepada manusia.
Al-Qur’an sebagai kalam Allah, ia merupakan firman Tuhan Yang Maha Esa, yang di dalamnya mengandung pesan, makna, nilai ilahiyah. Nur yang ada di dalam al-Qur’an, ada pada makna yang dikandung di dalam teks atau ayat al-Qur’an. Manusia apabila ingin mendapatkan cahaya yang ada di dalam al-Qur’an, maka harus memahami makna dan pesan yang terkandung di dalam teks atau ayat-ayat al-Qur’an. Sebaliknya, jika tidak memahami makna dan pesan yang ada di dalam al-Qur’an, maka tidak akan mendapatkan cahaya petunjuknya.
Makna lafazh yang ada di dalam al-Qur’an, menurut Thabathabai ada 2 (dua) macam makna, yaitu: 1). Makna lahiriah; 2). Makna Batiniah. Adanya 2 macam makna tersebut, disebabkan oleh perbedaan tingkat intelektual manusia, sehingga suatu makna, mungkin hanya relevan bagi tingkatan intelektual tertentu dan tidak relevan bagi tingkatan intelektual yang lain. Kata Thabathabai:
“…Kemampuan manusia untuk mengetahui hal-hal spiritual yang wilayahnya lebih luas daripada wilayah materi, berbeda dan bertingkat-tingkat. Sebagian ada yang sulit mengetahui hal-hal spiritual, dan sebagian ada yang dengan mudah dapat mengetahui hal-hal spiritual yang paling luas. Semakin sedikit ketertarikan manusia dengan materi dan pesonanya, semakin sedikit ketertarikan manusia kepada materi, semakin bertambah pengetahuannya tentang hal-hal spiritual. Hal ini berarti bahwa setiap manusia, berdasarkan fithrahnya,memiliki kemampuan untuk  mengetahui ini.”
Kemampuan untuk memahami makna dan pesan spiritual ayat al-Qur’an, sebanding dengan tingkat capaian spiritualitas seseorang. Menurut Thabathabai, manusia mampu untuk mengetahui makna tersebut, karena secara fithrah, manusia mempunyai kapasitas spiritual. Karena itu, menurut dia, seseorang yang menyampaikan suatu makna dari ayat al-Qur’an, harus sesuai dengan tingkat intelektual seseorang.
 Sedang mengenai tingkatan makna, Imam Ja’far al-Shadiq, salah seorang Imam Syiah, mengklasifikasikan dalam 4 tingkatan sebagai berikut:
“1. Petunjuk harafiah (‘ibarah), yang ditujukan bagi orang awam.
2. Petunjuk yang berupa perbandingan (isyarah), yang ditujukan bagi orang cerdik pandai (khawash).
3. Arti yang tersembunyi, yang berhubungan dengan dunia luar indra (lathaif), yang ditujukan bagi para sahabat Tuhan (auliya’).
4. Kebenaran spiritual (haqaif), yang diperuntukkan bagi para nabi.” 

Bila benar adanya makna batiniah seperti yang dikatakan oleh Thabathabai, dan klasifikasi yang diberikan oleh Imam Ja’far Shadiq, maka makna yang lebih dalam akan difahami oleh orang yang maqam-nya lebih tinggi daripada maqam orang awam. Karena itu Allah memberi peluang bagi orang yang intelektualnya tinggi untuk memahami makna batin, makna spiritual yang terdapat dalam al-Qur’an. Kata Allah:
 “Dialah yang telah menurunkan Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Sebagian ayat-ayatnya ada yang ‘muhkamat’, yaitu pokok-pokok isi al-Kitab; sedang ayat-ayat yang lain adalah ‘mutasyabihat’. Maka adapun orang yang di dalam hatinya terdapat kecondongan kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian dari ayat-ayat yang mutasyabihat, dengan tujuan mencari fitnah dan mencari-cari ta’wilnya. Dan tidak akan mengetahui ta’wilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka mengatakan, “Kami percaya, bahwa semuanya adalah dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak akan mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang memiliki akal.”
Menurut ayat di atas, orang yang berilmu pengetahuan (al-rasikhun) akan mampu memahami makna ayat yang masuk dalam katagori ayat mutasyabihat. Abdullah Yusuf Ali misalnya berpendapat bahwa seseorang yang telah mencapai tingkat intelektual dan spiritual yang memadai, akan mampu memahami makna ayat-ayat Allah yang tergolong ayat mutasyabihat. Kata Yusuf Ali:
“… Secara umum, hal ini dapat dibagi ke dalam dua bagian yang tak terpisahkan, tetapi saling mengisi yakni (1) inti atau dasar kitab, harafiahnya “induk kitab”, (2) bagian yang bersifat kiasan atau tamsil. Yang terakhir ini menarik sekali untuk kita bicarakan, sekaligus melatih kemampuan kita dalam mencari maknanya yang lebih dalam. Tetapi ini menyentuh masalah-masalah batin yang begitu dalam sehingga bahasa manusia sudah tidak cukup mengatakannya; dan meskipun orang arif, mungkin dapat menangkapnya sebagian, namun orang tidak seharusnya menjadi dogmatik, sebab yang mengetahui arti yang sebenarnya hanyalah Allah semata …. 
Dalam  beberapa hal secara keseluruhan, Qur’an mempunyai “makna yang sudah pasti” dan juga “makna kiasan”. Pembagian itu bukan berada di antara ayat-ayat, tetapi di antara makna yang terdapat di dalamnya. Setiap ayat tidak lain adalah suatu tanda atau simbol; apa yang dilambangkan itu sesuatu yang langsung dapat dipakai dan abadi, bebas dari ruang dan waktu,-- yakni bentuk-bentuk pikiran—dalam filsafat Plato. Orang yang arif akan mengerti bahwa di dalam al-Qur’an ada “inti” dan ada “ilustrasi” yang dikenakan pada inti itu. Kita harus sebaik mungkin memahaminya.”
Menurur Yusuf Ali, pengklasifikasian makna ke dalam muhkam dan mutasyabihat, bukan dalam klasifikasi nominal, tetapi dalam klasifikasi hierarkhi makna. Dengan adanya makna kiasan, makna batin atau makna spiritual suatu ayat, Tuhan “menantang” kita untuk menggali maknanya yang lebih dalam. Orang “arif” akan mampu menangkap makna spiritual tersebut walaupun tidak seluruhnya. Dengan dasar paradigma, bahwa manusia adalah makhluk nisbi, yang banyak mempunyai kekurangan, dan hanya Tuhan yang Mutlak yang di sisi-Nya terkumpul segala kesempurnaan.
Meskipun mengakomodasi pendapat bahwa manusia mampu memahami makna spiritual tersebut, namun Yusuf Ali menolak adanya dogmatisme, yaitu adanya orang yang mengklaim bahwa dirinya yang paling otoritatif dalam memberikan ta’wil atas ayat mutasyabihat.
Jika Yusuf Ali bersikap moderat dalam masalah kemampuan member ta’wil atas ayat mutasyabihat; Ibn Rusyd sikapnya sangat tegas, bahwa yang mengetahui ta’wil ayat mutasyabihat adalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya (al-rasikhun fi al-‘ilm).
Orang yang masuk dalam klasifikasi al-rasikhun (orang yang mendalam ilmunya) adalah orang yang berilmu, beriman kepada Allah dan percaya kepada wahyu-Nya. Karena hanya kepada orang yang memenuhi kriteria tersebut, cahaya (nur), petunjuk (huda) dan isyarah yang diturunkan Tuhan dapat masuk ke dalam qalbunya (QS. Al-Baqarah [2] : 5, 16, 275; QS. Al-Nisa’ [4]: 174). Sedang orang yang ingkar, kufur, munafik, zhalim dan fasiq, tidak akan dapat menerima hidayah dan cahaya al-Qur’an, karena qalb (hati) mereka terkunci dan diliputi kegelapan (al-zhulumat) yang disebabkan oleh dosa (dzanb) mereka (QS. Al-Baqarah [2] :17, 275; al-‘An’am [6]: 122; QS. Alu ‘Imran [ 3]: 86; al-Maidah [ 5]: 54, 70).
Dengan demikian, hanya hati yang bersih saja yanag dapat menangkap dan memahami makna, cahaya, petunjuk dan isyarat dari ayat-ayat Allah. Ini sebagaimana firman Allah:
لا يمسه الا المطهرون
 “Tidak akan dapat menyentuh [makna] al-Qur’an, selain mereka yang bersih [hatinya].”(Sudono Syueb/ed)

0 komentar:

Posting Komentar